RSS

Allah Membagi Amal, Sebagaimana Ia Membagi Rezeki

29 Mei

Telah kita lihat dan jumpai bahwa dalam kehidupan nyata, terdapat pembagian keahlian yang dimiliki setiap orang. Terutama dalam masalah mencari rezeki. Si A seorang dokter di sebuah rumah sakit, namun lemah dalam masalah tukang menukang. Si B seorang kontraktor yang ahli membangun gedung, namun lemah dalam merangkai kata-kata yang indah nan puitis. Si C seorang orator dan komunikator ulung, namun ia paling menghindar jika diminta membuat tulisan atau makalah. Semuanya berpengaruh dalam kehidupan karier seseorang. Karena itu, memang sudah Allah tetapkan sebagai bagian dari rezeki mereka. Makanya, sering orang bilang, “Memang sudah rejekinya di situ”.

Begitu pula dalam masalah amal. Suatu ketika, Abdullah Al ‘Amri, seorang ahli ibadah, pernah menulis kepada Malik seperti ini :

“Sesungguhnya Allah telah membagi amalan sebagaimana ia membagi rizki, maka ada orang yang dibukakan baginya pintu untuk shalat (maksudnya dipermudah dalam mengerjakan shalat -pen), akan tetapi tidak dibukakan baginya pintu puasa, yang lainnya dibukakan pintu shadaqah, akan tetapi tidak dibukakan pintu puasa, sedangkan yang lainnya lagi dibukakan pintu untuk berjihad.”

Ini merupakan rahasia Allah Ta’ala. Oleh karena itu, dianjurkan bagi kita untuk memiliki satu amalan andalan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Bilal dengan shalat sunnah setelah wudhunya :

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu, Bahwasanya Nabi shollallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Bilal selepas sholat subuh : “Ceritakan kepada saya satu amalan yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara sendal kamu berada di pintu surga”, Bilal berkata : “Saya tidak melakukan sesuatu apapun yang lebih baik melainkan saya tidak pernah bersuci dengan sempurna pada setiap saat, baik malam maupun siang hari, kecuali saya selalu melakukan sholat sebanyak yang mampu saya kerjakan”. (HR. Al-Bukhari)

Lantas, adakah amalan andalan yang paling utama ?

Abdullah Al ‘Amri kembali melanjutkan dalam risalahnya kepada Malik :

“Maka menyebarkan ilmu merupakan amal kebaikan yang paling utama”

Maka dalam hal ini, beliau mengakui kelebihan Malik. Akan tetapi, bukan berarti kemudian ia tidak ridha dengan pembagian ini. Bahkan, dalam bahasa yang sangat indah, rasa ghibthah tersebut ia ungkap dalam sebuah lantunan doa nan indah.

“Sungguh aku ridha dengan apa yang telah dibukakan untukku (yaitu sebagai ahli ibadah -pen), dan aku menyangka hal ini tidaklah engkau miliki. Akan tetapi aku berharap agar kedua hal ini sama-sama baiknya dan bermanfaat.”

Tergetar hati saya tatkala membaca penggalan risalah Abdullah Al Amri ini. Bagi saya, risalah ini merupakan penentram jiwa ketika melihat sebagian teman yang dikaruniai kelebihan dalam hal ini, hal itu. Pintar ini, pintar itu, dan sebagainya.

Inilah akhlaq salaf sebenarnya. Maka dimanakah kita berada ?

[Referensi : Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, ‘Abdul Aziz bin Nashir Al Jalil dan Bahauddin bin Fatih ‘Aqil, Darut Thayyibah hal. 41]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 29, 2010 in Islam

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: