RSS

Sepiring Sushi dan Perjuangan Khilafah

17 Okt

”Masih ngaji di Hizbut Tahrir?” 

”Ya enggak laaah..” 

Itu pertanyaan yang pertama kali terlontar darinya, sewaktu kami bertemu setelah 5 tahun lamanya terpisah, di sebuah resto sushi di Salemba.

Dulu, ketika pertama kali mengenal HT, saya berguru kepada beliau. Orang ini memang dikaruniai kelebihan berupa tutur kata yang benar-benar menyihir, runtut, sistematis, dan kemampuan persuasi yang excellent untuk ukuran anak SMA. Saya hanya menjumpai seorang saja yang mungkin bisa menandinginya, seorang kawan sekelas di bangku kuliah yang kini telah bekerja di bumi Papua. Mantan musrif -begitu kami memanggil murabbi di HT- saya ini, kuliah di jurusan Hubungan Internasional sebuah universitas di Surabaya. Dia memfokuskan penelitiannya tentang Hizbut Tahrir. Skripsinya ia lanjutkan hingga tesis S2, dan kini ia mengejar beasiswa S3 ke Perancis untuk topik disertasi yang serupa.

Pembicaraan kami jelas berbeda, saya memilih pasif, karena cukup lelah juga setelah transit dua kali di jalur busway, dan mendengarkan hasil penelitiannya selama kuliah.

Paradigma yang berbeda menghasilkan aktivitas yang juga berbeda. Dalam konteks perjuangan syariah dan khilafah, yang diperlukan adalah lobi-lobi politik, pembentukan opini, dan mengumpulkan massa dari berbagai kalangan dalam satu bingkai tema, khilafah. Meskipun tentu saja, barisannya sangat heterogen. Kami sepakat bahwa konferensi ulama (kiai kalau dalam definisi saya) di Jember beberapa waktu lalu, adalah fenomenal. Dari segi jumlah, bahkan NU sendiri sampai saat ini belum mampu mengumpulkan petinggi-petingginya dalam sebuah majelis.

Tapi ingat, model dakwah seperti ini, konsekuensinya Anda jelas tidak akan mungkin berdakwah tentang haramnya tawassul syirkiyyah, dan segala hal berbau kuburan dalam konteks lobi politik. Anda harus toleran, atau mereka tidak akan mau mengikuti ide Anda. Yang penting khilafah, soal tashfiyyah, nanti dulu saja kalau khilafah telah tegak. Heterogenitas ini yang kata beliau, menjadi tantangan HT (dalam hati saya menyebutnya kelemahan) dalam membina kadernya.

Konsep toleran itu, diberi apologi oleh beliau ”Itu, karena HT adalah partai politik, bukan sebuah madzhab”. Saya ingat kalimat ini berulangkali saya baca ketika masih ngaji HT dulu. Celakanya, yang ditoleriri sudah bukan khilaf antar madzhab dalam soal fiqh saja, melainkan perbedaan i’tiqad. Bagi saya, ini sudah bukan soal madzhab lagi. Bagaimana tidak, imam kita yang empat telah sepakat dengan aqidah ahlus sunnah. Ujungnya, toleransi ini melebar dalam masalah paling asasi dalam hidup seorang muslim.

Jadi, apapun aqidah Anda, mau Asy’ariyah, Maturidiyah, mau Mu’tazilah, asalkan menerima manhaj fi taghyir ala HT, boleh masuk. Praktis, Anda tidak akan pernah mempelajari aqidah shahihah, bahkan sekedar untuk menjawab pertanyaan ”Ainallah?”. Duh, saya mau nangis rasanya mengingat realita ini.

Di meja sushi itu, tergeletak sebuah kitab At Tashfiyyah wa At Tarbiyyah yang saya beli di Masjid Al I’tishom Sudirman. Apapun yang mantan musrif saya katakan, tetap bagi saya perkataan Syaikh Al Albani, yang beliau ambil dari seorang tokoh harokah, adalah cara paling logis dalam menegakkan daulah. Di halaman 33 tertulis :

”Aqimu daulatal Islam fi qulubikum, tuqam lakum ‘ala ardhikum” 

18 Dzulqa’dah 1432 H, KRL Ekonomi Tanah Abang-Depok

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 17, 2011 in Islam

 

Tag: , , ,

One response to “Sepiring Sushi dan Perjuangan Khilafah

  1. Hasan Jasa Les Matematika

    Oktober 30, 2012 at 6:05 pm

    apik mas

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: