RSS

Obrolan Ringan Seputar Ospek Sipil

10 Nov

20080830024313Ya, saya takut dengan ular. Saya takut dengan singa. Saya takut dengan harimau. Saya takut dengan ketinggian yang ekstrim. Saya takut dengan kalajengking. Kelabang. Tarantula. Phyton.

Tapi saya tidak pernah takut jika tidak ikut Ospek!

Ceritanya panjang.

Dulu, ketika SMA, kakak-kakak kelas kami alumni SKI (dan juga aktifis HT tentunya) sering berkunjung di tahun-tahun pertamanya kuliah. Mereka akan bercerita apa saja yang mereka rasakan, yang mereka lihat di kehidupan baru. Kehidupan yang jauh lebih bebas. Tanpa aturan-aturan formal di sekolah. Tanpa seragam. Tanpa jadwal yang monoton. Namun, cerita yang pertama kali mereka tuturkan tetap sama. Cerita kepahlawanan mereka dalam menentang Ospek.

Boleh dikata, menjadi suatu kebanggaan bagi seorang yang telah menempuh proses tarbiyah harokiyah di SMA untuk tidak mengikuti Ospek. Datang cerita dari kakak kelas di ITB yang memang benar-benar dikucilkan ketika tidak mengikuti Ospek. Bahkan ia tidak mendapat kelompok tugas beberapa kali karena harus dikucilkan. Yang dari ITS bercerita di hari Sabtu ketika ia seharusnya mengikuti Ospek, tapi malah mengisi pembinaan di SMA kami. Dari Brawijaya bercerita kalau rumahnya sampai didatangi senior-seniornya gara-gara hanya ia seorang yang tidak mengikuti Ospek.

Semua itu memupuk dan menantang nyali kami untuk tidak mengikuti Ospek pula jika nanti kuliah.

Selama pembinaan, materi-materi juga seringkali diisi dengan cerita-cerita seputar penyiksaan yang dialami syabab (sebutan untuk aktifis HT) di berbagai belahan dunia. Utamanya di Uzbekistan, di bawah rezim Presiden Islam Karimov yang nampaknya memang begitu ketakutan dengan partai yang satu ini. Diceritakan tentang direbusnya seorang syabab hidup-hidup. Disiksa di penjara bawah tanah yang dingin. Bahkan di situs resminya sempat dipajang pula mayat seorang syabab yang tewas dalam kondisi teramat mengenaskan. Sementara dari Indonesia, kami ditunjukkan dengan seorang syabab yang rambutnya putih padahal ia masih teramat muda. Konon, ia pernah disiksa ketika rezim Orba dengan setruman listrik hingga rambutnya seperti itu.

Kini, kami tentu faham bahwa cerita-cerita sadis itu tidak menunjukkan benarnya keyakinan, dan apa yang partai tersebut perjuangkan mati-matian. Namun, tiga tahun lamanya dicekoki dengan pembinaan seperti itu, membuat kami belajar satu hal penting. Jangan pernah takut dengan manusia. Takutlah hanya kepada Allah semata.

Hasilnya memang disayangkan, saya mengikuti Ospek Fakultas. Lebih karena singkatnya waktu (hanya tiga hari) dan memang bersifat edukatif menurut saya. Namun beberapa faktor berikut menghalangi saya untuk ikut berpartisipasi di Ospek Jurusan Sipil :

  1. Selama Ramadhan, kami diwajibkan melapor setiap pagi pukul 06.00 WIB meskipun tidak ada kuliah. Ketika itu saya sedang memulai belajar bahasa Arab setiap pagi dan tentunya mengisi waktu dengan ibadah di bulan Ramadhan jauh lebih utama.
  2. Ospek selama Sabtu-Minggu sore, dan ketika itu awal kegiatan Ma’had Ilmi.
  3. Makrab (Malam Keakraban) bertepatan dengan jadwal ta’lim di Masjid Al-Hasanah setiap Ahad pagi.

Jadi, tidak 100% saya tidak mengikuti Ospek dengan alasan menentang, sok berani, dan sebagainya. Hanya saja ada kendala teknis yang memang membuat saya berhalangan mengikutinya. Namun, lepas dari berbagai cerita seputar Makrab (maksud saya ritual minum “air suci”, yaitu air liur teman-teman satu tim), banyak memang indikasi adanya senioritas. Jika tua, kemudian merasa super dan harus dihormati. Hal ini akan menjadi perhatian khusus untuk bahan menulis artikel seputar senioritas. Mengingat referensi utama telah ada yaitu kitab “Masa’ilul Jahiliyyah” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Semoga Allah azza wa jalla mudahkan!

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada November 10, 2009 in Teknik Sipil UGM

 

Tag: , , , , ,

3 responses to “Obrolan Ringan Seputar Ospek Sipil

  1. analogGuy

    November 13, 2009 at 2:19 am

    saya juga dulu (2002) tidak ikut ospek sipil *berasa tua bgt* , walau kegiatannya jauh lebih ringan dari yg antum ceritakan di atas (ritual “air suci”…??? yuuuhghh)..

    Menurut saya ospek sipil sekarang terkesan over acting, sisi edukasinya sangat kurang, dan lebih menonjolkan senioritas dangkal. IMO,Senioritas yg positif itu kalau yang muda mneghormati yg tua dan yg tua juga menghargai yg muda.

    Nice post!

    yhougam : iya pak *kesan tua* ngobrol2 soal ospek memang banyak paradigma, setidaknya beginilah pandangan kami tentang ospek, kalau senioritas seperti itu, barangkali disebut senioritas hanya karena umur saja, tapi tidak dalam hal tolak ukur benar tidaknya suatu tindakan. Sementara banyak rekan2 kita, yang memaksakan dilakukannya suatu tindakan hanya gara2 lebih tua, lebih senior. Wallahu musta’an.

     
  2. abu utsman

    Desember 29, 2009 at 1:07 pm

    ************* (diedit oleh yhougam ^^) nggilani, sik mending nyekel tlethong….
    wong gendeng…..
    nang STAI sby, jare mas ali, ospek e diisi dauroh, sangar pek….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: