RSS

10 Bid’ah dalam 10 Detik

26 Feb

Ternyata, praktek melafalkan niat sudah muncul sejak zaman Ibnul Qoyyim rahimahullah. Itu artinya semenjak abad ke-8 Hijriah, orang telah mulai berlatih membuat report🙂, mencakup 5W1H tentang situasi dan kondisi ketika shalat dalam niatnya. Tak heran bila Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah juga mereport, sekaligus mengomentari praktek ini dalam kitabnya Zaadul Ma’ad, sebagai berikut :

[ لَمْ يَتَلَفّظْ بِالنّيّةِ ]

كَانَ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ إذَا قَامَ إلَى الصّلَاةِ قَالَ ” اللّهُ أَكْبَرُ ” وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا قَبْلَهَا وَلَا تَلَفّظَ بِالنّيّةِ الْبَتّةَ وَلَا قَالَ أُصَلّي لِلّهِ صَلَاةَ كَذَا مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ إمَامًا أَوْ مَأْمُومًا وَلَا قَالَ أَدَاءً وَلَا قَضَاءً وَلَا فَرْضَ الْوَقْتِ وَهَذِهِ عَشْرُ بِدَعٍ لَمْ يَنْقُلْ عَنْهُ أَحَدٌ قَطّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَلَا ضَعِيفٍ وَلَا مُسْنَدٍ وَلَا مُرْسَلٍ لَفْظَةً وَاحِدَةً مِنْهَا الْبَتّةَ بَلْ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَلَا اسْتَحْسَنَهُ أَحَدٌ مِنْ التّابِعِينَ وَلَا الْأَئِمّةِ الْأَرْبَعَةِ

[ لَمْ يَتَلَفّظْ بِالنّيّةِ ]كَانَ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ إذَا قَامَ إلَى الصّلَاةِ قَالَ ” اللّهُ أَكْبَرُ ” وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا قَبْلَهَا وَلَا تَلَفّظَ بِالنّيّةِ الْبَتّةَ وَلَا قَالَ أُصَلّي لِلّهِ صَلَاةَ كَذَا مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ إمَامًا أَوْ مَأْمُومًا وَلَا قَالَ أَدَاءً وَلَا قَضَاءً وَلَا فَرْضَ الْوَقْتِ وَهَذِهِ عَشْرُ بِدَعٍ لَمْ يَنْقُلْ عَنْهُ أَحَدٌ قَطّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَلَا ضَعِيفٍ وَلَا مُسْنَدٍ وَلَا مُرْسَلٍ لَفْظَةً وَاحِدَةً مِنْهَا الْبَتّةَ بَلْ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَلَا اسْتَحْسَنَهُ أَحَدٌ مِنْ التّابِعِينَ وَلَا الْأَئِمّةِ الْأَرْبَعَةِ

[Tidak Melafalkan Niat]

Adalah Nabi shallallaahu alaihi wa sallam jika berdiri untuk menegakkan shalat beliau bertakbir, “Allahu Akbar”, tidak mengucapkan suatu kata pun sebelumnya, tidak melafalkan niat sedikitpun, dan tidak mengucapkan :

  1. Ushalli Lillah [Aku shalat karena Allah]
  2. Jenis shalat [Zhuhur, Ashar, ba’diyah, qobliyah, dsb. -pent]
  3. Menghadap qiblat
  4. Empat raka’at
  5. Sebagai imam
  6. Sebagai makmum
  7. Tepat waktunya
  8. Qadha’
  9. Wajib
  10. Waktu shalat

dan inilah sepuluh bid’ah, yang tidak diriwayatkan walau oleh seorang saja, tidak dengan isnad shahih, tidak pula dho’if (lemah), tidak pula berstatus musnad, tidak pula mursal, walaupun satu lafadz saja, tidak pula dari seorang pun shahabat, dan yang mengikuti mereka dengan baik, dari kalangan tabi’in, dan tidak pula imam yang empat [Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad -pent].  [Zaadul Ma’ad, 1/194 Asy Syamilah]

[Nukilan ini disebutkan dalam Al Wajiz fii Fiqh As Sunnati wa Al Kitab Al Aziz, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, cetakan Daar Ibnu Rojab, Mesir. Kami dengarkan pertama kalinya dalam kajian rutin fiqh yang dibawakan Ustadz Aris Munandar, SS -hafizhahullahu ta’ala]

NB : Mohon maaf, artikel ini akan disetting untuk tidak menerima komentar. Preventif dari debat kusir dan segala perbuatan yang menjurus ketersiaan. Sekali lagi, ini hanyalah kutipan belaka dari sebuah kitab. Penjelasan lengkapnya, silakan merujuk pada Ustadz, dan buku-buku yang berkaitan dengan hal ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 26, 2010 in Islam

 

Tag: , , , , , , , ,

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: