RSS

20 Faidah Dzikir

18 Mar

Dzikrullah, berdzikir mengingat Allah merupakan amalan yang sangat agung, ia merupakan sebab diturunkannya berbagai nikmat, penolak segala bala’ dan musibah. Ia merupakan sebab kuatnya hati, penyejuk bagi pandangan mata manusia, ruh bagi kehidupan, sekaligus sebab hidupnya ruh itu sendiri. Betapa seorang hamba teramat butuh akan dzikrullah, dan tidak merasa cukup dengannya dalam berbagai situasi dan kondisi. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al Ahzab : 41). Dalam ayat sebelumnya Allah juga berfirman yang artinya, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Banyaknya perintah berdzikir ini menunjukkan bahwa seorang hamba teramat butuh akan dzikrullah, dan hendaknya tidak meninggalkannya walau sekejap mata sekalipun. Sampai-sampai dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Musa bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan orang yang berdzikir mengingat Rabb-Nya, dengan orang yang tidak, adalah bagaikan seorang yang hidup dengan seorang yang mati”.

Oleh karena itulah dzikir memiliki berbagai faidah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah dalam “Al Wabilush Shayyib”, diantaranya sebagai berikut.

  1. Dzikir dapat mengusir setan, mendesak, dan menghancurkannya.
  2. Menguatkan hati, badan, menjadi cahaya bagi hati, dan menjadi sebab datangnya rizki.
  3. Menyelimuti pelakunya dengan rasa cinta dan menyegarkan jiwanya. Mewariskan rasa cinta, yang merupakan ruh bagi Islam, gerigi bagi agama, dan poros kebahagiaan dan kesuksesan.
  4. Mewariskan rasa muraqabah, merasa selalu diawasi oleh Allah, hingga seorang hamba akan mencapai derajat ihsan dan merasa bahwa Allah senantiasa melihatnya dalam ibadah. Mewariskan sifat al inabah (kembali pada Allah) dan kedekatan dengan-Nya, hingga setiap ia berdzikir ia akan merasa semakin dekat dengan Rabb-Nya ‘Azza wa Jalla.
  5. Menjadikan ia akan diingat juga oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Berdzikirlah kalian kepada-Ku, niscaya (pasti) Aku akan mengingat kalian” (QS. Al Baqarah : 152).
  6. Mewariskan kehidupan bagi hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Permisalan dzikir bagi hati adalah bagaikan air dengan ikan. Bagaimana jika ikan itu berpisah dengan air? Ia tentu akan tercekik dan mati, maka seperti itu pulalah hati (jika tidak berdzikir –pent)”.
  7. Membersihkan “karat” di hati, setiap benda akan berkarat dan karatnya hati ialah al ghaflah, perasaan lalai, dan al hawa, hawa nafsu. Semua itu akan hilang dengan dzikir, taubat, dan istighfar.
  8. Dzikir juga akan menghapuskan kesalahan dan dosa, karena ia merupakan kebaikan yang paling agung. Dan setiap kebaikan akan menghapuskan keburukan dan dosa. (Sebagaimana firman Allah dalam surat Hud 114 yang artinya, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” –pent)
  9. Sebab diturunkannya rahmat dan sakinah (ketenangan) dari Allah. “Dan tidaklah suatu kaum berkumpul dalam satu rumah diantara rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya diantara bereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan menyebutkan mereka di tengah makhluk yang ada di sisi-Nya”. (HR. Muslim)
  10. Sebab tersibukkannya lisan dari ghibah, namimah, perkataan dusta, keji, dan bathil. Maka barangsiapa yang mengganti lisannya dengan dzikrullah, Allah akan membentenginya dari kebathilan, yaitu dari beratnya konsekuensi perkataan yang keliru. Sebaliknya, barangsiapa yang lisannya kering dari dzikir, ia akan membasahinya dengan kebathilan, laa haula wa laa quwwata illa billah.
  11. Dzikir merupakan tetumbuhannya surga. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Barangsiapa yg membaca: Subhaanallaahil ‘azhiimi wabihamdih maka ditanam untuknya sebatang pohon kurma di surga.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)
  12. Merutinkan berdzikir mengingat Allah akan menjaga diri dari melupakan Allah ‘Azza wa Jalla. Melupakan Allah merupakan sebab penderitaan seorang hamba, baik dalam penghidupannya maupun perbekalannya (menuju akhirat). Melupakan Rabb akan berkonsekuensi pula lupanya ia terhadap diri dan kebaikannya sendiri. “Dan janganlah keadaan kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah pun membuatnya lupa kepada dirinya sendiri; itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr : 19)
  13. Dzikir akan mendekatkan pelakunya dengan Dzat yang ia sebut-sebut dalam dzikirnya, Ia akan senantiasa bersamanya. Kebersamaan (al ma’iyah) yang dimaksud ialah kebersamaan dalam cinta, pembelaan, pertolongan, dan taufiq (bukan secara Dzat –pen). “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An Nahl : 142) “Janganlah bersedih, sungguh Allah bersama kita” (QS. At Taubah : 40). Sebagaimana pula dalam hadits Qudsi, “Aku akan senantiasa bersama hambaku selama ia berdzikir mengingat-Ku, dan menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani).
  14. Dzikir merupakan obat bagi kerasnya hati. Seseorang berkata kepada Hasan Al Bashri, “Wahai Abu Sa’ad, aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Jawab beliau, “Lembutkanlah ia dengan dzikir”. Berkata pula Makhuul, “Berdzikir mengingat Allah merupakan obat, sementara mengingat manusia adalah penyakit”.
  15. Dzikir merupakan sebab Allah dan para malaikatnya bershalawat atas ahli dzikir. “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ahzab : 41-43)
  16. Allah membanggakan orang-orang yang berdzikir di hadapan para malaikat-Nya, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi bersabda kepada sebagian shahabat yang tengah berdzikir, ““Apa yang membuat kalian duduk di sini?” Mereka menjawab, “Kami duduk untuk mengingat Allah ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk yang Allah berikan kepada kami sehingga kami bisa memeluk Islam dan nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Demi Allah, apakah tidak ada alasan lain bagi kalian sehingga membuat kalian duduk di sini melaikan itu?”  Mereka menjawab, “Demi Allah, tidak ada niat kami selain itu.” Beliau pun bersabda, “Adapun aku, sesungguhnya aku sama sekali tidak memiliki persangkaan buruk kepada kalian dengan pertanyaanku. Akan tetapi, Jibril datang kepadaku kemudian dia mengabarkan kepadaku bahwa Allah ‘azza wa jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim)
  17. Bahwasanya salah satu tujuan disyariatkannya amal-amal ibadah, ialah dzikir. “Dan tegakkanlah shalat untuk berdzikir kepada-Ku.” (QS. Thaha : 14). Ibnu Abbas ditanya, “Amal apa yang paling agung?” Beliau menjawab, “Dzikrullahi akbar, berdzikir itu lebih besar keutamaannya”.
  18. Merutinkan dzikir dapat mengganti sebagian keutamaan ibadah lain. Suatu ketika para shahabat yang faqir dari kalangan Muhajirin mengadukan kondisi mereka yang kesulitan dalam menandingi ibadah orang-orang kaya seperti haji, umrah, dan jihad. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Baiklah wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak 33 kali.” (HR. Muslim)
  19. Banyak berdzikir akan membebaskan diri dari kemunafikan. “Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik –pent) berdzikir mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisaa’ : 142). Ka’ab berkata, “Barangsiapa yang banyak dzikirnya, ia akan terbebas dari kemunafikan”.
  20. Dzikir lebih utama daripada do’a. Karena dzikir merupakan pujian bagi Allah Ta’ala, sedangkan do’a ialah permintaan. (Tambahan dari penulis : Ibnu Katsir juga berkata : “Allah memberi karunia-Nya kepada ahli dzikir, lebih banyak dari yang ia beri kepada ahli do’a. Berdasarkan firmannya, QS. Al Baqarah ayat 152), “Berdzikirlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian”).

Demikian, semoga Allah memberikan kita semua taufiq untuk menjadi ahli dzikir. [Yhouga Pratama. Sumber : Syarh Hishnul Muslim min Adzkar Al Kitab wa As Sunnah, Majdi bin Abdul Wahhab Al Ahmad, hal. 9-19]

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2012 in Islam

 

Tag: , , , , ,

One response to “20 Faidah Dzikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: