RSS

Tafsir Al Maut (2)

28 Sep

Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Luqman : 34)

Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan ia perbuat untuk urusan dunia maupun akhiratnya. Begitu pula tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di belahan bumi Allah mana ia akan mati.

Inilah argumen yang tegas bagi kaum musawwifin, orang-orang yang gemar menunda-nunda taubat (yang suka mengatakan, “saufa, saufa.. nanti, nanti.. -pent), yang mereka mengatakan, “Aku akan bertaubat besok, aku akan bertaubat lusa”. Padahal, siapa yang memiliki hari esok dan lusa? [!]

Oleh karena itulah Sahl bin Abdullah berkata, “Itulah dorongan hawa nafsu, (padahal) bagaimana mungkin bertaubat hari esok atau lusa sementara hari itu bukan milik mereka?!

“Jika Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya” (An Nahl : 61)

Allah Ta’ala mengkhabarkan sifat lemah lembut-Nya terhadap kezaliman yang telah mereka perbuat. Seandainya mereka dihukum atas perbuatan mereka niscaya tidak ditinggalkan-Nya satu binatang melata pun di muka bumi. Akan tetapi Rabb Jalla Jalaaluh Maha Pemurah dan menutupi keburukan tersebut. Adapun terhadap ajal yang telah ditentukan, Allah tidak mensegerakannya sebagai balasan atas kezaliman yang telah mereka perbuat. Apabila Allah mensegerakan ajal, niscaya tidak tersisa satu pun makhluq di muka bumi ini. Sebagaimana yang Allah firmankan di penghujung ayat, “Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya”.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Munafiqun : 9-11)

Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memperbanyak dzikir, dan melarang dari menyibukkan diri dengan harta dan anak-anak. Kemudian mengabarkan kepada mereka bahwasanya barangsiapa yang mencukupkan diri dengan kesenangan dan perhiasan dunia dan lalai dari menaati Rabb dan dzikir kepada-Nya, merekalah orang-orang yang merugi pada hari kiamat. Kemudian Allah memberikan motivasi untuk berinfaq dalam ketaatan, karena orang-orang yang enggan berinfaq kelak akan menyesal di kemudian hari. Mereka meminta untuk diberi perpanjangan waktu walau hanya sebentar, agar dapat mengambil apa-apa yang telah mereka lewati dulu. Maka hal tersebut tidaklah mungkin terjadi, dan terjadilah apa yang telah terjadi. Adapun terhadap orang-orang kafir, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (Ibrahim : 44). Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka lakukan seandainya benar-benar mereka mendapat perpanjangan waktu. Hanya Allah yang mengetahui apakah permintaan mereka jujur, atau justru permusuhan mereka lebih keras lagi setelah diberi perpanjangan waktu. “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(bersambung ke Tafsir Al Mu’minun : 99-115)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2010 in Islam

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: