RSS

Kembali 2, Tinggallah 1

13 Des

Seseorang memiliki tiga kawan dekat, katakanlah si A, si B, dan si C. Ia dekat dengan dua orang, dan jauh dengan seorang lainnya. Dua orang kawannya ini, yaitu si A dan si B, suka membantu dan menghilangkan kesusahannya ketika sedih dan sempit. Sementara, kawannya yang lain si C, sebaliknya justru sering meminta bantuan kepadanya dan membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Kawannya si A, menjadi peneduh matanya dan pelipur baginya di kala sedih. Dikarenakan si A adalah tipikal kawan yang mampu menghibur dan menghilangkan kegundahan hatinya. Sementara si B, adalah seorang dermawan yang kerap memberinya bantuan di kala ia mengalami kesulitan keuangan. Seringkali bahkan si B tidak hanya meminjami uang, namun juga memberikan bantuan itu sebagai hadiah cuma-cuma. Dan terakhir si C, justru sering meminta bantuan kepadanya dan merepotkannya dengan berbagai macam urusan yang menurutnya tidak perlu. Sering memintanya melakukan pekerjaan ini itu, seakan-akan itu semua adalah bebannya. Oleh karena itulah, ia lebih berkawan akrab dengan si A dan si B, namun hubungannya dengan si C biasa-biasa saja.

Suatu ketika, orang ini terjerat sebuah permasalahan hukum. Ia harus menghadiri persidangan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang dinilai melawan hukum yang berlaku. Maka, ia pun meminta bantuan kepada ketiga orang temannya ini. Maka, ketiga orang ini, si A, si B, dan si C pun mengantarkannya menuju persidangan.

Ketika sampai di depan pintu ruang sidang, tanpa diduganya, si A dan si B, dua orang kawannya yang begitu akrab dengannya, tidak bisa memasuki ruang sidang. Hanya si C yang bisa memasuki ruang sidang. Dan ketika persidangan dimulai, ternyata si C, seorang kawan yang jarang ia bantu, yang ia berkawan dengannya biasa-biasa saja tidak seakrab dengan dua orang temannya yang lain, begitu bersemangatnya dalam membela orang ini. Ia mengungkapkan kebaikan-kebaikannya, membantunya lepas dari kesulitan yang ia hadapi di ruang sidang. Dan jadilah, ia terbebas dari kesulitan tersebut.

Itulah ilustrasi bagaimana seorang berinteraksi semasa hidupnya dengan tiga hal. Persahabatannya dengan si A, adalah sebagaimana hubungan kita dengan Keluarga, yaitu anak-anak, istri kita, dan keluarga kita pada umumnya. Sementara si B menggambarkan hubungan kita dengan Harta. Dan si C, menggambarkan Amal Shalih yang kita perbuat. Maka, ketika kita meninggal kelak, dan hendak memasuki “persidangan” akhirat, hanya amal shalih yang bisa menemani dan membela kita. Sedangkan keluarga dan harta, hanya bisa mengantar sampai pintu ruangan persidangan, karena mereka tidak turut dikubur dan setelah penguburan kita selesai, pulanglah mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Dan sangatlah aneh, bahwa kenyataan manusia ketika hidup ia berkawan dengan Keluarga dan Harta begitu dekat, padahal mereka akan meninggalkannya seorang diri di liang kubur kelak. Dan menjauh dari Amal Shalih, padahal hanya itu yang bisa menemaninya menempuh perjalanan panjang menuju akhirat kelak.

Cerita di atas saya dapat semasa SMA, di sebuah posting forum mailing list MyQuran yang dulu sangat ramai. Hanya saja, saya tidak menemukan sumbernya lagi untuk ditautkan sehingga terpaksa saya tulis ulang. Kisah ini, dulunya saya kira hanyalah bersumber dari ilustrasi biasa, namun ternyata ini adalah sebuah hadits shahih yang bersumber dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dan diriwayatkan baik oleh Imam Al-Bukhari maupun Imam Muslim rahimahumallah.

Dari Anas radhiyallaahu anhu dari Rasululllah shallallaahu alaihi wa sallam beliau bersabda,

يتبع الميت ثلاثة . فيرجع اثنان ويبقى واحد . يتبعه أهله وماله وعمله . فيرجع أهله ، وماله . ويبقى عمله

“Mayat itu diikuti oleh tiga hal : keluarganya, hartanya, dan amalnya, maka kembalilah yang dua dan tinggallah satu, kembalilah keluarga dan hartanya, dan tinggallah amal perbuatannya” (HR. Bukhari [8/362] dan Muslim [2960])

Kandungan hadits :

  • Motivasi untuk mengerjakan perkara yang akan tinggal pada diri seorang manusia, yaitu amal shalih, yang akan menemaninya di dalam kubur ketika manusia lainnya kelak akan kembali pulang setelah selesai pemakaman, dan meninggalkannya sendirian.
  • Manfaat hakiki yang dapat diambil oleh seorang mayat ialah amal perbuatannya. Oleh karena itu, dianjurkan bagi seseorang untuk gemar mengeluarkan hartanya dengan bersedekah, karena ketika ia meninggal kelak, hartanya seketika akan menjadi milik ahli warisnya. Adapun keluarganya, hanya bisa bersedih dan mengiringi prosesi pemakamannya saja kecuali apabila ada yang mendoakan kebaikan untuknya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang bersemangat dalam mendidik keluarganya di atas manhaj Allah.

(Kandungan hadits diambil dari Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Shalihin karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly hafizhahullah, cetakan Daar Ibnil Jauzi Jilid I hal. 186, yang dibacakan dalam kajian Ustadz Zaid Susanto, Lc ahad petang di Masjid Al-Hasanah Yogyakarta)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 13, 2009 in Islam

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: