Awalnya saya memperoleh perumpamaan ini dari seorang mudarris Ma’had Umar bin Khattab Yogyakarta, Leo “Ali” Agustian hafizhahullah. Dari beliaulah saya mempelajari kitab Mukhtarot Ustadz ‘Aunur Rofiq bin Ghufron. Belakangan saya menemukan teks aslinya dalam Syarh Al Ajurrumiyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam pengantar kitab tersebut. Motivation statement inilah yang kemudian menjadi pencegah futur dari belajar nahwu yang, konon membosankan dan sulit dicerna.
Sebelumnya, Asy Syaikh menjelaskan bahwa ilmu nahwu merupakan ilmu wasilah, ilmu yang menjadi perantara menuju dua hal penting :
- Pemahaman terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang hanya bisa didapat melalui pemahaman terhadap ilmu nahwu.
- Menegakkan (iqamah) bahasa Arab, yang dengan bahasa tersebut Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.
Oleh karena itulah mempelajari ilmu nahwu merupakan hal yang sangat penting.
Sementara itu penulis kitab legendaris yang telah naik cetak 30 kali, Al Muyassar fi ‘Ilmi Nahwi, Ustadz Aceng Zakaria menyebutkan dalam pengantar beliau,
“Sesungguhnya menjadi kebutuhan yang sangat mendesak (dharuriyat jiddan) bagi seorang muslim untuk mengenal kaidah-kaidah bahasa Arab, yang dengannya menjadi sebab untuk dapat memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Padahal sungguh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan keduanya, beramal dengannya, sementara tidak mungkin bagi kita untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan sempurna, kecuali setelah mengetahui kaidah-kaidah bahasa Arab.” (Muqaddimah Al Muyassar)
Syaikh ‘Utsaimin kemudian memotivasi untuk mempelajari bahasa Arab. Beliau berkata,
“(Mempelajari) ilmu nahwu pada awalnya sulit, akan tetapi menjadi mudah di akhirnya. Permisalannya seperti rumah yang terbuat dari bambu, dan pintunya terbuat dari besi. Maksudnya : sulit untuk dimasuki akan tetapi setelah masuk, segala sesuatunya menjadi mudah. Maka hendaklah setiap orang bersemangat untuk mulai mempelajari bahasa Arab, sampai ia berhasil menemukan kemudahan di dalamnya.
Tidak ada manfaatnya perkataan sebagian orang, ‘Sesungguhnya ilmu nahwu itu sulit’, sampai-sampai sebagian penuntut ilmu membayangkan bahwasanya tidaklah mungkin bagi mereka untuk mempelajarinya. Semua ini tidaklah benar, memang sulit pada awalnya, namun menjadi mudah pada akhirnya.” (Syarh Al Ajurrumiyah hal. 9-10 cet. Maktabah Ar Rusyd)
Semoga Allah memudahkan kita dalam mempelajari bahasa Arab!


barokallohu fiik
minta sharingnya donk
kira2 utk melatih baca kitab bagi pemula, buku panduan yag bagus apa ya selain durusullughoh yang terbitan madinah
lagi cari2 refrensi.. ada gak yah kitab berbahasa arab 2versi: yang 1 ada barisnya, yg 1 lagi gak ada
nb: jawab via japri aja syukron
Barokallohu fiik…
Silakan baca kisah seorang pemuda awam bahasa Arab yang belajar “tanpa guru” di: mediakeluargasakinah.wordpress.com