RSS

Keamanan yang Hakiki

29 Des

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An ‘am : 82)

Imam Al Bukhari meriwayatkan bahwa ketika turunnya ayat ini, para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak pernah berbuat zhalim?” Maka beliau menjawab, “Maksud ayat ini bukanlah seperti yang kalian katakan, akan tetapi yang dimaksud dengan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anak-anaknya, ‘Wahai anak-anakku, janganlah kalian mempersekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar’?”[1]

Lantas apa makna “keamanan” dalam ayat di atas? Jawabannya tergantung dari jenis kezhaliman yang diperbuat oleh manusia. Perbuatan zhalim terbagi menjadi tiga jenis :

  1. Kezhaliman yang paling besar, yaitu syirik.
  2. Kezhaliman manusia pada dirinya sendiri, yaitu dengan tidak memberikan hak bagi tubuhnya. Misalnya berpuasa namun tidak berbuka, atau shalat semalam suntuk tanpa tidur.
  3. Kezhaliman manusia kepada manusia lainnya. Misalnya membunuh, mengambil harta saudaranya tanpa hak, dan sebagainya.

Maka barangsiapa yang terjatuh dalam perbuatan syirik, hilanglah baginya keamanan secara muthlaq, yaitu terbebas dari kekalnya adzab di neraka. Pelakunya, jika belum bertaubat, akan kekal diadzab di neraka dan tidak akan pernah merasakan manisnya surga. Adapun barangsiapa yang terjatuh ke dalam perbuatan zhalim kepada diri sendiri atau orang lain, namun selamat dari perbuatan syirik, maka baginya keamanan dalam artian ia tetap diadzab sesuai kadar kezhaliman yang diperbuat, akan tetapi terbebas dari kekalnya adzab neraka. Bahkan, jika Allah berkehendak, akan diampuni dosa-dosanya.

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa’ : 116)[2]

(25% bagian dari artikel At Tauhid yang belum rampung, semoga dimudahkan)


[1] HR. Al Bukhari 6/281

[2] Lihat Al Qoul Al Mufid ‘ala Kitab At Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hal. 56-57 cet. Darul ‘Ashimah


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 29, 2010 in Islam

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: