RSS

Inginkah Anda Kehidupan yang Baik ?

23 Jun

Apakah kehidupan yang baik itu ?

Apakah itu berupa banyaknya harta ?

Ataukah berupa banyaknya keturunan ?

Ataukah berupa ketentraman suatu negeri ?

Al Qur’an wahai saudaraku, telah menjawab berbagai pertanyaan tersebut. Al Qur’an ini turun dengan makna, hikmah, maka selayaknya bagi kita untuk kembali kepada Al Qur’an dengan kembali mentadabburinya, mengetahui maknanya, kemudian menerapkan isi kandungannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Itulah kebahagiaan dunia dan akhirat yang sebenarnya.

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti  petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”  [QS. Thahaa : 123 – 124]

Ketahuilah wahai saudaraku , sesungguhnya kehidupan yang baik itu ialah kelapangan dada dan ketenangan hati. Tidak ada kenikmatan, tidak ada kelapangan dada, tidak pula ketenangan hati melainkan hanya bagi orang yang beriman, walaupun ia seorang yang faqir. Orang yang beriman ialah yang paling lapang dadanya, paling tenang hatinya, sesuai firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. An Nahl : 97]

Sesungguhnya orang beriman memiliki ketenangan hati dan kelapangan dada, sesuai dengan sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam.

Menakjubkan perkara orang yang beriman, sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan, dan tidak ada yang memilikinya kecuali orang yang beriman. Apabila dirinya memperoleh kebahagiaan ia bersyukur hingga jadilah kebaikan baginya, dan jika keburukan menimpanya ia pun bersabar, dan itu juga kebaikan baginya” [HR. Muslim 2999]

Adakah orang kafir bersabar ketika ditimpa keburukan ?

Tidak, bahkan mereka pun bersdih, dunia menjadi sempit bagi mereka. Beberapa dari mereka kemudian memutuskan bunuh diri. Akan tetapi seorang mukmin, akan bersabar dan mendapati lezatnya kesabaran yang luas lagi menenangkan hati. Itulah kehidupan yang baik sesungguhnya, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala (yang artinya) “akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. Itulah hidupnya hati dan juga diri.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan secuplik fragmen dari kehidupan Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah, ketika beliau menjabat sebagai qadhi qudhaat (hakim agung) Mesir di masanya. Suatu ketika, beliau datang ke salah satu wilayah kerjanya dengan menggunakan kereta yang ditarik oleh arak-arakan kuda atau bighal (peranakan kuda dengan keledai). Maka lewatlah seorang Yahudi penjual minyak dengan pakaian kotornya, kemudian menghadang arak-arakan dan berkata kepada Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Sesungguhnya Nabimu telah bersabda, ‘Dunia ialah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir’ [HR. Muslim 2956]. Sedangkan engkau seorang hakim agung Mesir, engkau datang dengan arak-arakan, dengan kenikmatan seperti ini. Sedangkan aku, malah ditimpakan adzab dan kesengsaraan seperti ini.”

Maka Al Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah pun berkata :

“Aku berada dalam kemewahan dan kenikmatan ini, apabila dibandingkan dengan nikmatnya surga maka ini adalah penjara. Adapun engkau dengan kesengsaraanmu apabila dibandingkan dengan adzab neraka, maka kesengsaraanmu itu adalah surga bagimu”

Seketika itu pula si Yahudi berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah”. Kemudian si Yahudi tersebut masuk Islam.

Maka orang mukmin berada dalam kebaikan, itulah keberuntungan dunia dan akhirat

Sedangkan orang kafir berada dalam keburukan, itulah kerugian dunia dan akhirat

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [QS. Al Ashr : 1-3]

Wahai saudaraku, sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka yang mengabaikan agama Allah, lenyaplah bagi mereka segala kenikmatan dan kemewahan, walaupun mereka berhasil membangun, mempermegah, dan meninggikan isi dunia, akan tetapi hakikatnya bagi mereka neraka Jahiim. Hingga para salaf berkata, “Seandainya para raja dan pangeran mengetahui apa yang kami miliki (yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat -pent), niscaya mereka akan memerangi kami dengan pedang-pedang mereka“.

Adapun orang mukmin, maka bagi mereka bermunajat kepada Allah dan mengingat-Nya dengan dzikrullah, merupakan nikmat. Dan mereka bersama qadha’ dan qadar Allah, artinya apabila keburukan menimpa mereka pun bersabar, apabila kenikmatan yang datang mereka pun bersyukur. Dengan itulah mereka berada dalam kenikmatan, dengan menyelisihi penduduk dunia, yang Allah mensifati penduduk dunia melalui firman-Nya (yang artinya), “Jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” [QS. At Taubah : 58]

Wahai saudaraku, itulah Kitabullah yang ada di tangan kita, hendaklah kita kembali kepadanya, dengan senantiasa mentadabburi dan beramal dengannya.

(diambil sebagian besar isinya dari Ash Shohwah Al Islamiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, hal. 11-13, cetakan Madarul Wathan Li An Nasyr)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 23, 2010 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: