RSS

Mencintai Penanda Dosa

22 Nov

Bismillah. Sebelum mulai membaca kisahnya, perlu saya informasikan kepada pembaca sekalian bahwa kisah yang akan Anda baca ini dicopast bulat-bulat dari blog Ustadz Salim A. Fillah hadahullah.

Mari jadikan kisah berikut ini sebagai pelajaran, untuk tidak bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Apapun kondisinya. Bagaimanapun caranya. Terlebih lagi dengan bumbu “ta’aruf syar’i”, “khitbah”, namun tanpa diiringi dengan ilmu yang benar dalam penerapannya? (Masuk sini untuk kumpulan artikel seputar proses pernikahan yang benar). Syaithan begitu bersemangatnya dalam menggelincirkan manusia. Apabila yang berlabel “aktivis dakwah” saja tergelincir dalam tipu muslihatnya, bagaimanatah lagi dengan kami yang sekadar berlabel ‘orang awam”?

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

 
17 Komentar

Ditulis oleh pada November 22, 2010 in Islam

 

Tag: , , , ,

17 responses to “Mencintai Penanda Dosa

    • abi rafdi

      Desember 1, 2010 at 2:54 am

      hmm…sebenernya akar dari permasalahan umat islam di indonesia ini menurut saya karena sistem pengajarannya..coba dari SD kita diberitahu bahayanya,dosanya dan dalil2nya yg mengharamkan itu semua,niscaya bangsa kita ga akan bobrok kayak gini..

      contoh gampangnya aja,,kita TK uda dijejali bahasa inggris yang notabene ga bermanfaat buat baca al quran..coba dari TK sudah ada plajaran wajib bahasa arab,,beuhhh..pasti saya skarang nikmat sekali membaca al quran karena bisa tau artinya…

      ubah sistem pengajaran di NKRI…Asasnya…karena kita ga boleh sertamerta menyalahkan orang2 yang melakukan kesalahan itu…mungkin karena mereka belum tau dan belum tentu mereka tidak mau tahu,,melainkan kurangnya pengetahuan,,ilmu itu disalurkan,maka itu daripada kita mencibir dan menghujat alangkah baiknya kita (bagi yg merasa mampu ilmunya) berdakwah saja..betul?

       
  1. hanafi

    November 22, 2010 at 3:22 pm

    disinilah pentingnya proses taaruf syar’i. ikhwan dan akhwat yang berta’aruf hendaknya tidak sembarangan berkomunikasi, by phone, by sms, tanpa wasilah. Parah sekali, kalo taarufnya sampai sedemikianrupa bebas berkomunikasi, apalagi sang wanita tidak menghijabi diri dengan benar.

    Diletakkan ke mana rasa malu si akhwat dan si ikhwan?? kemana ustadz2 mereka dan sahabat2 mereka yang tidak mencegah kemudhorotan???? ingatlah, QITBAH belum pertanda HALAL untuk jalan berduaan. kemana murobbi2 meraka yang senantiasa diagungkan pendapatnya??

    La hawula wala quwwata illa billah..Allahu musta’an..jauhkan kami dari perkara2 yang tidak syar’i dalam memperoleh pasangan hidup.

     
  2. hanafi

    November 22, 2010 at 3:27 pm

    Jangankan duduk bicara berduaan, bahkan ditemani mahram si wanita pun masih dapat mendatangkan fitnah. Karenanya, ketika Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu dimintai fatwa tentang seorang lelaki yang telah meminang seorang wanita, kemudian di hari-hari setelah peminangan, ia biasa bertandang ke rumah si wanita, duduk sebentar bersamanya dengan didampingi mahram si wanita dalam keadaan si wanita memakai hijab yang syar’i. Berbincanglah si lelaki dengan si wanita. Namun pembicaraan mereka tidak keluar dari pembahasan agama ataupun bacaan Al-Qur`an. Lalu apa jawaban Syaikh rahimahullahu? Beliau ternyata berfatwa,

    “Hal seperti itu tidak sepantasnya dilakukan. Karena, perasaan pria bahwa wanita yang duduk bersamanya telah dipinangnya secara umum akan membangkitkan syahwat. Sementara bangkitnya syahwat kepada selain istri dan budak perempuan yang dimiliki adalah haram. Sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman, hukumnya haram pula.” (Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, 2/748)

     
  3. hanafi

    November 22, 2010 at 3:41 pm

    Apa bedanya Taaruf cerita diatas dengan PACARAN???

    Mending share link ini gan, dari pada kisah Geje kayak gitu….

    http://menikahsunnah.wordpress.com

     
    • yhougam

      November 22, 2010 at 7:24 pm

      Ahsan. Jazakallahu khaira. Setidak-tidaknya kisah geje seperti ini menjadi peringatan bagi kita akan pentingnya memahami proses ta’aruf yang syar’i.

       
  4. hanafi

    November 22, 2010 at 10:25 pm

    Masih banyak kisah2 penggugah iman lainnya, kenapa gak nampilin artikel yang ada di bukunya ustadz yazid saja. terus terang,ane muak gan dengan kisah2 fiksi penuh dramatisir. Kisah2 Para ulama salaf masih banyak yang belum kita baca, ketimbang baca kisah geje kayak gini. Kisah2 kayak gini, melatih kita untuk cengeng, cuma membuat kita sadar sesaat tanpa ada solusi. tanpa di jelaskan faedah ilmu yang bisa diambil selain “kasian”, kenapa gak begini dan kenapa gak begitu.

    Baca ini Gan:Da’i Tukang Dongeng http://muslim.or.id/manhaj/dai-tukang-dongeng.html

     
  5. hanafi

    November 23, 2010 at 4:12 am

    Mungkin sebagaimana kakak2nya Ayat2 cinta, Ketika Cinta bertasbih, dan lain2nya. ntar lagi cerita ini mungkin akan di filmkan pula. wajarlah…kita dibikin cengeng…lambat laun, orang akan jadi biasa dengan proses taaruf kayak gini. Tulisan yang terlalu dibumbu2i, terlalu di kemas dengan bahasa sastrais…… dan dramatisir. Juga kita akan dibuat kasian dengan pelaku2 Zina…menanamkan wala’ kita..atas nama “MENCINTAI PENANDA DOSA”.

    Pantas saja yang gandrung juga kalangan aktifis, CBSA (cinta bersemi saat aksi). Mana kisah2 memukau sumayyah??? Asiya bintu amran?? Shaffiyah? Sua’riyah?? Tholhah,Muawwiyah, Ja’far, Uwais Al Qorni. Kisah2 heroiq mereka lebih pantas untuk disebar luaskan….

    Allahu Akbar..Allahu Akbar…

     
  6. yhougam

    November 23, 2010 at 6:34 am

    Akhi fillah rahimakumullah,, mari kita mendiskusikan hal ini dengan kepala dingin :

    Pertama, ana husnuzhan bahwa mungkin kita belum sepersepsi, mengenai hukum menyebarkan cerita FIKSI dan NYATA. Dalam hal ini ana berpegang pada bolehnya menyebarkan cerita nyata, untuk diambil faidahnya. Adapun untuk kisah fiksi, ana mengambil pendapat yang lebih hati-hati yaitu tidak boleh. Maka sekali lagi ana berpegang pada ucapan Penulis asli, bahwa ini adalah kisah nyata.

    Kedua, setelah kita berbicara mengenai boleh dan tidak, maka pembahasan afdholiyyah saya rasa berbeda. Saya katakan bahwa cerita salaf pun tidak lebih utama dari kisah sahabat, kisah sahabat pun tidak lebih utama dari kisah para Nabi dan kaum terdahulu dalam Al Qur’an. Karena ini masalah afdholiyyah. Bukan boleh dan tidak. Kisah nyata? Saya ulangi lagi bahwa saya mengikuti pendapat bolehnya.

    Ketiga, cerita ini ‘mentah’. Perlu penjelasan tambahan, seperti dalam kasus ini mengenai hukum ta’aruf yang benar sesuai syariat, dll. Sebagaimana setelah komentar antum, saya menambahkan link dari Al Manhaj tentang pernikahan.

    Nah, mengenai dampak dari kisah ini, maka tergantung si pencerita. Dengan link Al Manhaj tersebut, ana bermaksud memberikan tahdzir akan bahayanya taaruf yang tidak syar’i. Kalau hukumnya dilihat dari dampak semata, lantas bagaimana dengan kisah seorang pelacur Bani Israil yang memberi makan seekor anjing? Terlebih endingnya adalah ampunan Allah. Masih mending cerita di atas saya kira, karena kita masih belum tahu apakah akhwat tsb diampuni atau tidak. Apakah kisah ‘cengeng’ seperti kisah pelacur tsb, membuat kita kasihan dengan pelacur2 lain??

     
  7. hanafi

    November 23, 2010 at 7:53 am

    ane belum meninggal..ahsan pake hafidzakallah saja..bukan rahimakumullah..domirnya pake yang mufrod saja rahimakallah atau hafidzakallah….

    source storynya di perhatikan juga….

    *yang perempuan bani israil tersebut memberikan minum, bukan makanan..

    Kisah ghomidiyah menurut ane jauh lebih baik gan untuk di tampilkan

    ….semoga nantinya gak ada filmnya ni cerita “Mencintai Penanda Dosa”…

    ana tawaquf..mau tanya ustadz dulu, boleh gak menampilkan karya2 kayak, punyanya akhi salim fillah hafidzakallah…

    Barakallahu fiika….

     
    • yhougam

      November 23, 2010 at 8:00 am

      naah,, kalau masalahnya dari awal adalah salim a. fillah kan diskusinya bisa dipersingkat,, lain kali langsung saja akh ke “inti” permasalahannya..

      sekalian ana nitip pertanyaan ke ustadzuka apakah rahimakumullah khusus orang meninggal saja? tanyakan juga tentang dhomir “kum” yang setahu ana itu berarti penghormatan bagi lawan bicara..

      na’am yang diberi adalah minuman,, afwan ana salah..

       
  8. hanafi

    November 23, 2010 at 8:34 am

    Iya..ditunggu kedatangannya di Kajian Sabtu pagi di MPR ^ ^

    lagi pembahasan sub bab “salam”….

     
    • yhougam

      November 23, 2010 at 8:39 am

      wah lagi-lagi ana salah,, kalo gitu “ustadzuna” ^_^

       
  9. anang

    November 24, 2010 at 7:37 am

    itu bisa saja terjadi pada siapapun. semoga ALLAH SWT senantiasa menjaga kita.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: