RSS

Tauhid Menurut Ahli Kalam

14 Agu

Sebagian orang mengatakan : tauhid hanya ada satu jenis saja, yaitu tauhid rububiyah. Yaitu pengenalan seorang hamba bahwasanya Allah-lah Sang Pencipta, Sang Pemberi Rizki, Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan, dan berbagai perbuatan dan sifat Allah Jalla wa ‘Alla lainnya. Inilah pendapat mayoritas ahli kalam (filsafat) yang mendasarkan aqidah mereka pada ilmu kalam.

Keyakinan seperti ini memang ada. Apabila kita membaca kitab-kitab mereka tidak akan kita jumpai penetapan tauhid, kecuali rububiyah semata. Barangsiapa yang mengenal tauhid tersebut dialah seorang muwahid (dalam anggapan mereka). Tidak ada yang namanya tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wa shifat.

Oleh karena itu mereka tidak menentang ibadah kepada penghuni kubur, dan tidak menganggap berdo’a kepada orang mati adalah kesyirikan.  Akan tetapi mereka hanya menganggapnya sebagai perbuatan menghadapkan ibadah kepada selain Allah, dan sekedar mengakui bahwa perbuatan tersebut adalah sebuah kesalahan. Akan tetapi mereka tidak menetapkannya sebagai bentuk kesyirikan.

Sebagian mereka juga mengatakan : bahwasanya orang-orang yang beribadah kepada orang mati, istighotsah kepada penghuni kubur, bukanlah termasuk kesyirikan. Karena orang-orang yang beribadah kepada orang mati itu tidak meyakini bahwa sesembahan mereka, yaitu penghuni kubur dan orang mati, sebagai pencipta, pemberi rizki, dan pengatur urusan selain Allah. Maka selama orang-orang yang beribadah kepada orang mati meyakini hal semacam itu, mereka tidak termasuk dalam golongan musyrikin, dan amal mereka bukanlah bentuk kesyirikan. Melainkan mereka itu hanyalah mengambil sesuatu sebagai perantara (wasilah) antara mereka dan Allah dalam bentuk syafa’at.

Itulah perkataan mereka, persis dengan apa yang diucapkan orang-orang musyrik zaman dahulu,  “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” [Az Zumar : 3] Demikian pula firman-Nya, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. [Yunus : 18]

Ahli kalam berkata : sesungguhnya ibadah kepada penghuni kubur dan bergantung kepada orang mati, istighotsah kepada mereka bukanlah bentuk kesyirikan, melainkan tawassul dan meminta syafa’at, dan mengambil perantara kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan termasuk kesyirikan kecuali jika diikuti keyakinan bahwa sesuatu tersebut bisa menciptakan, memberi rizki, dan mengatur urusan selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Inilah yang diambil dari penjelasan mereka dan terdapat dalam kitab-kitab maupun perkataan mereka.

Apabila ada di antara mereka yang mengingkari perbuatan ibadah kepada orang mati tersebut, mereka akan mengatakan bahwa ibadah semacam itu salah. Perbuatan tersebut merupakan bentuk kebodohan tanpa ada unsur kesengajaan.

Akan tetapi mayoritas mereka tidak mengingkarinya, bahkan mengatakan : itu adalah perbuatan mengambil perantara dan syafa’at kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bukanlah bentuk kesyirikan.

Pendapat ini tidaklah kami nukil dari perkataan satu kaum pun, melainkan terdapat dalam kitab-kitab yang mereka gunakan untuk membantah ahli tauhid, dan membela pelaku kesyirikan.

Adapun dalam masalah asma’ dan shifat, mereka berpendapat bahwa penetapan asma’ dan shifat termasuk tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluq -pent), sehingga mereka menafikan asma’ dan shifat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Semisal kelompok Jahmiyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, mereka menafikan tauhid asma’ wa shifat dengan tujuan mensucikan Allah (dalam anggapan mereka) dari keserupaan dengan makhluq. Praktis, tauhid bagi mereka hanyalah tauhid rububiyah saja, tidak ada bagi mereka tauhid uluhiyah maupun tauhid asma’ wa shifat.

Mereka juga mengingkari pembagian tauhid menjadi tiga, sampai-sampai salah satu kitab mereka pada zaman ini menyebutkan, “Pembagian tauhid menjadi tiga sama saja dengan konsep Trinitas ! Pembagian semacam ini jelas telah terjatuh dalam cara beragamanya kaum Nashara”. Wal ‘iyadzubillah.

(terjemahan seadanya dari Durus Minal Qur’anil Karim, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hal. 14-16 cet. Darul ‘Ashimah. Sekaligus sebagai informasi bahwa kitab ini dikaji secara rutin insya Allah selama 20 hari di bulan Ramadhan 1431 H di Masjid Al Ashri Pogung Rejo Sleman Yogyakarta pukul 05.30-07.00 WIB, dengan pemateri Al Ustadz Aris Munandar, SS.)

Komentar yhougam : Bandingkan keyakinan ahli kalam di atas dengan fatwa yang sempat beredar ketika kasus batu ajaib Ponari. Tidak ada pengingkaran terhadap bentuk tawassul yang bathil, melainkan hanya seruan untuk menata niat. Nampak sama ?

http://hasilblog.com/157/mui-turun-tangan-tanggapi-pengobatan-lewat-batu-ponari-dan-siti-nurrohmah/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 14, 2010 in Islam

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: