RSS

Internet = Tempat Sampah

02 Nov

internet-conceptSeorang ikhwan, suatu ketika memulai berlangganan paket internet sebuah operator seluler di kostnya. Dengan harga kisaran 1 jutaan, ia telah mendapatkan akses internet gratis unlimited selama setahun penuh plus modemnya. Ketika ia mulai pertama kalinya menggunakan internet, diucapkannya kata-kata yang membuat saya merenung : “Saya telah memasukkan tempat sampah ke dalam kamar kos”.

Di kesempatan lain, Ustadz Mahful Safaruddin, Lc, pengajar di Ma’had Al-Irsyad Tengaran Salatiga, ditanya seputar internet. Sebagai ustadz muda, alumni Timur Tengah pula, lazimnya adalah Ustadz yang melek teknologi dan akrab dengan internet. Namun, beliau mengaku tidak mengerti internet dan teknologi [padahal waktu itu beliau menggunakan laptop saat kajian] dan beliau pun mengungkapkan alasannya, “Saya terus terang takut dengan fitnahnya internet“.

Di kesempatan lain lagi, Ustadz Aris Munandar, SS pernah pula ditanya tentang hukum menggunakan internet. Beliau pun membawakan sebuah perkataan dari Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary hafizahullah, seorang ulama kenamaan yang baru saja kemarin mengunjungi Indonesia, “Barangsiapa yang berduaan dengan internet, maka yang ketiganya adalah syaithan

Hanya sekedar merenung, untuk pribadi diri saya dan pembaca sekalian, akan beberapa poin berikut ini :

  1. Mengapa internet disebut tempat sampah ? Telah kita ketahui bahwa internet digunakan oleh beragam manusia, beragam kepentingan, dan beragam tujuan. Netcraft melaporkan bahwa hingga Oktober 2009, tercatat 230.443.449 situs melaporkan diri sebagai pengguna Apache. Belum termasuk blog, dan situs tak terdaftar lainnya. Dari jutaan situs tersebut, 4,2 juta diantaranya tergolong situs porno. Disadari atau tidak, ketika membuka browser, Anda akan disuguhi berbagai pilihan. Oleh karenanya, teman saya membahasakan bahwa ketika kita mencari sesuap informasi yang baik, ibarat kita mencari sesuatu yang bisa dimakan dari tempat sampah.
  2. Saya juga mengetengahkan sikap seorang Ustadz terhadap fitnah internet. Ustadz Ari Wahyudi, dalam pelajaran Shohih Muslimnya pernah membawakan sebuah atsar salaf, “Jika engkau ingin mengetahui agama seseorang, lihatlah sikapnya ketika menghadapi fitnah”. Namun sebenarnya, hal lain yang ingin saya tekankan adalah, jika seorang Ustadz, yang ilmunya jelas jauh lebih dibandingkan kita saja, menghindari fitnah internet, mengapa lantas kita menceburkan diri ke dalamnya ?
  3. Perkataan yang dibawakan Syaikh Ali, menunjukkan pada kita akan pentingnya taqwa, terutama dalam menggunakan internet. Dan salah satu indikasi ketaqwaan seseorang, bukanlah dilihat dari sikapnya ketika bersama dengan teman-teman, atau masyarakat umum. Namun, dilihat ketika ia bersendirian. Di saat-saat seperti inilah, hanya muraqabah (perasaan dekat, diawasi oleh Allah) yang bisa menjaganya dari kemaksiatan dan dosa.

Semoga dengan ini, kita menjadi lebih bijak ketika menggunakan internet!

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada November 2, 2009 in Islam

 

Tag: , , , ,

3 responses to “Internet = Tempat Sampah

  1. aris st

    November 2, 2009 at 3:29 pm

    saya setuju dengan anda, memeng benar bahwa internet adalah tempat sampah gudang dari segala kemaksiatan. maka dari itu kita harus selalu muraqobah kpada ALLah agar kita terhindar dari kemaksiatan yang bersumber dari internet..😀

    yhougam: ini aris kontrakan cah2 bumen ya? ahlan wa sahlan akhiy.. jazakallah khair.. ^^

     
  2. herr

    November 4, 2009 at 2:23 am

    tempat sampah berarti di dalamnya sampah semua, namun kenyataannya ada sesuatu yang bisa kita ambil manfaat dari internet seperti kegiatan mencari bahan kuliah, mengambil faedah artikel islami, download software dll. memang itu semua tidak seberapa dengan mudharat yang ditimbulkannya. jadi internet ibarat pisau, ada dua sisi akibat yang bisa ditimbulkannya dan pakailah internet jika perlu. ok deh, keep posting..

    yhougam : kalau di tempat sampahnya MTI, biasanya barang yang dibuang nggak melulu yang busuk, bau, kotor, buktinya kadang masih ada satu dua yang ngambilin (kucing ding) hehe.. teringat perkataan Ustadz Aris : Suatu hal itu disifati dengan ghalibnya, atau bahasa saya, faktor dominannya, kalau di suatu tempat sampahnya 70% dan yang bukan sampah 30% maka tetap disifati dengan “tempat sampah”.. Begitu saya kira landasan berfikir kami.. ^^

    Oh iya, yang mengatakan pertama kali internet = tempat sampah anak sipil UGM lho, angkatan 05, antum tebak aja sendiri siapa.. ^^

     
  3. hadi

    Januari 13, 2011 at 2:35 pm

    Betul..betul,,,,,aku kadang jijik dengan internet..banyak pikiran kita jadi ngak karuan gara-gara lihat gambar/film yang berbau maksiat……jauhi..teman situs..yang maksiat.STOP MAKSIAT……………..STOP MAKSIAT…………………..ASTAGFIRULLAH

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: