RSS

Masih Bau Kencur Kok Berani Ngisi Kultum? (Jalan Tengah Antara Dua Sikap dalam Dakwah)

17 Nov

Dakwah yang berkembang di kampus-kampus, kerap berbenturan pada dua sikap yang saling bertolak belakang. Dua sikap ini sebenarnya sama-sama bertolak dari hadits “Ballighu ‘anni walau ayah”, sampaikanlah dariku walau cuma satu ayat. Dari hadits ini muncullah dua sikap berikut ini :

  1. Pendapat yang memandang bahwa untuk berdakwah, tidak perlu seseorang menjadi ustadz terlebih dahulu. Asal dia faham kewajiban shalat, puasa, zakat, saat itulah dia siap menjadi seorang da’i ilallah, yang siap mengisi kultum, liqo’, halaqah, dan forum di kampus-kampus maupun di masyarakat. Pendapat ini dianut kebanyakan oleh orang-orang pergerakan, yang membutuhkan da’i dalam jumlah besar untuk mengasuh forum-forum kecilnya, maupun untuk menyebarkan faham pergerakan mereka di masjid-masjid masyarakat pada umumnya.
  2. Pendapat yang memandang bahwa seseorang haruslah menjadi seorang Ustadz, baru dia boleh berdakwah. Harus faham nahwu, shorof, hafal tashrif, hafal sekian juz, baru dia boleh berdakwah di tengah masyarakat. Biasanya pendapat ini muncul di kalangan alumni pesantren. Dulu seorang teman jebolan sebuah pesantren di Jawa Timur sempat terheran-heran dengan model halaqah, liqo’, bagaimana bisa orang-orang yang baru kemaren sore belajar agama, bisa langsung berdakwah?

Jalan tengah dua kubu ini digagas oleh Syaikh ‘Ali Al Haddadi, seorang ulama yang pernah mampir di Bantul, DIY, dalam catatan beliau atas kitab kumpulan hadits yang beliau tulis sendiri, Arba’una Hadits fi Manhajis Salaf berikut ini :

 التبليغ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم له صورتان:
الصورة الأولى:
تبليغ النصوص كتبليغ القرآن أو بعضه وتبليغ سنته القولية والعملية والتقريرية وما يتعلق بصفاته الخلقية والخلقية وهذا النوع يفتقر إلى الحفظ والضبط مع الشروط الأخرى المقررة في كتب المصطلح من الإسلام والبلوغ والعدالة.
الصورة الثانية:
هي تبليغ معاني النصوص وفقهها وهذا يفتقر إلى التأهل لهذا المنصب الجليل والذي يدرك من خلال الشهرة به والاستفاضة أو من قبل شهادة أهل العلم أو إذنهم له ، فإن فهم النصوص يحتاج إلى جملة من العلوم ومنها اللغة والنحو والأصول والمصطلح والاطلاع على أقوال أهل العلم ومواطن اختلافهم واتفاقهم حتى لا يخرج عما اتفقوا عليه وحتى ينظر أقرب الأقوال إلى الدليل عند الاختلاف ، وحتى لا يشذ بفهم لم يسبق إليه.

Tabligh, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi dalam dua bentuk :

  1. Menyampaikan dalil dari Al Qur’an atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik sunnah yang berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (amaliyah), maupun persetujuan (taqririyah), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap ‘adalah (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/muru’ah, ed).
  2. Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh kapabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama. Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui ikhtilaf (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka, hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah. Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang ‘nyleneh’. -sekian dari Syaikh Al Haddadi-

Jadi, kalau anda berada pada tingkat ke-1, punya hafalan dalil dan makna yang benar, dan (yang paling penting) minimal tahu tingkat keshahihan hadits tersebut, silahkan mengisi kultum, dan majelis lainnya, dengan syarat jangan menyampaikan penafsiran terhadap dalil tersebut. Tahapan maksimal bagi tingkat ke-1 adalah copas pendapat ustadz atau ulama, agar tidak terjerumus dalam penafsiran pribadi yang syadz (ganjil). Namun jika Anda telah sampai pada tingkat ke-2, silahkan menyampaikan makna ayat dan hadits, dengan bekal ilmu bahasa Arab yang telah Anda pelajari, akan tetapi tetap harus rajin menelaah kitab-kitab para ulama, agar tidak mengeluarkan pendapat yang nyeleneh.

Oleh karena itu Syaikh ‘Ali Al Haddadi kembali memberi peringatan :

من الناس من يتصدر للدعوة والوعظ والتعليم وهو لا يكاد يفقه شيئاً في دين الله مستدلاًً بحديث الباب (بلغوا عني ولو آية) إذ يزعم أنه لا يشترط العلم الكثير للتصدر للدعوة بل يقول من كان عنده آية واحدة فهو أهل للدعوة بنص حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فكيف بمن يحفظ أكثر من آية وأكثر من حديث.
وهذه مغالطة مكشوفة وتلبيس لا يخفى على من بصره الله بالحق فإن الحديث لا يدل على ما قرره هؤلاء وإنما الحديث فيه الأمر بالتبليغ عنه ولو كان المقدار المبلغ آية واحدة فإذا كان هذا المبلغ من أهل الحفظ فقط بلغ النص الذي سمعه وإن كان من أهل الحفظ والفهم والفقه بلغ النص والمعنى، ولهذا يقول النبي صلى الله عليه وسلم (فرب مبلغ أوعى من سامع ورب حامل فقه ليس بفقيه) فهل يظن بالنبي صلى الله عليه وسلم أنه يأمر من لا فقه عنده أن يفقه الناس في معاني النصوص؟ معاذ الله .

Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”. Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah.

Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah. Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja. Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk ahlul hifzh wal fahm (punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki. Demikianlah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman)”. Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham, ed)?! Semoga Allah melindungi kita dari kerusakan semacam ini. -sekian dari Syaikh Al Haddadi-

Sumber : http://haddady.com/ra_page_views.php?id=299&page=24&main=7 terjemahan telah diedit oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 17, 2011 in Islam

 

One response to “Masih Bau Kencur Kok Berani Ngisi Kultum? (Jalan Tengah Antara Dua Sikap dalam Dakwah)

  1. yayuk71

    Juni 6, 2013 at 1:37 pm

    Alhamdulillah….izin share

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: