RSS

Terompah Bilal dan Persahabatan Ala Nabi

30 Okt

hands-come-togtherUstadz Aris Munandar, SS, M.Ag, merupakan ustadz yang telah ma’ruf di kalangan ikhwah salafiyyin. Keseharian beliau mengajar di Pondok Pesantren Taruna Al-Qur’an, dan membina sejumlah majelis ilmu di berbagai masjid di sekitar Kampus UGM. Spesialisasi beliau yang cukup kentara adalah dalam bidang fiqh, terbukti dari sejumlah majelis yang beliau adakan, seperti Kajian Kitab Bulughul Maram, Al-Wajiz fil Fiqh, Taisirul Allam Syarh Umdatul Ahkam, Al-Ilmam fii Ushuulil Ahkam, dan beberapa kajian lain seputar tema fiqh maupun ilmu ushul fiqh.

Diantara keistimewaan beliau dalam mengajar, adalah kemampuan beliau untuk mengetengahkan faidah-faidah hadits yang baru, asing dan belum pernah ditemui oleh peserta kajian. Sore hari kemarin, bertepatan dengan 30 Oktober 2009, selepas Ujian Manajemen konstruksi, saya berkesempatan untuk menghadiri kajian Al-Wajiz, sebuah kitab ringkasan dalam bidang fiqh. Diantara yang beliau jelaskan dalam masalah sholat, adalah waktu-waktu terlarangnya sholat, kecuali untuk sholat-sholat yang ada sebabnya, seperti Sholat Tahiyatul Masjid, termasuk  Sholat 2 rakaat setelah Wudhu. Beliau menjelaskan hadits berikut ini sebagai dalil Sholat 2 rakaat setelah Wudhu.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu, Bahwasanya Nabi shollallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Bilal selepas sholat subuh : “Ceritakan kepada saya satu amalan yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara sendal kamu berada di pintu surga”, Bilal berkata : “Saya tidak melakukan sesuatu apapun yang lebih baik melainkan saya tidak pernah bersuci dengan sempurna pada setiap saat, baik malam maupun siang hari kecuali saya selalu melakukan sholat sebanyak yang mampu saya kerjakan”. (HR. Al-Bukhari)

Tentu faidah yang langsung bisa kita tangkap adalah anjuran untuk melakukan sholat sunnah setelah wudhu’. Namun, Ustadz Aris Munandar hafizhahullah memberikan satu faidah yang cukup menarik di sini :

“Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna dalam semua hal. Diantaranya adalah dalam persahabatan. Beliau hafal sifat-sifat dari para shahabatnya dengan detil hingga pada masalah-masalah yang remeh sekalipun. Buktinya, beliau mampu mengenali suara sendal shahabatnya, Bilal, dan memastikan bahwa itu adalah benar suara sendal Bilal. Padahal Bilal sendiri adalah shahabat yang kedekatannya dengan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam tidak sedekat Anas bin Malik, yang menjadi pembantu Beliau, atau dengan shahabat-shahabat besar lainnya.

Maka faidah yang bisa kita ambil dari hadits ini, mencontohkan pada kita bagaimana seharusnya bersahabat. Bersahabat bukan berarti hanya sekedar bersalaman, saling menanyakan nama dan kemudian tidak pernah mengobrol lagi. Namun hendaknya kita berusaha menggali siapa sebenarnya shahabat kita. Asalnya dari kota mana, dia anak keberapa, apa kegemarannya, apa makanan favoritnya, apa saja hal-hal yang tidak ia senangi, dan berbagai detil lainnya. Jangan sampai kemudian kita telah bershahabat lama dengan seseorang, tapi tidak tahu bahwa ia ternyata orang Sumatera, tidak tahu bahwa ia ternyata tidak suka makanan pedas, dan sebagainya.”

Maka, bershahabatlah sebagaimana Nabi bershahabat!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 30, 2009 in Islam

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: