RSS

Gerhana Terjadi dengan Dua Sebab

30 Jun

26 Juni 2010 lalu terjadi gerhana bulan. Dari beranda wisma saya, bulan terlihat tertutupi sebagian. Istilah kerennya adalah gerhana bulan parsial. Peristiwanya terjadi ba’da Maghrib hingga hampir satu jam setelah Isya’. Tentu kurikulum mata pelajaran Sekolah Dasar kita mengajarkan penjelasan sederhana mengenai terjadinya gerhana. Akan tetapi jarang yang mengungkapkan bahwa sebenarnya gerhana terjadi karena dua sebab, yaitu :

  1. Sebab Hissiy, yaitu sebab yang diketahui oleh ahli astronomi melalui ilmu hisab (perhitungan). Diantaranya ialah akibat posisi bulan yang terletak di antara bumi dan matahari dalam kasus gerhana matahari,  dan posisi bumi yang terletak di antara matahari dan bulan dalam kasus gerhana bulan. Gerhana matahari hanya terjadi pada akhir bulan Qomariyah (penanggalan Hijriah), dikarenakan dekatnya posisi bulan pada waktu itu dengan sumbu matahari, sehingga sangat memungkinkan tertutupinya matahari oleh bulan. Sementara itu gerhana bulan tidaklah terjadi melainkan pada pertengahan bulan Qomariyah, dikarenakan posisi bulan berhadapan dengan sisi bumi yang membelakangi matahari, sehingga memungkinkan posisi bumi terletak di antaranya. Sebab hissi yang lebih rinci dapat dilihat di sini dan di sini.
  2. Sebab syar’i, yang tidak diketahui oleh manusia. Sebab syar’i hanya dapat diketahui melalui wahyu, diantaranya keinginan Allah untuk membuat hamba-Nya takut melalui suatu fenomena alam, terkadang bersifat sebagai hukuman atas suatu sebab atau justru menandakan adanya nikmat yang akan datang, atau bisa pula sebagai ujian (fitnah) baik dalam hal agama maupun dunia.

Dua sebab tersebut tidaklah saling meniadakan atau bertentangan, contohnya dalam hal gerhana, tidaklah terjadi melainkan dengan sebab perintah Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya. Oleh karena itu Allah kemudian menetapkan sebab hissiy yang dapat mengakibatkan terjadinya gerhana, dan terdapat hikmah dalam hal tersebut seperti dalam rangka menambah rasa takut hamba, sebagaimana ketika Allah menakdirkan terjadinya gempa, tanah longsor, angin tornado melalui sebab hissiy. Terdapat di balik semua peristiwa itu pelajaran bagi orang yang memiliki akal (ulil albab), dan pengingat bagi orang beriman serta nasihat bagi orang bertaqwa. [Tanbihul Afham, 327]

Mengingkari sebab syar’i dan hanya mengakui sebab hissiy semata merupakan hal yang sangat berbahaya bagi aqidah seseorang. Bahkan, hal tersebut dapat menjadi pembatal keIslaman apabila terdapat pengingkaran secara muthlaq terhadap sebab hissiy. (faidah dari rekaman kajian Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi hafizhahullah)

Barangkali inilah hikmah pensyariatan shalat gerhana (shalat kusuf) yang dilakukan pada saat gerhana dengan empat ruku’ empat sujud dalam dua raka’at. Kemudian diakhiri dengan khutbah yang menasihatkan pada taqwa berkenaan dengan peristiwa gerhana yang tengah terjadi. Alhamdulillahnya, sunnah ini telah lazim dilaksanakan di kampung kost kami, hingga dua masjid yang berdekatan juga mengadakan shalat gerhana ini. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmu ash-shalihat.

Referensi : Tanbihul Afham Syarh ‘Umdatul Ahkam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, hal. 327

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 30, 2010 in Islam

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: