RSS

Nasihat dalam Menghadapi Perpecahan : Sebuah Catatan Kajian [Poin 2 : Jadilah Salafi Sejati]

02 Feb

Poin Nasihat Kedua : Hendaknya dicamkan baik-baik bahwa sesungguhnya seorang Ahlus Sunnah sejati itu, adalah mereka yang memiliki ketaatan sempurna dalam Islam, baik dalam keyakinan maupun perilaku. Dan diantara cupetnya pemahaman sebagian orang adalah mengira bahwasanya seorang Sunni, atau Salafiy, ialah mereka yang benar-benar berkeyakinan dengan aqidah Ahlus Sunnah meskipun tidak memberi perhatian pada aspek etika, adab-adab Islami, dan menunaikan hak-hak sesama muslim diantara mereka.

Namun hendaklah diperhatikan bahwa kekurangan dalam masalah akhlaq secara umum tidak mengeluarkan seseorang dari lingkaran ahlussunnah. Akan tetapi cacat dalam sebagian masalah aqidah dapat mengeluarkan dari ahlussunnah. Yang dimaksud bahwasanya ahlussunnah sempurna adalah mereka yang memiliki aqidah dan akhlaq ahlussunnah. Maka cacat dalam masalah akhlaq akan menyebabkan kesempurnaan ahlussunnah seseorang berkurang. Namun tidak mengeluarkannya sebagai ahlussunnah. Boleh jadi ada seseorang yang pelit, berakhlaq buruk terhadap orang tua, namun masih menjadi ahlussunnah, walaupun tidak sempurna.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam bagian akhir kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyah setelah menyebutkan pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah : “Kemudian bersamaan dengan pokok-pokok ini : diperintahkannya mereka (Ahlus Sunnah) untuk beramar-ma’ruf nahi munkar atas segala sesuatu yang diwajibkan syari’at, mereka memerintahkan untuk melaksanakan haji, jihad, shalat Jum’at dan melaksanakan shalat Ied bersama penguasa, baik penguasa itu baik maupun fajir (suka berbuat maksiat -pent), senantiasa rutin melaksanakan shalat berjamaah, berprinsip dalam agama ini untuk senantiasa menasihati ummat, yakin dengan makna sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana bangunan yang kokoh, saling menguatkan satu sama lainnya”. Kemudian beliau menjalin jari-jemarinya (tasybik).

Bolehnya melakukan tasybik. Akan tetapi terdapat tasybik yang terlarang yaitu tasybik dalam sholat. Termasuk ketika seorang keluar rumah menuju masjid karena hal tersebut terhitung sebagai shalat. Dan Nabi melarang seorang melakukan tasybik sejak ia keluar rumah menuju masjid untuk melaksanakan shalat.

Terdapat sebuah hadits yang sering digunakan memotivasi manusia untuk memikirkan urusan kaum muslimin. Hadits yang dimaksud adalah : “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan ummat Islam, maka dia bukan bagian dari mereka (kaum muslimin)”. Ditanyakan kepada Syaikh Utsaimin mengenai hadits ini dan beliau berkata hadits ini dhoif akan tetapi banyak hadits shohih yang semakna dengannya maka cukuplah kita berpegang dengan hadits-hadits shahih tersebut. Diantara hadits shahih yang dimaksud adalah hadits di atas, termasuk juga hadits “Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya (sesama muslim) seperti mencintai dirinya sediri.” (HR. Muslim)

Akan tetapi bagaimanakah cara kita memikirkan urusan kaum muslimin? Apakah dengan cara membakar ban di jalan? Berdemonstrasi? Maka hal tersebut tentu harus dikembalikan pada syariat, dalam batas-batas yg telah ditetapkan oleh syariat. Tidak cukup hanya dengan semangat namun harus dipandu dengan ilmu yg benar.

Dan sabda Nabi, “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam hal saling mencintai, saling berkasih sayang, saling bersimpati kepada mereka, adalah sebagaimana satu badan jika sakit darinya satu organ tubuh, menyebabkan badan mengalami demam dan tidak bisa tidur”.

Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, Al-mukminu qowiyyun bi akhiihi dho’ifun bi nafsih. Seorang mukmin itu kuat jika bersama saudaranya, akan tetapi lemah jika bersendirian. Hadits di atas difahami oleh sebagian orang untuk membenarkan persatuan ala Yahudi. Sebagaimana dalam Surat Al-Hasyr :

“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah” [QS. Al-Hasyr : 14]

Maka mereka beranggapan bahwa yang namanya bangunan, tentu ada yang menjadi paku, genteng, semen, bata, namun mereka semua bisa saling bersinergi. Hal ini benar apabila perbedaannya bukan dalam masalah jalan beragama, prinsip beragama. Perbedaannya dalam masalah hobi, pekerjaan seperti layouter, blogger, desainer, yang semuanya dimanfatkan untuk dakwah Islam. Maka inilah yang dibenarkan. Karena dalil memerintahkan untuk memiliki kesamaan dalam cara beragama.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” [QS. Ali Imran : 103]

“Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.”
(HR. Ahmad 4/1
26, At Tirmidzy 2676, Al Hakim)

Dan mereka diperintahkan untuk sabar ketika menghadapi musibah, dan bersyukur saat kondisi lapang, ridha dengan segala ketetapan-Nya, dan menyeru kepada perbaikan akhlaq dan kesempurnaan amal, karena terikat dengan makna dari sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, “Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya”

Aqidah tetap lebih penting dari akhlaq. Karena sebagian perkara aqidah adalah pokok-pokok agama yang apabila ditinggalkan dapat membatalkan keIslaman seseorang. Sedangkan akhlaq merupakan bagian dari kesempurnaan iman yang boleh jadi bersifat wajib, seperti jujur, amanah, menepati janji, dan ada akhlaq yang bersifat anjuran seperti suka memberi hadiah, suka bersedekah, dan sebagainya. Namun tidak ada akhlaq yang menjadi pokok iman.

Kerusakan akhlaq juga tidak menyebabkan seseorang keluar dari lingkaran ahlussunnah. Seseorang dikatakan keluar dari lingkaran ahlussunnah jika melakukan salah satu dari dua hal berikut :

  1. Mengingkari suatu kaidah yang memiliki banyak kaidah turunan (derivat). Seperti mengingkari bahwa Allah memiliki sifat, maka otomatis ia mengingkari sekian banyak sifat-sifat Allah.
  2. Mengingkari perkara juz’i yang masyhur sebagai pembeda antara ahlussunnah dg ahli bidah. Contohnya mengingkari kewajiban manaati penguasa muslim dan memerintahkan untuk khuruj (memberontak).

Mereka mengajak untuk menyambung tali silaturahim yang terputus, memberi kepada mereka yang menahan hartanya kepada kita (membalas kebaikan dengan keburukan -pent), dan memaafkan orang yang berlaku zhalim terhadapnya, memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, juga memerintahkan silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, melarang perbuatan dusta, sombong, aniaya, dan sikap berlebihan terhadap makhluq baik dengan cara haq maupun tidak, memerintahkan ketinggian akhlaq, dan melarang dari kerendahan akhlaq.

Dan setiap perkataan dan perbuatan mereka dari keterangan ini dan selainya, adalah dalam rangka mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Metode mereka yaitu agama Islam, yang Allah mengutus Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam dengannya. ” (Al-Aqidah Al-Wasithiyah)

R e a l i t a  y a n g  K i t a  L i h a t

Mengapa bisa ada seseorang yang beraqidah mantab namun akhlaqnya tercela ? Jawabnya ada dua kemungkinan :

  1. Seseorang itu mengetahuinya namun tidak mengamalkan ilmu. Ia mengetahui bahwa membayar utang adalah wajib, menunda pembayaran hutang adalah kezhaliman namun ia tidak mengamalkannya.
  2. Ia memiliki pemahaman ilmu yang memang keliru. Seperti beranggapan bahwa bersikap keras terhadap orang tua merupakan ciri ahlusunnah sejati. Maka kekeliruan pengamalannya ini diakibatkan kekeliruan pemahaman terhadap ilmu.

Mengapa pula kita melihat seseorang yang awam, tidak mengerti permasalahan aqidah namun berakhlaq mulia ?

  1. Akhlaqnya merupakan akhlaq thobi’iyah [bawaan, jawa : gawan bayi]. Akhlaq terbagi menjadi dua, yaitu [1] Akhlaq kasbi, akhlaq yang dapat diusahakan dengan berlatih. Seperti seorang yang aslinya pemarah namun berupaya untuk menjadi santun. Sebagaimana Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Innamal hilmu bitahallumi. Sikap santun diperoleh dengan usaha. Dan [2] Akhlaq thobi’i, akhlaq bawaan yang memang ada sejak lahir.
  2. Akhlaq yang ia miliki karena tujuan duniawi, hanyalah sikap pura-pura untuk mendapat pamrih di dunia. Seperti bersikap baik pada tetangga agar tetangga juga baik dengannya, suka menolong orang agar kelak juga ditolong orang ketika kesusahan, dan sebagainya.

S o m b o n g  I t u  D i l a r a n g

Sombong (istitholah) bisa dengan alasan yang memang ada (bihaqqin) atau mengada-ada (bighoiri haqqin). Ada orang kaya yang sombong dengan kekayaannya, ada pula kita lihat orang miskin yang sok kaya. Keduanya sama-sama dilarang dalam Islam. Istitholah bihaqqin aw bighoiri haqqin.

K a i t a n  d e n g a n  F e n o m e n a  P e r p e c a h a n

Bahwa penyebab semakin parahnya perpecahan diantara ahlussunnah adalah akhlaq yang buruk. Maka dengan memiliki akhlaq yang mulia diharapkan dapat meredam perpecahan yang terjadi.

Terdapat pula hadits “Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukanlah tergolong dari mereka”. Berkaitan dengan hadits ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Utsaimin rahimahullah dan beliau menjawab bahwa hadits tersebut dha’if. Akan tetapi terdapat banyak hadits shahih yang semakna dengan hadits tersebut, diantaranya hadits di atas ditambah dengan hadits “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya, apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Al Iman/12/Fath], Muslim di dalam [Al Iman/45/Abdul Baqi])
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 2, 2010 in Islam

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: