RSS

Mau Belajar ke Luar Negeri ? (1)

27 Nov

Beginilah nikmatnya jika diberi kesempatan menimba ilmu perkuliahan di sebuah universitas yang [sedikit] go international. Tawaran untuk melanjutkan studi ke luar negeri pun berlimpah ruah. Tak usah jauh-jauh, di bulan-bulan ini, di kampus sipil tercinta ini, ramai dengan pembukaan dan penawaran program untuk melanjutkan studi, atau sekedar program exchange (pertukaran pelajar) ke berbagai negara. Saxion University, kembali membuka pendaftaran untuk melanjutkan studi di tingkat akhir kuliah. Bersamaan dengan itu, The NEWRI Environmental Master of Science (NEMS), sebuah program dari Nanyang Technological University (NTU) Singapore juga membuka pendaftaran untuk program studinya. Wah, banyak tawaran, nih!

Lantas, mengapa tidak ada yang kamu apply, Ga?

Bukan bermaksud untuk sombong, seolah-olah dengan sembarang apply lantas kita pasti diterima. Tidak. Namun, setidaknya apply menunjukkan adanya kemauan untuk belajar dan mengejar beasiswa-beasiswa tersebut. Soal diterima atau tidak, biasanya dapat diurus kemudian. Nilai TOEFL dapat dikejar, sumber dana dapat dicari. Hanya saja, memang saya tidak tertarik dengan berbagai alasan. Alasan utamanya, adalah sebagaimana yang saya coba sarikan dari Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berikut.

Hukum Safar (Melakukan Perjalanan) Menuju Negeri Kafir

Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa safar menuju negeri kafir tidaklah diperbolehkan kecuali seseorang memiliki tiga syarat berikut :

  1. Ilmu yang dapat melindunginya dari syubhat
  2. Diin (agama) yang dapat mencegahnya dari syahwat
  3. Jika memang memiliki suatu keperluan

Maka, jika syarat-syarat diatas tidak dapat terpenuhi, tidaklah diperbolehkan bagi seseorang untuk melakukan perjalanan menuju negeri-negeri kafir, karena dalam hal tersebut terdapat fitnah, atau ditakutkan tertimpa fitnah. Di samping juga didalamnya terdapat pula sisi perusakan terhadap harta (berupa pemborosan), karena seseorang akan membelanjakan hartanya dalam jumlah yang banyak untuk tujuan safar tersebut.

Keperluan seperti apa yang dimaksudkan ?

Adapun jika ia melakukan safar untuk suatu kebutuhan seperti pengobatan, atau untuk talaqqi (menuntut ilmu syar’i secara langsung -pent) yang mengharuskan ia untuk pergi ke negara tersebut, dan ia juga memiliki ilmu dan diin sebagaimana yang kami sebutkan, maka tidaklah mengapa.

Namun safar dalam rangka wisata menuju negeri-negeri kafir maka hal tersebut bukanlah tergolong suatu kebutuhan, selama mungkin baginya untuk pergi ke negara-negara Islam yang dapat menjaga tanda-tanda keIslamannya, dan negeri kita bersikap lunak -walhamdulillah- terhadap mereka yang hendak melakukan perjalanan wisata, dan memungkinkan warganya untuk melakukan perjalanan, dengan izin masuk yang telah diberikan.

Seputar Tinggal (Bermukim) di Negeri Kafir

Adapun mengenai bermukim di negeri kafir maka sesungguhnya sangat dikhawatirkan atas agama, akhlaq, etika, adab seorang muslim, yang telah kita saksikan bersama betapa banyaknya penyimpangan yang menimpa orang-orang yang tinggal di negeri-negeri kafir tersebut, maka ketika mereka pulang kondisinya berbeda dengan ketika mereka pergi, ada yang menjadi fasiq, ada yang murtad dan kafir dari agamanya dan bahkan dari agama-agama manapun -wal iyadzu billah- hingga berubahlah mereka menjadi pengingkar mutlaq (atheis), pencela agama, baik terhadap orang-orang terdahulu maupun sekarang. Dan oleh karena itu hendaknya, bahkan harus baginya untuk menjaga diri dari perbuatan tersebut, dan harus dijelaskan syarat-syarat yang dapat mencegahnya dari jurang kebinasaan tersebut.

Syarat -Syarat Tinggal di Negeri Kafir

Maka tinggal di negeri kafir harus memenuhi dua syarat pokok berikut ini :

  1. Amannya agama orang yang tinggal tersebut dengan adanya ilmu, iman, dan kemampuan penjagaannya atas segala hal yang dapat membuat ia istiqomah dan tetap di atas agamanya, terhindar dari berbagai penyimpangan, dan senantiasa menyimpan permusuhan terhadap orang-orang kafir, dan menjauh dari sikap loyal dan cinta kepada mereka, karena bahwasanya sikap loyal dan cinta menafikan iman kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman, “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah : 22). Allah ta’ala juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-peimmpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafiq) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata : ‘Kami takut kan mendapat bencana’. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka” (QS. Al-Maidah : 51-52). Dan terdapat dalam Ash-Shahihain dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya barangsiapa yang mencintai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka, dan sesungguhnya seseorang itu bersama yang ia cintai”. Dan rasa cinta terhadap musuh-musuh Allah sangatlah dikhawatirkan menimpa seorang muslim, karena mencintai mereka konsekuensinya adalah mencocoki dan mengikuti mereka, atau minimal tidak mengingkari perbuatan mereka, maka dari itu Nabi shallallaahu alaihi wa sallam katakan, “Barangsiapa yang mencintai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka”
  2. Haruslah memungkinkan baginya untuk menampakkan agamanya dengan menegakkan syiar-syiar Islam yang dapat ia lakukan dengan tanpa dihalangi, tidak dihalangi untuk menegakkan shalat jamaah dan shalat Jum’at, tidak dihalangi untuk menunaikan zakat, puasa, haji, dan selainnya dari syiar-syiar Islam, maka jika tidak memungkinkan baginya untuk mengerjakan hal tersebut tidaklah diperbolehkan baginya untuk tinggal dan wajib baginya hijrah dari negeri tersebut.

-selesai penukilan dari Syarh Tsalatsatil Ushul-

Intinya, pergi ke luar negeri tidaklah semudah yang dibayangkan. Harus bagi seseorang untuk memenuhi syarat-syarat yang dapat menjaga agamanya dari berbagai kerusakan dan pengaruh budaya yang kuat di negeri-negeri tersebut. Adapun saya, wallahi sangat jauh sekali dari persyaratan tersebut. Kurangnya ilmu dan pemahaman agama, disamping betapa seringnya saya melanggar syariat-syariat Allah di negeri ini, yang notabene masih negeri Islam, apatah lagi jika berada bersendirian di negeri kafir seperti Belanda, Jerman, Singapura, Jepang dimana mayoritasnya bukanlah muslim. Sungguh, bagi manusia yang khotho’ seperti saya, yang teramat banyak dosa dan kesalahan, adalah wajar untuk merasa khawatir terjerumus dalam lembah kenistaan di negeri orang.

Semoga menjadi perenungan yang bermanfaat!

*NB : Seorang kawan yang peduli dengan kondisi saya pernah pula menyarankan, agar saya cepat menikah sebelum mengejar beasiswa. Hmm.. melihat kondisi saat ini, sepertinya tidak dulu, akhi ^^

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada November 27, 2009 in Islam

 

Tag: , , , , , ,

6 responses to “Mau Belajar ke Luar Negeri ? (1)

  1. M.A. Tuasikal

    November 27, 2009 at 2:48 pm

    Itulah jika dunia yang dicari-cari, agama pun rela dikorbankan, jenggot pun bisa dipangkas, celana pun akhirnya menyeret tanah. Itulah dunia ….

    Namun coba bayangkan jika akhirat jadi tujuan. Kuliah ke luar negeri bukan hanya ingin mendapatkan ilmu dunia, namun ia pun ingin mendapatkan ilmu agama. Sehingga negara-negara semacam Saudi yg jadi tujuan.

    Begitulah manusia yg ngerti agama dan yg tidak, bagaikan orang yang buta dibandingkan dengan orang yang bisa melihat.

    #yhougam : ahsanta barakallah fiik yaa ustadz.. Semoga Allah mudahkan langkah antum untuk jadi ambil S2 di Saudi.. ^^

     
  2. Anonymous

    November 28, 2009 at 1:06 pm

    Aslkm. Bisa minta tolong disebutkan Hadis mana yg menyebutkan tentang “Hukum Safar (Melakukan Perjalanan) Menuju Negeri Kafir”? Kalau bisa dengan periwayat hadisnya + kedudukan hadisnya (shahih/dhoif)..Terima kasih

    #yhougam : wallahu a’lam, kami yang masih dangkal ilmunya ini belum pernah mengetahui hadits tentang hal tersebut.. namun, membaca terjemahan yang telah kami suguhkan, kita dapat melihat bahwa masalah safar ke negeri kafir ini bersumber dari ayat-ayat dan hadits seputar wala’ dan bara’, yang darinya ditarik kesimpulan seputar masalah safar ke negeri kafir, semoga menjadi jelas..

     
    • Anonymous

      Desember 1, 2009 at 6:00 am

      Terima kasih atas balasanny. Mungkin di kemudian hariny penulis bisa lebih menekankan pentingny suatu hukum yg dilandasi suatu hadis/ayat2 dr Al Quran sehingga tidak menimbulkan kerancuan apakah hukum tersebut benar2 bisa diikuti/tidak.

      #yhougam : iya, maafkan atas masih bodohnya kami dalam ilmu agama, itulah mengapa kami belum berani melakukan istidlal dan istinbath sendiri, dan lebih memilih menerjemahkan tulisan para ulama seperti Syaikh Utsaimin rahimahullah diatas, dan kami hanyalah sekedar menyimpulkan dengan tanpa merubah atau menambah makna baru mudah-mudahan..

      tambahan 04 des 09 : Alhamdulillah kami telah menemukan beberapa dalil, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, yang bisa kami jadikan hujjah, bagi pembaca yang tidak sabar ingin membacanya silakan merujuk di kitab At-Tanbihatul Mukhtasharah Syarh Al-Waajibat karya Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Shalih bin Ahmad Al-Khuraishi dan juga kitab rujukan artikel ini : Syarh Tsalatsatil Ushul Syaikh Utsaimin pada lembar-lembar akhir risalah seputar hukum tinggal di negeri kafir. Terjemahan buku ini juga telah beredar luas di toko-toko buku. Silakan merujuk atau menunggu selesainya penulisan artikel ini. Harap maklum. ^^

       
  3. Dian

    November 29, 2009 at 2:41 am

    Study ke luar negrinya pas S2 aj,,, Tp sebelumnya nikah dulu^^

     
  4. Risang Dipta Permana

    Desember 19, 2009 at 5:32 am

    Assalamu’alaikum

    Mau nanya nih… devinisi negara kafir apa ya???

    Klo Indonesia piye?? kafir ga… Turki? Spanyol? Iran? Mesir??

    Perasaan mereka semua belum menerapkan Syari’at Islam, Alias Sekuler… gimana Akh??? Butuh Pencerahan.

    Apakah Penjelasan yg sudah antum paparkan harus juga di terapkan di negara2 itu… ato ada perkecualian untuk Tanah Air (kampung halaman)???

    Jazaakumullah Khairan Katsiraa

    #yhougam : waalaikumussalam syeh.. ahlan..

    ini persoalan yang panjang lebar ane perdebatkan dengan [mantan] teman2 SMA ane dulu, tapi, intinya, walhamdulillah para ulama telah menjelaskan definisi negeri kafir dengan panjang lebar, mulai dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa [kalau tidak salah jilid 20an], Al-Imam As-Suyuthi dalam As-Saylul Jarrar, Al-Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsirnya yang fenomenal, hingga ulama2 kontemporer seperti Syaikh Utsaimin dalam kitab yang jadi rujukan utama pula dalam pembahasan di atas, Syarh Tsalatsatil Ushul, dan kesimpulan singkatnya adalah Islam tidaknya suatu negeri, ditentukan dari penerapan syiar-syiar Islam secara umum, seperti adzan, sholat Jum’at, sholat ‘Ied, dan tidak terbatas hanya pada hudud saja (karena definisi syariat Islam sekarang telah menyempit hanya pada persoalan ini). Insya Allah akan kami bahas di tulisan tersendiri. Jika Allah memudahkan.. Wallahu a’lam.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: