RSS

Nasihat dalam Menghadapi Perpecahan : Sebuah Catatan Kajian [Poin 1 : Prioritaskan Perbaikan Diri Sebelum Orang Lain]

01 Feb

Poin Pertama : Diantara prinsip pokok dalam agama ini : Seorang muslim memiliki perhatian untuk memperbaiki dirinya sendiri dan berupaya sungguh-sungguh untuk menyelamatkan dan menjauhkan dirinya dari berbagai sebab kebinasaan sebelum menyibukkan diri dengan orang lain. Sebagaimana firman Allah ta’ala : “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran” [QS. Al-Ashr : 1-3]

Dalam ayat ini :

Khusrin : Isim nakirah. Faidah : Li ta’zhim, untuk menunjukkan besar, sehingga menjadi : “kerugian besar”

Al-Insan : diartikan seluruh manusia karena Alif lam disini bermakna kullu

Maka Allah memberitakan tentang orang-orang yang terbebas dari kerugian. Bahwasanya mereka adalah orang-orang yang terpenuhi dalam diri mereka empat sifat diatas, Allah sebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal shalih, dan ini adalah upaya memperbaiki diri sendiri, SEBELUM mereka mendakwahi orang lain dengan saling mewasiatkan untuk meniti kebenaran [yaitu iman dan amal shalih] dan saling berwasiat untuk bersabar. Inilah dalil yang menegaskan poin pembahasan ini.

Oleh karena itu Allah mencela Bani Israil ketika mereka menyelisihi kaidah ini, yaitu memperbaiki diri sendiri sebelum orang lain, melalui firman-Nya : “Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan sedangkan kalian melupakan [meninggalkan] diri kalian sendiri, padahal kalian membaca kitab suci. Tidakkah kalian menggunakan akal?” [QS. Al-Baqarah : 44]

Ayat ini turun berkenaan dengan orang Yahudi, yang mereka dimintai pendapat oleh beberapa orang mengenai dakwah Muhammad, maka mereka serta merta memerintahkan kepada orang-orang tersebut untuk MASUK ISLAM. Akan tetapi mereka sendiri tidak mau mengikuti dakwah Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam.

Akal berasal dari kata iqalun yaitu tali ikatan, karena berfungsi mengikat seseorang untuk tidak melakukan perbuatan buruk. Dan diantara perbuatan buruk adalah mengajak berbuat baik namun melupakan diri sendiri.

Maka kewajiban bagi para pemuda untuk perhatian dalam memperbaiki diri mereka sendiri sebelum memperbaiki orang lain. Apabila mereka istiqomah di prinsip ini dan mereka menggabungkan perbaikan agama untuk diri sendiri dan mengajak orang lain untuk mengikuti agama Allah, maka berarti mereka berada diatas jalan salaf yg benar. Dan Allah memberi manfaat melalui keberadaan mereka, dan jadilah mereka orang yang mendakwahkan manusia kepada sunnah DENGAN PERKATAAN DAN PERBUATAN. Dan ini sungguh kedudukan yang sangat agung yang barangsiapa diberi taufik untuk melakukannya, ialah hamba Allah pilihan, yang memiliki kedudukan pilihan pada hari kiamat nanti. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Dan siapakah yg lebih bak perkataannya [Jawabannya : tidak ada yang lebih baik perkataannya] dibandingkan orang yang mengajak manusia kepada agama Allah dan beramal shalih dan ia berkata ‘Aku hanyalah bagian dari kaum muslimin'” [QS. Fushilat : 33]

Tambahan Penjelasan

M e n g e n a i  a y a t  i n i  :

Allah memuji orang yang ada pada dirinya tiga hal :

  1. Mengajak manusia kepada agama Allah semata. Sebagian orang mengajak kepada Islam dan sunnah, padahal realitanya menunjukkan bahwa ia mengajak pada dirinya sendiri, kepada golongannya, lembaganya, yayasannya, alirannya dan sebagainya. Semuanya dibungkus dengan kedok dakwah kepada Islam, bahkan dakwah ahlussunnah. Dia ingin manusia taat kepada Allah, dan oleh karenanya ia gembira melihat orang lain berubah menjadi lebih baik. Meskipun itu melalui sebab usaha orang lain.
  2. Beramal shalih, yaitu memperbaiki dirinya sendiri, menutupi dan mengurangi aib dirinya sendiri, dan;
  3. Tawadhu’. Tidak merasa sama sekali berjasa besar dalam Islam, dengan sekedar mengatakan “Aku sekedar sama dengan kaum muslimin yang lain”. Tidak merasa berjasa terhadap dakwah Islam, dan terhadap dakwah ahlussunnah pada khususnya. Menganggap Islam akan tetap jaya, Allah tetap akan menolong Islam walaupun tanpa jasanya. Inilah perkataan yang luar biasa yang sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Inilah yang kemudian dikatakan, “Siapakah yang lebih baik perkataannya…”

A l – M a n n u  ‘ a l a l l a a h

Yaitu merasa berjasa kepada Allah. Perbuatan ini tercela, sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Hujurat, “Mereka merasa telah memberi nikmat [jasa] kepadamu dengan keIslaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keIslamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” [QS. Al-Hujuraat : 17]

D a k w a h  d e n g a n  P r a k t e k

Dakwah boleh jadi dengan perkataan maupun perbuatan dengan mempraktekkan langsung kebenaran tersebut. Maka orang akan dapat melihat betapa indahnya sunnah. Itulah cara yang sangat efektif. Lisanul hal afsohu min lisanil maqaal. Bahasa tindakan lebih menarik daripada bahasa kata-kata. Bukti nyata hal tersebut adalah awal masuknya Islam ke negeri kita tidaklah di tangan para mubaligh, namun justru para pedagang yang berdakwah dengan sikap, perbuatan dan akhlaq mereka.

S i k a p  y a n g  K e l i r u

Yang keliru bukanlah melakukan upaya memperbaiki orang lain, melainkan ketika seseorang melupakan diri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang dishahihkan oleh Al-Albani, bagaikan lilin yang menerangi sekelilingnya akan tetapi membakar dirinya sendiri. Menggabungkan perbaikan diri dan orang lain, inilah metode dakwah para salaf.

K a i t a n  d e n g a n  F e n o m e n a  P e r p e c a h a n

Sebagian orang membalik keadaan dengan sibuk memikirkan orang lain namun tidak memikirkan perbaikan diri sendiri. Dan inilah penyebab semakin parahnya perpecahan diantara sesama ahlussunnah. Tidak melihat berbagai kekurangan dan cacat yang ada pada dirinya sendiri, namun dengan ilmu yang begitu terbatas yang baru saja ia miliki, dengan bersemangatnya telah menuding sana menuding sini, memvonis sana memvonis sini. Wallahul musta’an.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2010 in Islam

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: