RSS

Faidah Hadits “Hukum” ke-33 Al Arba’in An Nawawiyah

23 Feb


عَنِ ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أنَّ رَسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : (( لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْواهُم ، لادَّعى رِجالٌ أموالَ قَومٍ ودِماءهُم ولكن البَيِّنَةُ على المُدَّعي واليَمينُ على مَنْ أَنْكر )) . حديثٌ حسنٌ ، رواهُ البَيهقيُّ وغيرُهُ هكذا ، وبَعضُهُ في “الصحيحين

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : “Seandainya manusia diberi menurut pengakuan mereka, niscaya orang-orang akan menuntut harta dan darah orang lain, akan tetapi haruslah ada bukti bagi yang mengakunya dan sumpah bagi yang mengingkari dakwaan.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan selainnya, dan sebagiannya terdapat dalam Shahihain.[1]

Takhrij Hadits :

Hadits ini dikeluarkan oleh Al Bukhari [43/6, 4552], dan Muslim [128/5, 1711], dan juga oleh Abdurrazzaq [15193], Ibnu Majah [2321], An Nasa’i dalam “Al Kubra” [5994], Ath Thahawiy dalam “Syarh Ma’anil Atsar” [191/3], Ibnu Hibban [5082 dan 5083], Ath Thabrani dalam “Al Kabiir” [1124 dan 1125], dan dalam “Al Awsath” [7971][2]

Fawaid Hadits :

  1. Kesungguhan Islam dalam penjagaan terhadap hak-hak manusia.
  2. Hadits ini merupakan landasan dalam masalah bukti dan penyelesaian sengketa. Berkata Syaikh As Sa’diy rahimahullah, “Hadits ini merupakan ketetapan agung, dan landasan bagi sistem peradilan dan hukum. Bahwa sebuah keputusan dibuat ketika terjadi perselisihan, yaitu adanya pihak yang mengklaim suatu hak, dan pihak yang lain mengingkarinya, atau adanya pihak yang berlepas diri dari sesuatu yang telah ditetapkan baginya. Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam telah memberikan landasan bagi penyelesaian perselesihan semacam ini, yang dapat membedakan dengan jelas antara pihak yang benar dan pihak yang bersalah”.
  3. Bahwasanya bukti ditunjukkan oleh pihak yang menuduh, yaitu berfungsi untuk menguatkan tuntutan dan sebagai dalil bagi benarnya hujjah tersebut. Termasuk diantara bukti ialah adanya saksi yang membenarkan pengakuan tersebut. Syarat-syarat bagi seorang saksi yaitu baligh, berakal, kalam (mampu menyampaikan persaksian), dan adil. Dalam masalah zina disyaratkan empat orang saksi laki-laki, dan tidak diterima persaksian perempuan. Dalam masalah pernikahan, thalaq, dan ruju’ disyaratkan dua orang. Dalam masalah harta, dan yang berkaitan dengannya seperti jual beli disyaratkan dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Dalam masalah persusuan, kelahiran, kegadisan seorang wanita, dan perkara-perkara lain yang tidak memungkinkan untuk disaksikan oleh laki-laki, maka diterima persaksian dari seorang perempuan. Adapun hikmah ditetapkannya bukti bagi orang yang mengklaim suatu hak yaitu dikarenakan masalah pengakuan merupakan masalah tersembunyi yang butuh untuk ditampakkannya, dan bukti merupakan dalil yang dapat menampakkan hal tersebut.
  4. Jika penuduh tidak mampu menghadirkan bukti maupun saksi, maka hakim akan meminta pihak tertuduh untuk mengingkari kebenaran tuduhan tersebut dengan sumpah. Wajib untuk memperingatkannya dari sumpah palsu, dan telah datang suatu janji dalam masalah ini, “Barangsiapa mengambil sebagian hak dari seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dan mengharamkan atasnya surga. Para shahabat bertanya, ‘Walaupun sedikit wahai Rasulullah?’, Rasulullah menjawab, ‘Walaupun sebesar dahan pohon arak’” [HR. Muslim 321]
  5. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam menjelaskan melalui hadits ini suatu ketetapan, dan menjelaskan hikmah dari syariat ini secara menyeluruh, yaitu untuk kebaikan hamba dalam masalah agama maupun dunia mereka. Seandainya manusia diberi berdasarkan pengakuan mereka maka akan terjadi banyak keburukan dan kerusakan, dan orang-orang akan menuntut harta dan darah milik orang lain.
  6. Argumentasi pihak penuduh didahulukan dalam hukum daripada pihak tertuduh. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada pihak penuduh dalam memutuskan suatu perkara, “Adakah bukti?” Orang itu menjawab “Tidak”, maka Rasulullah bersabda, “Maka baginya sumpah”.[3]
  7. Syariat datang dengan penjagaan terhadap harta benda dan darah (nyawa) manusia.
  8. Kecintaan jiwa manusia terhadap harta benda
  9. Wajibnya seorang hakim untuk menghukumi permasalahan dengan adil.[4] Wajib baginya untuk mencurahkan perhatian dan berpandangan luas dalam mencari kebenaran, karena balasan bagi seorang hakim adalah sebagaimana dalam hadits berikut, “Jika seorang hakim memutuskan suatu perkara dengan ijtihadnya, kemudian ia benar maka baginya dua pahala, dan jika ia memutuskan suatu perkara dengan ijtihadnya, kemudian ia salah maka baginya satu pahala” [HR. Bukhari dalam Kitab Al I’tisham 8/157][5]
  10. Pengecualian kaidah “Bukti bagi yang mengakunya dan sumpah bagi yang mengingkari dakwaan”. Dikecualikan dalam kaidah ini beberapa masalah. Salah satunya li’an, yaitu seorang lelaki yang menuduh istrinya berzina dengan lelaki lain –semoga Allah melindungi kita dari perbuatan tersebut. Lelaki tersebut bersumpah empat kali bahwa sang perempuan telah berzina, dan yang kelima kalinya bahwa la’nat Allah akan menimpanya jika ia berdusta. Kemudian sang perempuan juga bersumpah empat kali bahwa ia tidak berzina, dan kelima kalinya bahwa ia akan menerima adzab Allah jika berdusta. Maka dalam masalah li’an, pihak yang menuduh, dan bukannya pihak tertuduh, memulai telebih dahulu dengan sumpah.
  11. Shighat (bentuk) sumpah bagi pihak yang mengingkari. Sebagaimana disebutkan dalam atsar, bahwa shighat (bentuk kalimat) sumpah adalah : والله! الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة “Demi Allah! Yang tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Ia, Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan Mempersaksikan”. Akan tetapi, boleh membawakan shighat lain sebagaimana disebutkan dari Al Hasan rahimahullah, bahwa beliau tidak menggunakan konteks kalimat di atas.
  12. Qarinah (indikasi) dapat dijadikan sebagai alat bukti. Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Al Bayyinah (Bukti) diambil dari kata Al Bayan (penjelasan; keterangan), dan yang dimaksud Al Bayyinah ialah segala sesuatu yang dapat menjelaskan kebenaran dan memisahkannya dari kebathilan. Dan hal tersebut tidaklah terbatas pada persaksian dan pengakuan, akan tetapi juga mencakup qarinah (indikasi)”. Dan diantara qarinah yang dicontohkan dalam Al Qur’an adalah dalam kisah Nabi Yusuf alaihissalam, yang kemudian hukum ditetapkan melalui adanya qarinah. Allah Ta’ala berfirman, “Yusuf berkata: ‘Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)’, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: ‘Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar’ Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: ‘Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar’”(QS. Yusuf : 26-28).[6]
  13. Sumpah tidak membutuhkan penguatan maupun pengulangan. Penguatan yang dimaksud dapat berupa penguatan dengan tempat, contohnya dengan bersumpah di masjid, penguatan dengan waktu, contohnya dengan bersumpah di akhir malam atau di hari Jum’at, dan tidak perlunya bersumpah dengan menyebutkan berbagai nama Allah, seperti bersumpah dengan nama Allah Al Azhim (Yang Maha Agung), Al Qadir (Yang Maha Kuasa), dan yang serupa dengan hal tersebut. Hakim tidak memandang berbagai penguatan tersebut sebagai hal yang diperlukan bagi pemutusan perkara, akan tetapi hakim memutuskan dengan menimbang mana hujjah (argumentasi) yang paling kuat.[7]
  14. Sebagaimana seorang yang membuat pengakuan dalam masalah dunia harus mendatangkan bukti, begitu pula dalam masalah akhirat seseorang harus mendatangkan bukti untuk menunjukkan benarnya suatu pengakuan. Oleh karena itu, seseorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul shallallaahu alaihi wa sallam harus menunjukkan kebenaran pengakuan tersebut dengan mengikuti Rasul shallallaahu alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, “Katakanlah [wahai Muhammad] : ’Jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu’”. Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya terhadap ayat ini, “Ayat yang mulia ini merupakan vonis bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tanpa mengikuti thariqah Muhammadiyah (metode Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dalam beragama –pen), maka sesungguhnya ia telah berdusta dengan pengakuannya itu, hingga ia mau mengikuti syariat Muhammad dan agama kenabian dalam seluruh perkataan maupun perbuatannya”.[8]

Yogyakarta, 9 Rabi’ul Awwal 1431 H

Yhouga Ariesta M.


[1] Terjemahan diambil dari Ibnu Daqiiqil ‘Ied, Syarah Hadits Arba’in. Pustaka At-Tibyan, Solo.

[2] Ibnu Rajab Al Hambali. Jamiul Ulum wal Hikam. Asy Syamilah.

[3] Syarh Muslim Kitabul Ayman 1/344 dalam Qawa’id wa Fawa’id min Al Arba’in An Nawawiyah, Nazhim Muhammad Sulthan. Cetakan Darul Hijrah

[4] Poin-poin di atas diringkas dari Syarh Arba’in Nawawiyah. Syaikh Sulaiman bin Muhammad Al Luhaimid. http://www.almotaqeen.net

[5] Qawa’id wa Fawa’id min Al Arba’in An Nawawiyah hal. 284

[6] Diringkas dari Syarh Arba’in An Nawawiyah. Syaikh Athiyah Muhammad Salim.

[7] Syarh Arba’in Nawawiyah. Fadhilatus Syaikh Dr. Abdur Rahman bin Shalih Ad Dahsy hal. 118

[8] Fathul Qowiy Al Matin. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr. Hal. 115-116

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2010 in Islam

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: