RSS

[Sedikit] Diantara Faidah Surat Al Mulk

22 Jan

Keterkaitan Antara Rezeki dan Pertolongan

“Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” [Al Mulk : 20-21]

Allah Ta’ala mengaitkan dua hal ini dalam banyak tempat. Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (1/13-32) berkata :

“Adapun dalam pertolongan terkandung pencegahan dari bahaya, dan dalam rezeki terkandung kemampuan untuk memperoleh manfaat. Allah Ta’ala berfirman, “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quraisy : 3-4]

Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?” [Al Qashash : 57]

Al Khalil (Ibrahim) ‘alaihissalam berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya” [Al Baqarah : 126]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah kalian diberi rezeki dan ditolong oleh sebab orang-orang lemah di antara kalian : yaitu melalui doa, shalat, dan keikhlasan mereka?” [HR. Bukhari 2896, Abu Dawud 2594, At Tirmidzi 1702, dishahihkan oleh Al Albani rahimahullah dalam Silsilah Ash Shahihah 779]

– selesai kutipan dari Ibnu Taimiyah rahimahullah

Rahasia lain dikaitkannya dua hal ini adalah karena keduanya merupakan tuntutan dalam kehidupan setiap Bani Adam. Dengan pertolongan, manusia akan merasa aman dari kejahatan musuh-musuh mereka. Dan dengan rezeki, hilanglah dampak buruk akibat rasa lapar. Maka Allah Ta’ala mengaitkan keduanya dari sisi tauhid, yaitu manusia hanya bisa memperolehnya dari Allah semata.

[faidah dari Min Kulli Suratin Faidatin, Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani, hal. 334-335 cet. Darul Furqan]

Kualitas, dan Bukan Kuantitas

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” [Al Mulk : 2)

Asy Syinqithi berkata, “Allah menguji manusia dengan baiknya amal, bukan sekedar amal saja. Bukankah para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kerap bertanya, ‘Amal apa yang paling utama?’ Maka para shahabat radhiyallahu ‘anhum memahaminya (melalui jawaban Rasulullah yang berbeda-beda terhadap masing-masing shahabat -pent) dengan berlomba bersungguh-sungguh dalam beramal, bukan memperbanyak jenis amalan.

Al Aqlu Ash Shahih

Asy Syinqithi kembali menyebutkan, “Akal yang shahih yaitu yang mampu mengikat (aql secara lughah bisa bermakna tali -pent) pemiliknya dari hal-hal yang tidak dianjurkan baginya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memiliki akal niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. [Al Mulk : 10]

Maka akal yang tidak mampu mencegah pelakunya dari hal-hal yang tidak berguna baginya, itulah akal yang sekedar memberinya kehidupan di dunia, dan bukan akal dalam arti yang sempurna”

[Al ‘Adzabu An Namir 1/161, Asy Syinqithi, dalam Liyaddabbaru ayatihi, hal. 208 cet. Markaz At Tadabbur Riyadh]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 22, 2011 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: