RSS

Nasihat dalam Menghadapi Perpecahan : Sebuah Catatan Kajian [Poin 3 : Berilah Hidayah pada Sesama]

04 Feb

Poin 3 : Diantara tujuan mulia yang didorong oleh Islam ialah memberikan hidayah kepada makhluq agar mereka berpegang teguh pada agama ini. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallaahu alaihi wa sallam pada Ali yang akan berangkat ke Khaibar dalam rangka berperang : “Sungguh seandainya Allah memberikan hidayah pada seseorang dengan sebab dirimu, itu lebih baik dari unta merah yang paling mahal” [HR. Bukhari 4210 dan Muslim 2406]

Apa hubungan antara perang dengan potongan hadits ini? Hubungannya ialah : Diantara adab berperang ialah mendakwahkan Islam pada musuh terlebih dahulu, dan yang lebih diharapkan ialah mereka menerima dakwah dan tidak memilih perang. Baru jika mereka menolak dakwah dan menolak jizyah, perang dilakukan. Dan konsekuensi dari perang ialah adanya pembagian harta ghonimah, rampasan perang. Maka Nabi mengatakan hadits ini dengan maksud : “Wahai Ali, hendaklah harapanmu agar mereka menerima dakwah Islam, lebih besar dari harapanmu untuk menang perang dan mendapat harta yang banyak. Maka janganlah mengharap perang agar mendapat harta yang banyak dari ghonimah, karena itu tidaklah berharga dan sebanding dengan pahala dakwah.

Konteks hadits ini ialah dakwah kepada orang kafir untuk memeluk Islam. Akan tetapi para ulama memahami hadits ini dengan dakwah pada umumnya, mencakup pula dakwah agar memeluk sunnah, dakwah agar meninggalkan kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan dan sebagainya. Al-ibrotu bi umumi lafdhi la bi khushushi sababi. Ibroh itu diambil dari keumuman lafazh dan bukan dari kekhususan sebab.

Maka menjadi kewajiban bagi orang yang telah Allah berikan anugerah kepada mereka, berupa hidayah kepada sunnah, hendaklah mereka antusias mendakwahi orang yang tersesat dari sunnah [yaitu ahli bidah],..

Sebagian orang salah faham dengan dakwah ahlussunnah. Lisan hal-nya, keadaan dan sikapnya menunjukkan bahwa tidak ada yang namanya dakwah kepada ahli bid’ah. Yang ada hanyalah hajr, tahdzir, sikap keras (syiddah) dan sikap keras lain. Padahal secara umum, ketika orang berdakwah pada ahli bidah, perlu dijalin hubungan, perlu dilakukan komunikasi. Karena dakwah kepada ahli bidah merupakan dakwah yang disyariatkan.

…atau orang-orang yang tidak sempurna sunnahnya agar sempurna..

Model yang kedua ini merupakan model dakwah yang lazim dilakukan oleh sebagain orang. Mereka membatasi dakwahnya pada jenis kedua ini, yaitu agar orang yang telah menerima dan mengenal sunnah namun belum sempurna, semakin mendalami sunnah. Sementara itu mereka tidak mau berdakwah kepada ahli bidah. Bahkan ketika melihat orang lain mendakwahi ahli bidah, ia justru menilainya sebagai penyimpangan. Seakan-akan, tidak ada yang namanya dakwah kepada ahli bid’ah.

Hendaklah orang itu mencurahkan semua sebab, yang memungkinkan..

Mumkinah, ditinjau dari beberapa sisi. Memungkinkan dari sisi syariat, maka tidak boleh mendakwahi kepada sunnah dengan musik, dan dengan perkara yang diharamkan lainnya. Dan dari sisi kemampuan, fattaqullaha mastatha’tum. Bertaqwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian. Seperti berdakwah ke tempat yang sangat jauh, atau mendanai sebuah kajian dengan buku gratis, maka jika memang tidak mampu maka tidak perlu memaksakan diri.

Yang dimaksud adalah tidak boleh membatasi diri dengan satu cara saja, ketika MUNGKIN baginya untuk menempuh cara dan sarana-sarana yang memungkinkan dari sisi syariat dan kemampuan.

..agar orang mendapatkan hidayah…

Termasuk memungkinkan adalah dari sisi objek dakwah. Jika mad’u tidak mungkin ditempuh dengan cara keras maka tidak usah memakai cara keras. Demikian pula sebaliknya.

..dan melakukan berbagai sebab untuk mengambil hati mereka dalam menerima kebenaran.

Maka berbagai sarana dakwah harus ditempuh agar dapat sebisa mungkin menarik simpati objek dakwah, bukanlah dengan membuat mereka lari. Maka sungguh aneh apabila saat ini orang berdakwah namun dengan cara yang membuat mereka lari, dengan menakut-nakuti mereka dan tidak menarik hati mereka.

.. dan hal tersebut dapat ditempuh dg cara mengajak berkomunikasi dengan lemah lembut, sebagaimana yang telah difirmankan Allah kepada Musa dan Harun :

“Pergilah kalian ke tempat Fir’aun..

Allah memerintahkan untuk mendatangi Firaun, mendatangi ahli bidah. Anehnya saat ini ketika ada dai yang mendatangi ahli bidah dengan maksud untuk mendakwahi mereka, mereka justru menilai ini sebagai suatu penyimpangan! Seharusnya ketika melihat seorang dai mendatangi suatu tempat yang dinilai sebagai tempat menyimpang, dilihat dulu apa tujuannya. Jika tujuannya adalah dakwah maka tidak masalah.

..sesungguhnya dia adalah orang yang melampau batas..

Allah memberitakan kondisi Firaun agar Musa dan Harun alaihimassalam bersiap-siap. Maka diantara hal yang harus diperhatikan oleh dai adalah mengetahui keadaan orang yang didakwahi, daerah apa yang didatangi, siapa saja yang datang, dan sebagainya. Jika yang didatangi adalah “basis” musuh, maka jangan kemudian memancing-mancing emosi agar mereka melakukan kekerasan. Bahaslah materinya saja, dan jangan membahas person tertentu untuk memancing kemarahan pengikut orang tersebut. Allah memberitakan hal ini agar dilakukan persiapan, baik persiapan fisik, mental, maupun hujjah.

..Maka katakanlah perkataan yang lemah lembut” [QD. Thoha : 43-44]

Untuk Firaun yang kafir saja, Allah perintahkan untuk berkata dengan lemah lembut. Maka bagaimanakah dengan muslim yang terjerumus dalam bidah, yang tingkatannya tentu dibawah kekafiran. Tidakkah mereka lebih layak dan lebih berhak untuk mendapat kelemahlembutan?!

Maka lemah lembut tetap diperintahkan meskipun kita yakin orang yang didakwahi tersebut akan membangkang. Karena Allah tentu sudah tahu bahwa Firaun pasti akan membangkang dan menolak dakwah. Namun masih saja Allah perintahkan untuk berlemah lembut. Sementara sekarang ini sebagian orang, mereka masih berpraduga dakwahnya akan ditolak, namun sudah memilih dakwah dengan cara yang kasar dan keras.

Maka Allah memerintahkan untuk berbicara dengan orang yang Allah beritakan bahwa ia melampaui batas, dan tahu bahwa ia akan mati dalam keadaan kafir, namun masih Allah perintahkan untuk berkata lemah lembut. Maka bagaimanakah dengan orang yang dibawah Firaun tingkat penyimpangannya, dan ia masih termasuk kaum muslimin?

Demikian pula berbicara dengan orang yang didakwahi dengan kata-kata yang sesuai dg kedudukan dan statusnya. Dalilnya bahwa Nabi menulis surat kepada Heraklius, Nabi membuka surat tersebut dengan “Ditujukan kepada orang yang terhormat di Romawi, Heraklius”

Sementara saat ini kita lihat sebagian orang menulis risalah bantahan atau nasehat kepada seseorang yang menyimpang dengan pembuka “Kepada orang sesat, kepada orang yang menyimpang” dan berbagai gelar buruk lainnya. Maka bandingkanlah bahasa lisan orang ini dengan bahasa Rasul. Dari sini juga nampak apa maksud seseorang sebenarnya. Apakah ia benar-benar menghendaki kebaikan bagi orang yang ia bantah, atau hanya untuk merendahkan dan menjatuhkannya saja!

Demikian pula Rasul menyeru Abdullah bin Ubay bin Salul dengan Abul Khubab.

Nabi menyeru dengan menggunakan nama kuniyah untuk menghormatinya dalam tradisi Arab. Maka tidak masalah memanggil dengan status seseorang, minimal memanggil dengan status orang tersebut ditengah komunitasnya yaitu Syaikh, Kyai, Ustadz, dan sebagainya. Dan hal ini tidaklah menunjukkan kekurangan atau ketercelaan. Sebagian orang menyangka diantara tanda kegigihan dalam sunnah adalah memanggil orang menyimpang dengan namanya langsung dan tanpa gelar atau status, padahal Nabi saja memanggil dengan kuniyah. Maka gunakanlah bahasa penghormatan ketika menjawab atau membantah suatu penyimpangan agar orang menjadi tertarik hatinya.

Demikian pula memperhatikan untuk bersabar atas sikap-sikap yang kurang sopan yang diberikan oleh orang yang didakwahi. Dan membalas sikapnya tersebut dengan kebaikan. Dan hendaklah tidak tergesa-gesa dalam mendapat respon positif dari orang yg didakwahi. Allah berfirman “Bersabarlah sebagaimana kesabaran Ulul Azmi diantara para Rasul dan jangan tergesa-gesa” [QS. Al-Ahqaaf : 35]

Maka Nabi, dengan akhlaq beliau yang sedemikian sempurna dan sikap sopan santun beliau, masih Allah ingatkan dan diperintah untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa. Maka tentu orang-orang yang tingkatnya dibawah Nabi seperti kita lebih layak untuk menerima nasehat ini.

K a i t a n  d e n g a n  F e n o m e n a  P e r p e c a h a n

Apa hubungan poin 3 dengan perpecahan ? Hubungannya ialah diantara penyebab parahnya perpecahan yang terjadi adalah sikap ketika membantah, berdakwah, yang tidak menunjukkan keinginan untuk memberi hidayah kepada manusia. Dianggap bahwa yang penting ialah menegakkan hujjah. Dan dengan anggapan itu ia kemudian menggunakan bahasa seenaknya. Maka bahasa yang digunakan hendaklah dengan maksud agar orang tersebut mendapat hidayah dan kebaikan. Maka gunakanlah cara-cara yang dapat membuat hati orang tertarik.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 4, 2010 in Islam

 

Tag: , , , ,

One response to “Nasihat dalam Menghadapi Perpecahan : Sebuah Catatan Kajian [Poin 3 : Berilah Hidayah pada Sesama]

  1. biltzkrieght

    Agustus 2, 2010 at 4:29 am

    Allahu Akbar…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: