RSS

5 Prinsip Tarbiyah Imaniyah : Faidah Cuplikan Kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda’

20 Feb

Tulisan ini murni faidah yang kami dapat dari majelis Ustadz Zaid Susanto, Lc. dalam majelis Bahjatun Nazhirin beliau setiap Ahad ba’da Maghrib di Masjid Al Hasanah.

Prinsip-prinsip berikut ini diambil dari sebuah hadits yang teramat indah antara dua shahabat mulia, Salman Al Farisi dan Abu Darda radhiyallaahu ‘anhuma, yang keduanya dipersatukan lewat persaudaraan pasca hijrahnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Kisah ini diriwayatkan secara apik oleh Abu Juhaifah Wahb bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

“Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Suatu ketika Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’. Ia melihat Ummu Darda’ dengan pakaian yang kumal, maka ia bertanya,

‘Ada apa denganmu?’

Ummu Darda’ pun menjawab, ‘Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak menginginkan dunia lagi’.

Kemudian datanglah Abu Darda’, maka ia pun membuatkan makanan. Lalu Abu Darda’ berkata, ‘Makanlah, sesungguhnya aku sedang berpuasa’.

Salman menjawab, ‘Aku tidak akan makan sampai engkau ikut makan’.

Maka Abu Darda’ ikut makan.

Ketika telah tiba waktu malam Abu Darda’ pun beranjak hendak melaksanakan shalat malam, namun Salman justru berkata, ‘Tidurlah!’

Maka Abu Darda’ pun tidur. Kemudian ia pun hendak beranjak untuk shalat malam lagi maka Salman kembali berkata, ‘Tidurlah!’

Ketika akhir malam telah tiba barulah Salman berkata, ‘Sekarang bangunlah!’

Maka keduanya pun shalat bersama-sama[1]. Salman kemudian menasihati Abu Darda’, ‘Sesungguhnya dalam dirimu terdapat hak Rabbmu, dan dalam dirimu terdapat pula hak untuk dirimu sendiri, juga terdapat hak bagi keluargamu, maka tunaikanlah setiap hak bagi masing-masing yang berhak mendapatkannya.’

Kemudian Abu Darda mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian menyebutkan perihal  Salman, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Sungguh benar apa yang diperbuat oleh Salman”

(HR. Bukhari 4/209 dalam Al Fath)

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly dalam bagian terakhir syarh hadits ini menyebutkan lima prinsip tarbiyah imaniyah, atau prinsip-prinsip yang hendaknya kita gunakan dalam mendidik suatu lingkungan, entah itu keluarga, entah itu pendidikan di  madrasah, atau di lingkungan tempat tinggal kita :

  1. Tidak akan sempurna suatu tarbiyah tanpa adanya bi’ah imaniyah, lingkungan yang kondusif bagi pendidikan iman. Yaitu yang didalamnya terdapat aktivitas saling menasihati dalam kebenaran, saling menasihati dalam kesabaran, dalam berkasih sayang kepada manusia, mengingatkan yang lalai, dalam rangka menegakkan agama ini. Betapa pentingnya lingkungan bagi pendidikan, karena sekecil apapun aspek lingkungan pasti akan membekas dalam diri seseorang, terutama bagi anak-anak. Dikisahkan anak seorang Ustadz tiba-tiba bermain-main dengan sapu dengan posisi seolah-olah sedang memainkan gitar. Maka keluarganya pun terkejut dan bertanya dari mana ia meniru hal tersebut. Ternyata sang anak melihat seorang pengamen ketika ia naik bus bersama orang tuanya. Kisah yang lain lagi tentang seorang ulama yang begitu getol dalam membantah pemikiran-pemikiran menyimpang. Hingga ia pernah mengarang sebuah kitab yang menjelaskan pemikiran menyimpang tersebut yang diberi komentar oleh ulama lain “Qad isytaral jannata bi hadzal kitab” Sungguh ia telah membeli surga dengan kitab ini. Akan tetapi aktivitas perdebatan membawanya larut dalam pergaulan bersama orang-orang yang menjadi lawan debatnya, hingga akhirnya ia pun berubah justru menjadi pengikut pemikiran menyimpang tersebut.
  2. Sepakat dan tidak berselisih, lihat betapa patuhnya Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu kepada saudara yang ia cintai karena Allah, seakan-akan patuhnya unta liar yang telah diikat. Lihat pula betapa patuhnya Musa terhadap Khidir alaihimassholatu wassalam. Semua ini hendaknya menyiratkan pada kita bahwa persepakatan, selama berada dalam aqidah dan manhaj yang benar, adalah faktor utama bagi terjalinnya ukhuwwah. Begitu pula sebaliknya dengan perselisihan. Maka hendaknya kita camkan hal ini. Bagaimana bisa sebuah seruan dakwah dapat kita mulai dengan sebuah perselisihan?!
  3. Kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan. Maka seorang dai hendaknya membersamai mad’u, atau objek dakwahnya sebagaimana Salman yang membersamai Abu Darda’ dengan melaksanakan shalat secara bersama-sama. Seorang da’i hendaknya mampu mencontohkan materi dakwahnya melalui tindakan nyata, dan bukan sekedar perkataan.
  4. Bersikap pertengahan dalam setiap perkara, karena di balik setiap sesuatu yang berlebihan selalu terdapat keburukan, sekalipun dalam masalah ibadah. Terdapat kisah yang cukup menarik antara tiga orang pemuda dengan seorang Amerika, sebagaimana dikisahkan dari Syaikh Al ‘Uraifi. Suatu ketika ada seorang Amerika yang hendak masuk Islam, maka ia bertemu dengan tiga orang pemuda yang bersemangat dalam dakwah, namun belum memiliki ilmu tentang manhaj dakwah yang mumpuni. Maka seorang Amerika tersebut menceritakan maksudnya yang hendak masuk Islam, seketika pemuda pertama menjawab, “Kalau begitu ucapkan dua kalimat syahadat”. Orang Amerika tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu pemuda kedua segera beranjak dan menarik tangan orang Amerika, “Mari kita pergi ke rumah sakit!”. Maka orang Amerika itu pun kebingungan, “Untuk apa?” “Untuk khitan, karena dalam Islam wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk khitan!” “Apa-apaan ini??! Kalau begitu saya tidak jadi saja masuk Islam!!” Mendengar itu pemuda ketiga segera bangkit dan berkata, “Kalau engkau benar-benar keluar dari agama Islam, maka darahmu pun halal sebagaimana hukum seorang yang murtad dari agama Islam!!”
  5. Menunaikan hak bagi masing-masing yang berhak mendapatkannya, dan tidak mencampurkan antara hak-hak tersebut.

Tertariknya kami dalam menulis hal-hal berikut ini, adalah dengan ide betapa prinsip-prinsip ini dapat kita terapkan secara konkrit dalam kehidupan kita. Contoh dalam lingkup wisma Islami yang sedang Penulis huni di Yogyakarta.

Melalui kajian wisma, peraturan tanpa musik, program hafalan Al Qur’an, wajibnya keluar berjamaah di masjid saat waktu shalat, dan peraturan lainnya kita dapat membangun lingkungan yang Islami dengan cara yang sederhana.

Kemudian meminimalkan konflik yang ada, setiap konflik haruslah diatasi bahkan dalam masalah sekecil apapun. Karena itulah sumber perusak ukhuwwah terbesar. Hendaknya pula bagi anggota wisma untuk patuh dengan nasihat atau teguran dari mudir, karena tidaklah seorang mudir ditunjuk kecuali dengan pertimbangan bahwa ilmu dan bashirahnya yang mumpuni. Tentunya tetap selama perintah tersebut tidak melanggar syari’at.

Kemudian bagi mudir atau anggota wisma yang hendak menasihati anggota lain dapat mencontohkan langsung nasihatnya tersebut. Apabila sulit untuk bangun shubuh maka dibangunkan dengan lembut, kemudian dibimbing pelan-pelan untuk berwudhu’ kemudian bersama-sama berangkat ke masjid.

Hendaknya pula bersikap pertengahan, jangan menjadi seperti kisah tiga orang pemuda seperti yang telah disebutkan di atas. Hanya berbekal semangat tanpa ilmu tentang dakwah yang cukup. Dan terakhir, menunaikan setiap hak baik hak wisma seperti membayar iuran listrik, telepon, internet, sampah, kemudian hak bagi masing-masing anggota yaitu untuk mendapat perlakuan selayaknya saudaranya sesama muslim. [ ]


[1] Maksudnya bisa shalat malam secara berjamaah, dan itu diperbolehkan selama tidak dirutinkan. Atau bisa juga bermakna mereka shalat sendiri-sendiri dalam waktu yang bersamaan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 20, 2011 in Islam

 

Tag: , ,

One response to “5 Prinsip Tarbiyah Imaniyah : Faidah Cuplikan Kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda’

  1. Gharoonk88

    September 5, 2011 at 8:09 pm

    subhanallah..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: