RSS

Nasihat Untuk Asisten (1) : Hinanya Seorang Asisten

13 Nov

teach-for-americaAda sebuah kisah nyata yang memang betul-betul terjadi di Teknik Sipil. Tapi itu dulu, waktu jaman bahuela, kira-kira tahun 80-an ketika Pak ATM (Dr. Ir. Agus Taufik Mulyana, MT.) masih muda. Waktu itu, konon yang namanya asisten dosen bagaikan raja-raja kecil yang punya hak prerogatif untuk meluluskan atau tidak meluluskan seorang mahasiswa. Jika ingin asistensi, harus membawa sesajen berupa ayam (hidup, utuh, satu ekor), buah-buahan, makanan, dan lain sebagainya untuk diberikan kepada sang asisten sebagai oleh-oleh. Jika tidak, alamat bakal mengulang di tahun berikutnya. Puluhan tahun berlalu dari cerita-cerita tadi, namun nampaknya masih saja ada bekas pengaruhnya di zaman sekarang. Sebuah konflik pribadi antara seorang mahasiswa dengan kakak kelasnya, kadang bisa menjadi konflik akademis di kancah perasistenan.

Seorang asisten, dilihat dari sisi lughoh dan istilah memang saling melengkapi. Dari sisi bahasa, ia bertugas untuk membantu (to assist). Namun, dari sisi istilah, pengertian asisten diperjelas menjadi seorang yang menjadi wakil seorang dosen dalam menjalankan tugas akademisnya, seperti mengoreksi tugas, memberi bimbingan kepada mahasiswa, meng-ACC tugas, bahkan mengajar di kelas. Dari definisi secara istilah ini, jelas bagi kita siapa pihak yang seharusnya dibantu oleh asisten, yaitu pihak dosen dan bukannya mahasiswa.

Namun, agaknya saya lebih condong bahwa disamping membantu dosen, seorang asisten juga selayaknya memberikan bantuan semaksimal mungkin pada mahasiswa. Memberikan bantuan sepenuhnya jika mahasiswa kesulitan dalam suatu hal. Memberikan rujukan referensi yang dapat membantu memecahkan persoalan. Membimbing, mendidik, baik dari segi akademis maupun perilaku. Dan berbagai gambaran ideal lainnya.

Hanya saja, semua itu tentunya masih dalam taraf ideal. Oleh karenanya, saya tulis risalah ini sebagai nasehat bagi diri saya pribadi dan segenap asisten, untuk menjauhi berbagai hal berikut ini yang dapat menyebabkan jatuhnya martabat seorang asisten. Sengaja saya tulis sedikit sarkastik, “hina”, yaitu ketika seorang asisten mulai menyalahgunakan wewenangnya dan mempergunakannya untuk berbagai hal yang “hina” berikut ini (diambil dari fakta di lapangan) :

  1. Untuk mengancam suatu pelanggaran di luar ranah akademis. Contoh kasusnya, dulu ketika terjadi Ospek Sipil, beberapa kakak angkatan mengancam mahasiswa yang tidak mengikuti Ospek dengan “larut tugas” (istilah untuk pengerjaan tugas yang melampaui deadline, atau tidak memenuhi persyaratan. Konsekuensinya, harus mengulang tugas tersebut di tahun berikutnya). Ospek sipil dan pengerjaan tugas, menurut saya, jelas dua persoalan yang berbeda dan tidak bisa dicampur adukkan. Sementara Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda, Yassiru walaa tu’assiru. Permudah dan jangan dipersulit. Sebuah anjuran emas untuk saling memudahkan urusan orang lain, dan bukannya mempersulit dengan alasan-alasan yang tidak rasional di atas.
  2. Untuk menindas. Contoh kasusnya, seorang mahasiswa sedang menjaga pre test suatu matakuliah, sebut saja mata kuliah A. Di tengah ujian, ia mendapati seorang mahasiswa tengah asyik mengerpek dan menyalin jawaban dari buku panduan praktikum. Kontan, ia melarangnya dan mengambil buku panduan praktikum. Belakangan, ia baru mengetahui bahwa mahasiswa yang ketahuan mengerpek adalah koordinator asisten untuk matakuliah B (yang belum diambilnya) dan mahasiswa tersebut (yang merasa malu karena dipergoki ngerpek) mengancam larut pengerjaan tugasnya di mata kuliah B kelak. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala jelas sekali melarang kezhaliman. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, Inni harromutu zhulma ala nafsii, faja’altuhu baynakum muharroma, falaa tazholamu. Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku mengharamkannya untuk kalian, maka janganlah kalian berlaku zhalim.
  3. Untuk mencari pasangan. Seringkali, ini terjadi ketika pemilihan kelompok dan siapa asisten yang berhak mengampu kelompok tersebut. Biasanya, ini dilakukan secara random. Namun, asisten yang nakal biasanya “memesan” kelompok tertentu dengan maksud untuk mengenal lebih dekat si Fulanah, atau si Fulan. Yang lain lagi, memesan suatu kelompok yang di dalamnya terdapat “pasangan haramnya” (bukan mahram dan belum nikah to?). Naudzubillah. Allah jelas-jelas melarang aktifitas antara pria dan wanita sebelum mereka melalui jenjang pernikahan. Karena setiap aktifitas, baik itu saling memandang, saling menyentuh, saling bercengkrama, mengobrol, bahkan aktifitas-aktifitas “berbahaya” lainnya yang dilakukan sebelum menikah, pada hakekatnya adalah langkah menuju perzinaan. Wa laa taqrobudz dzinaa. Dan janganlah kalian mendekati zina, begitu firman Allah dalam surat Al-Isra’.
  4. Untuk sombong. Yang ini, barangkali adalah jenis penyakit hati yang sering menghinggapi para asisten. Sebagai seorang yang berpredikat asisten, lantas merasa ingin lebih dihormati, ingin diperlakukan lebih dari manusia lainnya, ingin diperhatikan setiap yang keluar dari lisannya, dan sebagainya. Padahal, hanya Allah subhanahu wa ta’ala semata yang berhak memiliki sifat sombong. Sombong adalah selendang Allah, barangsiapa yang melakukan perbuatan sombong berarti ia telah lancang merebut selendang tersebut dari Allah. Sementara Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, pernah mewasiatkan ummatnya untuk menjauhi sifat sombong dalam bentuk sekecil apapun. Beliau bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa seorang yang dalam hatinya tersimpan kesombongan walau seberat dzarrah sekalipun, tidak akan masuk surga.
  5. Untuk mencari popularitas. Ini juga menjadi penyakit hati yang teramat halus menimpa seorang asisten. Tidak luput seorang pun asisten dari penyakit ini, kecuali mereka yang dirahmati Allah dengan sifat ikhlas. Para salaf, mereka senantiasa menjauhi popularitas, menjauhi terkenalnya nama mereka di kalangan manusia. Bisyr ibn Harits berkata, “Aku tidak mengetahui orang yang ingin terkenal, melainkan agamanya hilang dan aibnya terbongkar, ia juga berkata, “Tidak akan menemukan manisnya akhirat bagi orang yang ingin dikenal orang banyak. [ Hilyatul ‘Auliya, VIII/343, diambil dari sini ]
  6. Bersikap sok tahu. Tambahan poin ini diambil dari usulan Akhuna Al-Fadhil Abu Umar Aditya Wisnu Wijaya, berkenaan dengan banyaknya asisten yang menjawab pertanyaan atau permasalahan dari praktikan dan mahasiswa dengan sekenanya dan terkesan “asal”. Tidak membangun jawabannya berdasarkan ilmu maupun referensi yang shohih, melainkan sekedar “melepaskan tanggungan” semata. Padahal, Allah azza wa jalla memerintahkan setiap manusia untuk bertindak berdasarkan ilmu, dan bukan dengan “asal”. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Isra’ : 36)

Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk menjauhi sifat-sifat tersebut di atas!

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada November 13, 2009 in Teknik Sipil UGM

 

Tag: , , , ,

8 responses to “Nasihat Untuk Asisten (1) : Hinanya Seorang Asisten

  1. Nms Nugroho

    November 13, 2009 at 10:28 am

    SIP …. SIP ……

     
  2. Abu Umar Abdulaziz

    November 13, 2009 at 1:32 pm

    Subhanaladzi bi yadihil mulku wahuwal azizul adzim.terima kasih atas nasihatnya,,sudah seharusnya kita semua (asisten) becermin pada diri kita masing2,
    apakah predikat asisten yang notabene adalah “pembantu” mampu membantu kita untuk mendapat ridho Allah ataupun sebaliknya.
    dan jika boleh menambahkan, jangan sekali-kali asisten menjawab pertanyaan dengan sekenanya, namun harus dibangun di atas ilmu yang ada.
    Allah yubarrik fiik

    yhougam : wa fiik barakallah yaa akhiy.. ahsanta.. masukan bagus untuk nasihat seri ke 2 nanti,, jazakallah khair kunjungannya.. ^^

     
  3. imaduddin nugraha

    November 14, 2009 at 1:49 am

    hebat, betul banget mas setujju.

     
  4. Dian pratomo

    November 14, 2009 at 11:20 am

    Wah…nasehat yg bagus tuh!!!
    Btw klo niatnya buat “uang” smata blh g y???

     
  5. wimas

    November 14, 2009 at 4:58 pm

    intinya kita tu harus ikhlas y mas dalam berbuat kebaikan,,,

     
  6. eko

    November 18, 2009 at 3:39 am

    aku setuju.kalau dalam sipil ” tentang mengurangi timbangan ” gimana. campuran semennnn kaya gitu

    #yhougam : insya Allah termasuk dalam keumuman ayat berikut :

    وَيۡلٌ۬ لِّلۡمُطَفِّفِينَ

    “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifiin :1)

     
  7. Amrullah

    Desember 22, 2009 at 1:03 pm

    Pajang artikel ini besar-besar di ruang KATS…!! Eh katanya ruang KATS dah pindah ya?

    #yhougam : iya akh, ruang paling mewah buat mahasiswa.. rumah kedua setelah MTI juga, udah berapa hari ini ngerjain irbang sampe pagi di ruang KATS.. kapan-kapan mampir akh… ^^

     
  8. Rama

    Juni 9, 2012 at 11:01 pm

    mantep mantep,mas.
    jadi ingat masa2 ketika jadi asisten. hehehe
    jazaakalloh khoiron.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: