RSS

Bashirah dalam Dakwah

09 Sep

“Katakanlah (Wahai Muhammad), inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah di atas bashirah, dan maha suci Allah, aku bukanlah termasuk golongan musyrikin” [QS. Yusuf : 108]

Barangsiapa yang mengaku mengikuti Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, haruslah ia berdakwah kepada Allah di atas bashirah, bukan di atas kebodohan.

Makna bashirah dalam ayat ini mencakup bashirah dalam tiga hal, yaitu :

Pertama, bashirah dalam materi dakwah

Maksudnya adalah berilmu terhadap hukum syar’i yang ia dakwahkan. Terkadang seseorang menyangka hukum sesuatu itu wajib padahal sebenarnya bukanlah wajib, itu artinya ia mewajibkan apa yang tidak Allah wajibkan. Atau ia menyeru untuk meninggalkan sesuatu yang ia kira haram, padahal sesuatu itu sebenarnya tidaklah haram, maka jadilah ia mengharamkan apa yang Allah tidak haramkan.

Contoh : “Bagaimana hukumnya mendengarkan Al Qur’an dari file rekaman suara? Karena hal ini tidak pernah dikenal pada masa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat, maka termasuk bid’ah. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap perbuatan bid’ah itu sesat” [HR. Muslim 867]

Inilah contoh tidak adanya bashirah dalam materi dakwah, karena file rekaman suara hanyalah perantara (wasilah) untuk menjaga hafalan Al Qur’an seseorang, dan hukum wasilah mengikuti hukum maksud (tujuan) seseorang.

Demikian pula adakah pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam percetakan dan gudang penyimpanan Al Qur’an? Tidak ada, bahkan pengumpulan Al Qur’an menjadi mushaf pun baru ada pada zaman Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu tahun 16 H. Apakah berarti hal ini termasuk bid’ah? Tidak.

Kebalikannya ialah, apabila misalnya file rekaman adzan diperdengarkan lewat mikrofon untuk menggantikan peran muadzin. Ini juga sebuah kesalahan.

Maka, wajib bagi setiap manusia untuk memiliki bashirah dalam materi dakwah.

Sebagian orang lagi menghukumi sebagian perkara yang bukan sebuah kewajiban, sebagai perkara wajib. Dibangun dengan ijtihad yang keliru, ta’wil, dan syubhat yang tidak ada dasarnya. Apalagi menjadikan hal tersebut sebagai tolak ukur wala’ dan bara’! Apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat dengannya, ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri telah menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah. Namun, apabila pendapat seseorang sesuai dengan pendapatnya, ia pun mencintainya.

Atau sebagian pemuda yang mencintai ulama tertentu, dengan sebab ia berfatwa sesuai dengan yang mereka yakini sebagai kebenaran. Dan membenci ulama lain, dengan sebab ia berfatwa dengan apa yang tidak mereka yakini sebagai kebenaran. Padahal seorang mufti, seharusnya tidak berfatwa untuk mencari pujian manusia, atau mencari kecintaan manusia. Melainkan ia seharusnya berfatwa dengan apa yang ia yakini sebagai syari’at Allah. Seorang mufti seharusnya berilmu terhadap syari’at sebelum ia mengeluarkan fatwa.

Kedua, bashirah terhadap kondisi objek dakwah (mad’u)

Sebagaimana dalam pengutusan Mu’adz ke Yaman, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum Ahli Kitab” [HR. Bukhari 1395, dan Muslim 19], dalam rangka mengenalkan kondisi objek dakwah kepada Mu’adz.

Mungkinkah kita berdakwah kepada seseorang tanpa tahu perihal kondisinya?

Kondisi objek dakwah adalah hal yang harus diketahui. Seberapa tingkat ilmunya? Seberapa tingkatnya dalam debat? Baru setelah itu dilakukan diskusi dan debat, karena apabila telah masuk dalam perdebatan, yang ada saat itu hanya saling beradu argumen. Apabila kita mengalami kekalahan akibat tidak mengenal lawan bicara, jadilah hal tersebut bencana besar bagi al haqq, dan kitalah penyebabnya.

Jangan dikira pula bahwasanya setiap ahlul bathil pasti memiliki argumen yang lemah (mungkin dikarenakan kita telah mengetahui syubhat dan berbagai bantahannya), karena sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian saling mengalahkan di hadapanku, dan sebagian kalian lebih cerdas dalam mengemukakan argumen daripada sebagian yang lain, maka aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang aku dengar. Barangsiapa yang mengajukan perkara demi mengambil hak saudaranya, janganlah diambil. Sesungguhnya barangsiapa yang berhenti dari hal itu, terputuslah api neraka baginya.” [HR. Bukhari 2680 dan Muslim 1713]. Maka ini dalil bahwasanya sebagian ahlul bathil memiliki argumen yang lebih cerdas dibanding sebagian lainnya, maka hadapilah sesuai dengan kondisi lawan bicara.

Ketiga, bashirah dalam cara dakwah.

Sebagian da’i memiliki semangat yang besar tanpa memiliki hikmah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Serulah kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan perdebatlah mereka dengan cara yang baik.” [QS. An Nahl : 125].

Akan tetapi sebagian da’i yang Allah penuhi hatinya dengan ghirah terhadap agama ini, tidak mampu menguasai diri mereka sendiri. Mereka menyerang setiap kemunkaran sebagaimana seekor elang yang menyantap daging, tanpa memikirkan akibat dan dampak selanjutnya. Kemudian mereka menisbatkan diri sebagai da’i yang menyeru kepada kebenaran. Karena yang mereka ketahui, kebenaran adalah musuh bagi kejahatan. Allah ta’ala berfirman, “Dan sebagaimana telah kami jadikan bagi setiap Nabi, musuh dari kalangan orang-orang yang berbuat kejahatan.” [QS. Al Furqan : 31].

Wajib bagi setiap da’i sebelum mereka bergerak, untuk memikirkan dan memandang dampak dari setiap perbuatan mereka. Ibaratnya, akibat dari perbuatan mereka akan menimbulkan api yang besar. Dengan hikmah, api tersebut dapat dipadamkan dan tidak menimbulkan kebakaran yang lebih besar lagi di masa depan.

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala berfirman, “Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak.” [QS. Al Baqarah : 269]. Hendaklah pula kita mengambil Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai contoh pengajar kebaikan, dan da’i yang paling utama.

[sumber : As Shohwah Al Islamiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, hal. 17-21 cet. Madarul Wathan Lin Nasyr]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 9, 2010 in Islam

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: