RSS

Tujuan Penciptaan Bukanlah Hanya Ibadah

28 Nov

Bahwasanya tujuan ilmu adalah amal merupakan sesuatu yang telah jelas, dari sisi bahwa keduanya merupakan tujuan penciptaan. Allah ‘azza wa jalla menciptakan para makhluq untuk mengenal-Nya, dan agar mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dalil pertama mengenai hal tersebut adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam akhir surat Ath Thalaq,

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 16)

Allah berfirman, “menciptakan… agar kamu mengetahui” maka dapat disimpulkan bahwa ilmu juga merupakan tujuan penciptaan.

Dalil kedua dalam masalah ini (yaitu bahwa ibadah merupakan tujuan penciptaan -pent), adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala di akhir Adz Dzariyat :

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)

Maka ilmu dan ibadah masing-masing dari keduanya merupakan tujuan penciptaan. Ibadah tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan ilmu yang bermanfaat dan dapat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka barangsiapa yang berilmu dan beramal maka itulah orang-orang yang telah menunaikan tujuan penciptaan. Para ulama berkata, “Tauhid, yang karenanya kita diciptakan dan diadakan untuk melaksanakannya, memiliki dua aspek : ‘ilmiy dan ‘amaliy, ma’rifat dan itsbat (pengenalan dan penetapan), dan iradah wa thalab (kehendak dan tuntutan). Keduanya harus direalisasikan dalam ibadah. Dengan itulah seorang hamba Allah akan menjadi hamba yang sejati. Mereka yang melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala tersebut akan menjadi hamba-Nya yang shidiq.”

Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, akan dimurkai dengan kemurkaan Allah. Yang demikian itu karena mereka tidak melaksanakan tujuan ilmu. Begitu pula orang-orang yang beramal dan bersungguh-sungguh dalam ibadah namun tanpa diiringi ilmu, dialah orang yang tersesat dari jalan Allah dan shirathal mustaqim.

Oleh karena itu disyariatkan kepada kita untuk membaca surat Al Fatihah hingga doa yang paling penting dan paling agung :

“Tunjukilah Kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, dan bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat” (QS. Al Fatihah : 6)

Orang-orang yang diberi nikmat ialah ahli ilmu dan amal. Orang-orang yang diberi murka adalah ahli ilmu namun tanpa amal. Orang-orang yang tersesat ialah ahli amal namun tanpa ilmu. Oleh karena itu Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata, “Diantara tanda rusaknya ulama kita ialah keserupaan mereka dengan Yahudi, dan diantara tanda rusaknya ahli ibadah kita ialah keserupaan mereka dengan Nashara”, karena disisi Yahudi terdapat ilmu namun tidak mereka amalkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal” (Al Jumuah : 5)

“mereka tiada memikulnya” yaitu tidak mereka amalkan. Mereka menghafalnya, memahami dalil-dalilnya, namun tidak mereka amalkan.

“Dan diantara tanda rusaknya ahli ibadah kita ialah keserupaan mereka dengan Nashara”, adalah karena Nashara ahli bid’ah dan mereka beribadah dengan apa yang tidak diturunkan dan disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hambaNya.

(Tsamaratul ‘Ilmi Al ‘Amal, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr)

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada November 28, 2010 in Islam

 

Tag: , , ,

6 responses to “Tujuan Penciptaan Bukanlah Hanya Ibadah

  1. aLYA

    Desember 4, 2010 at 9:49 am

    yup…..dan yg perlu kutanyakan saat ini…… limaadza katsiirun minal ‘ulamaa laa yuriiduuna an yatakallamuuna ‘anil khilaafah wa amma kaana yuujadu katsiirun fi kutubil fiqh wa ushuuliddin anna iqoomatad daulah waajibun..hal laisa ladaihim al ‘ilm anha?

     
  2. yhougam

    Desember 4, 2010 at 2:24 pm

    Kalau begitu mungkin Mbak lebih berilmu dari para ulama.

     
    • alya

      Desember 6, 2010 at 10:26 am

      loh….kok begitu….karena saya tidak mengerti…maka saya tanyakan hal tersebut. sebagai seorang yg ‘alim sdh seharusnya antum menjawab ketidak pahaman sya. sehingga sya menemukan kebenaran ataupun kesalahan yg mgkn akan sy ketahui melalui antum. masa iya,kalau saya salah dan akan membawa pada neraka, antum membiarkan saudari antum ini tersesat. tolong disampaikanlah pemahaman antum pada orla trmasuk saya yg sdng bertanya ini. klo mau masuk surga ajakin lah saya yg dhoif ini……syukron!

       
      • yhougam

        Desember 6, 2010 at 10:49 am

        saya analisis dulu pertanyaan mbak, “limaadza katsiirun minal ‘ulamaa laa yuriiduuna an yatakallamuuna ‘anil khilaafah..”

        lantas mengapa pertanyaannya ditujukan kepada saya? wong yang ngomong para ulama.. apakah saya termasuk ulama? apakah pernah saya mengikrarkan diri saya sebagai seorang ulama? kalau iya, dimana? kapan?

        pertanyaan mbak juga membuat saya berkata, “Oh iya, benar juga” dalam artian dari sejak tanggal keruntuhan khilafah 1924 mengapa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, atau kalau beliau sudah “dibantai” dengan fitnah “agen Inggris”, ya kita ambil contoh Al Amir Ash Shan’ani sajalah yang hidup sezaman namun tidak pernah bertemu dengan Syaikh Muhammad langsung, tidak adakah kitab beliau khusus membahas hal tersebut?? Atau ulama2 ahli hadits di India pada zaman itu, atau yang lain lagi..

        Maka kesimpulan saya hanya ada dua :
        1. Bahwa hal tersebut memang bukan hal yang urgen, di mana jauh sebelum khilafah runtuh pun banyak tersebar paham dan aliran sesat yang dibiarkan berkembang biak oleh Sultan Abdul Hamid II, dan bahkan saya mempelajari kebobrokannya dari Ustadz Mbak sendiri, Hafidz Abdurrahman MA dalam rekaman dauroh kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir. Dalam hal ini saya kira sepakat kita bahwa Khilafah Utsmani memang telah bobrok dari dalam.

        Oleh karena itulah para ulama kemudian fokus dalam perbaikan aqidah dan memurnikan ajaran Islam dari berbagai noda syirik dan bid’ah, baru kemudian bila hal tersebut telah berhasil, tegaknya khilafah laksana menanti terbitnya fajar esok hari saja, sebagaimana yang dulu ana 100% yakini sewaktu aktif di halaqah. Sekarang pun ana masih yakin dengan hal tersebut, tapi nanti jika perkara yang LEBIH PENTING dari khilafah akan tegak, TAUHID.

        2. Berarti orang2 yang menyuarakan KHILAFAH, mereka ini jauh lebih BERILMU dari para ULAMA. Itu kesimpulan kedua yang saya tembakkan kepada Mbak dalam komentar sebelumnya.

        Semoga Allah memberi hidayah-Nya pada kita semua.

         
  3. Alya

    Desember 7, 2010 at 9:13 am

    oh….jadi menurut antum sejarah dapat dijadikan sebagai sumber hukum? em,,,bisa minta dalilnya? kalau yg sya ketahui, sejarah tidak dapat dijadikan sebagai sumber hukum. jadi, pendirian khilafah bukan masalah dya hal yg buruk atau tidak….tp dya kewajiban atau bukan. seperti itu…….
    dan sya mohon jangan mengeneralisir….kalau ada yang salah dari pertanyaa2n saya…tidak perlu menyangkutpautkan pada saudara kita seiman lainnya. kalaupun ada salah, itu datangnya dari saya pribadi. dan semoga kita dijauhkan dari apa yang antum “pikir” di statement ke2 tersebut….dan sya juga….semoga dijauhkan dari sifat riya’ hingga merasa paling pintar dari para ulama…dan semoga Allah tetap membuka hati dan pikiran kita sehingga kita masih mau mendengar kebenaran dari orla dan semoga orang2 yg menjadi tuntunan kita tidak membuat hati dan pikiran kita tertutup sehingga menolak kebenaran dari Allah. Amin! Wallahu a’lam.
    NB: semoga diskusi mencari kebenaran ini terus ada karena “Sebaik baik perkara adalah membekali diri dengan ilmu. Jika seseorang merasa cukup dengan apa yang diketahuinya, maka dia telah diperbudak oleh pikrannya(pandangannya). Akhirnya diapun begitu mengagungkan dirinya sehingga menghalangi dirinya untuk belajar dari orang lain. Padahal dengan saling belajar, akan tampak kesalahn dan kekurangannya”.Imam ibnu Jauzi. Kitab Shaid al Khathir

     
    • yhougam

      Desember 7, 2010 at 9:42 am

      “Sebaik baik perkara adalah membekali diri dengan ilmu. Jika seseorang merasa cukup dengan apa yang diketahuinya, maka dia telah diperbudak oleh pikrannya (pandangannya). Akhirnya diapun begitu mengagungkan dirinya sehingga menghalangi dirinya untuk belajar dari orang lain. Padahal dengan saling belajar, akan tampak kesalahan dan kekurangannya”

      Quote yang bagus untuk semakin rajin lagi hadir di majelis ta’lim. Adapun sebagai pembenar debat kusir, saya kira tidak.

      Jihad juga wajib lho Mbak. Mengapa HT tidak memporoskannya sebagai inti dakwah? Tauhid juga sewajib-wajib kewajiban. Mengapa tidak ada satu pun kitab mutabannat yang fokus pada masalah ini? Menikah juga sebuah kewajiban. Mengapa masih melajang?

      Seorang ulama bukan orang yang tahu halal dan haram (saja), akan tetapi tahu mana yang lebih ringan dari dua keburukan. Fiqh aulawiyyat, tahu mana yang harus didahulukan, mana yang lebih penting.

      Sejarah sebagai sumber hukum? Kalau kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan panjang lebar urgensi berdakwah tauhid dan secara implisit alasan beliau untuk tidak berdakwah khilafah, lewat berbagai dalil dari Al Qur’an dan Sunnah, menulis Tsalatsatul Ushul, Qowaidul Arba’, Kitaabut Tauhid, apakah masih disebut sejarah?

      Mengapa masih ada saja yang berusaha berdebat? Ini abad 21, teknologi internet memungkinkan kita mengakses artikel-artikel seputar hal ini, alih-alih kita membuat sibuk orang lain yang mungkin punya jadwal dan kesibukan lain selain mengurus debat? Dulu saya tidak kenal dengan seorang salafi pun, dan hanya coba-coba kajian, membaca artikel dan buku. Cukup untuk membuat saya sadar bahwa jalan yang saya tempuh ternyata salah.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: