RSS

Taubatnya Para “Penguji” Agama

11 Des

Dalam Muqaddimah muhaqqiq kitab Al Baji “Fushulul Ahkam” (hal. 62) dan dalam “Tafsir Al Qurthubi” (10/5-6), dari Yahya bin Aktsam beliau berkisah :

Suatu hari Al Ma’mun, khalifah pada waktu itu, melihat sebuah majelis. Maka masuklah beliau ke dalam sekelompok orang tersebut, yang ternyata adalah sekelompok Yahudi, yang bagus pakaiannya, baik rupanya, dan wangi aromanya. Kemudian mereka mulai berbicara dengan perkataan dan ungkapan yang paling baik.

Al Ma’mun kemudian menyela pertemuan mereka dan bertanya, “(Apakah kalian ini Yahudi) Israil?”

Mereka menjawab, “Ya!”

“Masuk Islamlah kalian! Hingga aku dapat berbuat sesuatu, membantu, atau bahkan memberikan hadiah untuk kalian!”

“Ini agama kami, dan agama leluhur kami!!”

Maka pergilah Al Ma’mun dari majelis tersebut.

Selang waktu setahun, Al Ma’mun kembali mendatangi majelis tersebut. Ternyata mereka telah masuk Islam. Mereka pun berbicara mengenai permasalahan fiqh, dengan perkataan yang paling baik.

Al Ma’mun kembali menyela majelis mereka dan bertanya, “Bukankah kalian adalah sekelompok orang yang kemarin?”

“Ya!”

“Kalau begitu bagaimana kalian bisa masuk Islam?”

Mereka pun berkisah, “Setelah engkau pergi, kami mulai berpikir untuk memberikan ujian bagi beberapa agama. Kami mulai dengan Taurat dan kami menulis tiga buah salinan. Maka kami berikan di dalamnya penambahan dan pengurangan. Kemudian kami menawarkannya ke sinagog, dan mereka pun membelinya (tanpa mengetahui adanya penambahan dan pengurangan di dalamnya –pent).

Berikutnya kami beralih ke Injil, dan menulis tiga buah salinan. Maka kami berikan di dalamnya penambahan dan pengurangan. Kemudian kami menawarkannya ke gereja, dan mereka pun membelinya.

Terakhir, kami menguji Al Qur’an. Kami pun mengerjakan tiga buah salinan darinya. Kami berikan beberapa tambahan dan pengurangan. Kemudian kami menawarkannya ke sekelompok pustakawan. Mereka pun membolak-balik salinan kami, dan menemukan adanya penambahan dan pengurangan di dalamnya. Mereka pun tidak bersedia membeli salinan kami. Kami pada akhirnya menyadari bahwa kitab ini terjaga, dan itulah yang menjadi sebab keIslaman kami!”

Yahya bin Aktsam berkata, “Di tahun berikutnya aku pergi haji dan berjumpa dengan Sufyan bin Uyainah. Aku pun menyebutkan kisah ini, kemudian ia berkata,

‘Hal ini telah terbukti dalam Kitabullah ‘Azza wa Jalla’

‘Di mana tepatnya ?’, tanya Yahya bin Aktsam.

‘Di dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala mengenai Taurat dan Injil :

Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah” (QS. Al Maidah : 44)

‘Allah menjadikan mereka (yaitu ulama dan pendeta-pendeta Yahudi dan Nashrani –pent) sebagai penjaga bagi kitab-kitab mereka sendiri, kemudian rusaklah mereka.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Al Qur’an), dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr : 9)

‘Maka Allah ‘Azza wa Jalla sendiri yang menjaga Al Qur’an, dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya”

(diterjemahkan dari Min Kulli Suratin Faidatin, Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani, cet. Darul Furqan hal. 5-6)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 11, 2010 in Islam

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: