RSS

Buktikan Salafimu!

05 Des

Masih terlalu hijau. Masih terlalu awam memang diri ini untuk melakukan penilaian. Namun, tidak usah jauh-jauh, dilihat dengan kacamata orang awam saja, nampaknya memang ada yang salah dengan perilaku sebagian orang yang mengaku diri sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Firqatun Najiyah. Ath-Thaifah Al-Manshurah. Ahlul Hadits. Salafi.

Suatu hari, sehabis pulang dari sebuah kajian, saya menyempatkan diri ke kampus untuk asistensi adik-adik kelas saya di Teknik Sipil UGM. Karena tidak sempat untuk pulang ke kost, saya masih membawa serta kitab yang saya kaji. Waktu itu, saya lepas mengikuti kajian Kitab Hushulul Ma’mul Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Sebuah majelis yang diasuh oleh Ustadz Said dari Ma’had Jamilurrahman As-Salafy Yogyakarta. Kitab itu pun saya bawa serta ketika asistensi, karena kondisi hujan dan khawatir kitab tersebut basah.

Di tengah asistensi, seorang adik kelas yang masih semester 1, yang penampilannya mungkin masih “awam” sekali. Celana masih menyeret tanah, jenggot yang masih klimis (husnuzhan saja mungkin masih belum tumbuh ^^), dan penampilan yang mungkin bagi kalangan ikhwan sangat tidak “nyalaf”, iseng membaca kitab saya dan membacanya dengan keras. Refleks mungkin pikir saya, karena kebiasaan seorang non-Arab ketika membaca kitab Arab, terutama bagi yang belum belajar, dari yang saya amati adalah membaca dengan suara keras. Terutama memang ketika baru belajar, dengan metode seperti itu akan lebih mudah memahami. Dari bacaan yang saya dengar, subhanallah.. Andai ketika semester 1 dulu saya punya kemampuan seperti itu. Kemampuan yang tidak lain kecuali didapat dari seringnya membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Dari situlah kami mulai berkenalan dan mengakrabkan diri, dan adik kelas saya itu mengaku jika bukan orang pondokan. Dari situ, sepulang asistensi, saya menjadi terfikir dengan banyak hal, dan jujur saja, saya memikirkan beberapa orang teman.

Diantara teman-teman yang saya fikirkan, pertama adalah teman saya yang mengaku ke semua orang yang dikenalnya bahwa ia seorang Salafy, penampilannya selalu komplit, gamis panjang, jubah, selalu melekat. Kedua, teman saya yang ketika ada sedikit permasalahan, langsung saja memberikan fatwa ini, fatwa itu yang ia dengar dari Ustadz ini, Ustadz itu, dengan bumbu istilah yang hampir pasti membuat orang awam takjub dan menganggap ia seorang “Ikhwan Salaf Sejati”. Ketiga, teman saya yang dengan tegas menolak ketika diajak mengaji di suatu kajian salaf, dan dengan mantap menjawab “Itu kajian Surury”.

Persamaan dari ketiga teman saya ini adalah, mereka sama sekali tidak bisa membaca kitab Arab!

Sebenarnya, standar seorang salafi, tentu tidak hanya dari kemampuan membaca kitab Arab. Namun, entah karena geram melihat kelakuan orang-orang seperti ini, hati kecil saya bahkan pernah berkesimpulan bahwa “Jangan pernah mengaku Salafi jika belum bisa membaca kitab Arab!” Tentu, perkataan ini kembali pada diri saya sendiri yang masih morat-marit dalam mengi’rob suatu kalimat. Walhasil, kalimat ini selalu saya camkan ketika ingin mengklaim diri sebagai seorang Salafy. Eling, maca kitabmu durung beres!

Standar seorang Salafi, harusnya lebih luas daripada sekedar beraqidah Salaf saja. Terlepas polemik seputar hal ini (sedikit bingung, karena berbeda dengan yang saya dapat di Tahdzib At-Tashil Aqidah), setidaknya ini yang bisa saya simpulkan dari tulisan berikut. Kami nukil dari An-Nashihatu Li Syabaab karya Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili pada poin nasihat kedua berikut ini :

“Poin Nasihat Kedua : Hendaknya diketahui bahwa sesungguhnya seorang Ahlus Sunnah sejati itu, adalah mereka yang juga menjadi Ahlul Imtitsal (unggul dalam mengerjakan perintah Allah -pent), sempurna baik dalam keyakinan maupun etika. Dan diantara cupetnya pemahaman sebagian orang adalah mengira bahwasanya seorang Sunni, atau Salafiy, ialah mereka yang berkeyakinan dengan aqidah Ahlus Sunnah tanpa memberi perhatian pada aspek etika, adab-adab Islami, dan menunaikan hak-hak sesama muslim diantara mereka.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam bagian akhir kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyah setelah menyebutkan pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah : “Kemudian bersamaan dengan pokok-pokok ini : diperintahkannya mereka (Ahlus Sunnah) untuk beramar-ma’ruf nahi munkar atas segala sesuatu yang diwajibkan syari’at, mereka menyatakan bahwa terlaksananya haji, jihad, shalat Jum’at dan hari raya Ied adalah dengan manaati perintah penguasa, baik penguasa itu baik maupun fajir (suka berbuat maksiat -pent), tetap berpegang di atas Al-Jamaah, menjalankan agama ini dengan senantiasa menasihati ummat, yakin dengan makna sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam hal saling mencintai, saling berkasih sayang, saling bersimpati kepada mereka, adalah sebagaimana satu badan jika sakit darinya satu organ tubuh, menyebabkan badan mengalami demam dan tidak bisa tidur”.

Dan mereka diperintahkan untuk sabar ketika menghadapi musibah, dan bersyukur saat kondisi lapang, ridha dengan segala ketetapan-Nya, dan menyeru kepada perbaikan akhlaq dan kesempurnaan amal, karena terikat dengan makna dari sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, “Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya”

Mereka mengajak untuk menyambung tali silaturahim yang terputus, memberi kepada mereka yang menahan hartanya kepada kita (membalas kebaikan dengan keburukan -pent), dan memaafkan orang yang berlaku zhalim terhadapnya, memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, juga memerintahkan silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, melarang perbuatan dusta, sombong, aniaya, dan sikap berlebihan terhadap makhluq baik dengan cara haq maupun tidak, memerintahkan ketinggian akhlaq, dan melarang dari kerendahan akhlaq.

Dan setiap perkataan dan perbuatan mereka dari keterangan ini dan selainya, adalah dalam rangka mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Metode mereka yaitu agama Islam, yang Allah mengutus Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam dengannya. ” (Al-Aqidah Al-Wasithiyah)

-selesai penukilan dari An-Nashihah-

Semoga bermanfaat!

(dikerjakan dengan koreksi terjemahan Aqidah Wasithiyah Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib, dan Kamus Bahasa Arab v2.0)

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2009 in Islam

 

Tag: , , , , ,

3 responses to “Buktikan Salafimu!

  1. Orang awam

    Desember 6, 2009 at 7:32 am

    Sebenarnya makna dari salafi itu sendiri apa?

    # yhougam : silakan rujuk artikel berikut : http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-salaf-dan-salafi.html

     
  2. salafiyunpad

    Januari 7, 2010 at 3:12 am

    jazakallahu khairan

     
  3. kang_kana

    April 2, 2010 at 3:56 pm

    don’t look the book by the cover!!!!!!!!!!!!!!!!

    Dekati dia, hampiri dia, ajaklah dia, dan nasihati adikmu itu jika kamu memang seorang kakak yang baik, kakak yang memang pantas untuk disebut kakak.
    aku yakin dia anak yang baik,,! adik yang bisa membuat kakaknya nanti tersenyum manis>>> laksana teh kalau tidak diaduk ” pahit”, maka aduk lah supaya siapapun yang akan meminumnya nanti dapat tersenyum dan berkata “الحمد لله رب العالمين”.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: