RSS

Nasihat dalam Menghadapi Perpecahan : Sebuah Catatan Kajian [Poin 4 : Bedakanlah Antara Mudarah dan Mudahanah!]

06 Feb
Poin 4 : Sebaikya bagi penuntut ilmu, terlebih lagi da’i dari kalangan penuntut ilmu, untuk membedakan antara dua hal : yaitu Mudarah dan Mudahanah. Karena Mudarah adalah suatu hal yang diperintahkan dan mudarah berkaitan dengan lemah lembut dalam sikap. Sebagaimana dalam Lisanul Arab [14/255] : “Mudarah kepada manusia : bersikap lembut kepada manusia, berinteraksi yang bagus, dan sabar terhadap gangguan. Dan ini dilakukan agar manusia tidak lari menjauhimu”. Sedangkan mudahanah adalah suatu hal yang tercela dan berkaitan dengan agama. Alah berfirman : “Mereka berkeinginan seandainya engkau bermudahanah dengan mereka, maka mereka pun mau bermudahanah denganmu” [QS. Al-Qolam : 9]. Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Mereka punya keinginan agar engkau bersikap pura-pura terkait dengam agamamu, maka mereka pun akan berpura-pura dengan agama mereka.”
Maka orang yang bermudarah adalah orang yang lembut dalam bersikap tanpa ada kompromi dalam masalah agama. Sedangkan orang yang bermudahanah adalah org yang mendekatkan diri pada manusia dengan meninggalkan ajaran-ajaran agama.
Ringkasnya mudarah adalah mendekatkan diri, mengambil hati manusia dengan berkompromi dalam masalah dunia, namun tidak dalam masalah agama. Sedangkan bermudahanah yaitu ingin mendekatkan diri pada manusia dengan kompromi dalam masalah agama. Seperti halnya seseorang yang memberi makan kepada tetangganya yang awam, bertutur kata yang lembut, menegur tetangganya, maka inilah yang disebut dengan mudarah. Kompensasinya ialah dalam masalah dunia. Akan tetapi jika kemudian mengucapkan selamat Natal pada orang Nasrani, mengikuti acara-acara syirik, acara bidah, maka inilah mudahanah. Cara-cara seperti ini yang justru disebut oleh sebagian orang dengan toleransi.

Dan Nabi shallallaahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaqnya, yang paling lembut dengan umat. Maka perbuatan Nabi tersebut menggambarkan sisi lembut dari petunjuk dan sikap Nabi. Namun di sisi lain beliau adalah manusia yang paling tegas dalam agama Allah, tidak akan ia biarkan seorang pun meninggalkan aturan-aturan Allah siapapun dia. Dan sikap ini mewakili aspek keteguhan dalam memegang agama. Sikap ini bertolak belakang dengan mudahanah.
Sebagian orang menganggap sikap teguh dalam memegang agama bertolak belakang dengan mudarah. Tidak mau membantu, memberi makan, mengantarkan anak yang sakit pada tetangga yang awam, pelaku bidah, dan sebagainya. Mereka justru menganggap perbuatan ini sebagai keteguhan dalam beragama.

Maka menjadi kewajiban penuntut ilmu untuk bisa membedakan hal ini. Karena sebagian orang boleh jadi beranggapan bahwa berbuat baik pada orang, bersikap lemah lembut pada orang sebagai sikap lemah dan lembek dalam beragama. Sedangkan kelompok yang lain beranggapan bahwa termasuk lemah lembut pada manusia adalah membiarkan manusia dalam kebathilan, dan diam terhadap kesalahan bahkan menyokong kebathilan dan kebidahan tersebut. Dua sikap ini adalah keliru dan pelakunya adalah orang yang berada dalam kebingungan, tidak tahu akan kebenaran. Maka perhatikanlah sikap ini, karena ini adalah perkara yang menggelincirkan yang sangat berbahaya dan tidak ada yang terjaga dari hal ini [merancukan hal ini] kecuali orang yang diberi taufiq oleh Allah dan diberi hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
K a i t a n  d e n g a n  F e n o m e n a  P e r p e c a h a n

Apa hubungan antara nasihat ini dengan fenomena perpecahan yang dibahas? Diantara penyebab dan semakin parahnya perpecahan adalah anggapan sebagian orang bahwa mudarah itulah mudahanah. Ketika melihat seseorang berlemah lembut pada ahli bidah, segera divonis bahwa ia melakukan mudahanah dan dipertanyakan keahlussunnahannya.
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2010 in Islam

 

Tag: , , , ,

One response to “Nasihat dalam Menghadapi Perpecahan : Sebuah Catatan Kajian [Poin 4 : Bedakanlah Antara Mudarah dan Mudahanah!]

  1. Tarbiyatul banin

    Februari 8, 2010 at 3:31 pm

    ooo, ane baru tahu akhi, konsep itu, artikel bagus, sukron

    hem itu yang menjawb masalah pluralisme ya

    HOT POSTING
    Pesantren, sistem pendidikan tertua yang masih di nomor2kan ternyata Kontributif untuk bangsa

    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/2010/02/08/pesantren-sistem-pendidikan-tertua-yang-masih-di-nomor2kan-ternyata-kontributif-untuk-bangsa/

    TUKER LINK YUK AKHI
    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: