RSS

Matematika Pahala (Lagi)

28 Okt

image

“Berdasar keyakinan tentang balasan tindakan dosa atau maksiat dan amal saleh, pelaku korupsi yang menilap uang negara Rp 1 miliar, balasan dosanya setara Rp 1 miliar pula. Jika pelaku korupsi memberikan sedekah atau bantuan anak yatim, tempat ibadah atau pesantren sebesar Rp 100 juta, pahala yang akan diperoleh minimal setara Rp 100 juta kali 700 atau sama dengan Rp 70 miliar. Di akhirat nanti akan ditimbang beratnya pahala dan dosa sehingga si pelaku korupsi bisa memperoleh surplus pahala setara Rp 69 miliar” (Abdul Munir Mulkhan dalam “Matematika Pahala dan Teologi Korupsi”,  Kompas, 28/10)

Pernyataan serupa pernah saya dengar sekira 7 tahun lalu saat Muktamar Muhammadiyah di Batu, oleh seorang petinggi Muhammadiyah saat itu. “Matematika Pahala” istilahnya. Hal ini berdasar asumsi tentunya bahwa amal saleh yang dikerjakan si pelaku korupsi, diterima. Namun, benarkah demikian?

ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻃﻴﺐ ﻻ ﻳﻘﺒﻞ ﺇﻻ ﻃﻴﺒﺎ

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatupun kecuali yang baik” (HR Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata,

ﻓﻼ ﻳﻘﺒﻞ اﻟﻠﻪ ﺇﻻ اﻟﻄﻴﺐ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ اﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﺎﻟﻤﺎﻝ اﻟﺨﺒﻴﺚ ﻻﻳﻘﺒﻠﻬﺎ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻷﻧﻪ ﻻﻳﻘﺒﻞ ﺇﻻ ﻃﻴﺒﺎ

“Maka Allah tidak menerima melainkan yang baik, diantaranya seperti sedekah dengan harta yang keji (yaitu didapat dengan cara yang haram -pent) tidak akan diterima oleh Allah ‘azza wa jalla, karena Dia tidak menerima melainkan yang baik”

Beliau rahimahullah juga menegaskan tentang harta yang kotor,

ﻭاﻟﻄﻴﺐ ﻣﻦ اﻷﻣﻮاﻝ: ﻣﺎ اﻛﺘﺴﺐ ﻋﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺣﻼﻝ، ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ اﻛﺘﺴﺐ ﻋﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻣﺤﺮﻡ ﻓﺈﻧﻪ ﺧﺒﻴﺚ

“(Yang dimaksud dengan) yang baik berupa harta : yaitu yang didapat melalui cara yang halal, adapun yang didapat dengan usaha dan cara yang haram maka harta tersebut kotor” (Syarh Al Arbain Nawawiyah, hal. 141, Asy Syamilah)

Dalam sebuah hadits Nabi shallallaahu alaihi wa sallam juga bersabda,

لا يقبل الله صلاة بغير طهور و لا صدقة من غلول

“Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, dan tidak pula sedekah yang berasal dari harta ghulul” (HR Muslim)

Harta ghulul ialah harta yang diambil dari ghanimah yang belum dibagi, (alias harta haram -pent). Imam Syafii berpendapat bahwa harta haram harus ditahan hingga diketahui siapa pemiliknya, dan tidak boleh disedekahkan. (lihat Qawaid wa Fawaid Al Arba’in An Nawawiyah, Nazhim Muhammad Sulthan, hal. 114)

Bahkan, tidak hanya sedekahnya yang tidak diterima, doa yang dipanjatkan pun tidak dikabulkan, “hanya” gara-gara memakan harta haram. Sebagaimana terdapat dalam lanjutan hadits riwayat Muslim di atas,

ﺛﻢ ﺫﻛﺮ: “اﻟﺮﺟﻞ ﻳﻄﻴﻞ اﻟﺴﻔﺮ ﺃﺷﻌﺚ ﺃﻏﺒﺮ ﻳﻤﺪ ﻳﺪﻳﻪ ﺇﻟﻰ اﻟﺴﻤﺎء: ﻳﺎ ﺭﺏ ﻳﺎ ﺭﺏ ﻭﻣﻄﻌﻤﻪ ﺣﺮاﻡ ﻭﻣﻠﺒﺴﻪ ﺣﺮاﻡ ﻭﻏﺬﻱ ﺑﺎﻟﺤﺮاﻡ ﻓﺄﻧﻰ ﻳﺴﺘﺠﺎﺏ ﻟﻪ”

“Kemudian beliau menyebutkan seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.”

Bentuk istifham (pertanyaan) dalam kalimat terakhir menunjukkan konteks ta’ajjub (heran) dan istib’ad (menunjukkan jauh dan tidak mungkinnya hal tersebut terjadi). Sehingga dapat diterjemahkan, “Sungguh mengherankan, betapa sangat tidak mungkinnya doa tersebut terkabul?!”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Sa’ad yang minta agar doanya terkabul, “Perbaikilah makananmu niscaya akan terkabul doa-doamu” (lihat Qawaid wa Fawaid, hal. 117)

Menarik mencermati keterangan Dr Erwandi Tarmidzi, MA bahwa jika doa, yang merupakan inti ibadah shalat, tidak diterima, dikhawatirkan shalat pemakan harta haram juga ditolak. Beliau membawakan atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma,

لا يقبل الله صلاة امرئ في جوفه حرام

“Allah tidak menerima shalat seorang yang di dalam perutnya ada makanan haram”

Haji dan umrah (yang lazim dilakukan sebagian pejabat korup kita, wallahul musta’an) juga dikhawatirkan tidak diterima oleh Allah. Apabila seorang berangkat haji dengan harta haram, saat dia menginjakkan kakinya ke atas kendaraan, ia menyeru “Labbaikallahumma labaik”, maka ada yang menyeru dari langit :

لا لبيك ولا سعديك، زادك حرام و نفقتك حرام، و حجك غير مبرور

Tidak diterima kedatanganmu, tidak ada kebahagiaan bagimu, bekalmu dari harta haram, dan hajimu tidak mabrur (HR Thabrani, dinukil oleh Syaikh Ibn Baz)

Bahkan Al Ghazali berpendapat bahwa seorang yang memegang harta haram, tidak wajib haji atasnya, tidak pula zakat, karena ia dianggap tidak memiliki harta (Harta Haram Muamalat Kontemporer, hal. 8)

Berbagai dalil di atas menunjukkan kelirunya analogi matematika pahala yang diajukan oleh penulis artikel. Betapa tidak sebandingnya suatu amalan yang bahkan tidak diterima, yaitu bersedekah dengan harta haram, dibandingkan dengan amal kejahatan itu sendiri.

Oleh karena itu menjadi keliru pula kesimpulan penulis artikel yang menyebutkan solusi pemberantasan korupsi. Penulis berkata,

“Tindakan cepat yang perlu dilakukan ialah tafsir ulang dan rekonstruksi teologi meletakkan tindak korupsi sebagai dosa yang tidak bisa diampuni Tuhan. Sebesar apa pun pahala yang diperoleh sebagai imbalan amal saleh tidak mungkin menghapus dosa korupsi, karena tindak korupsi semakna menduakan Tuhan atau syirik” (Matematika Pahala dan Teologi Korupsi, Kompas 28/10)

Tanpa perlu “merekonstruksi” teologi pun, amal saleh sedekah yang berasal dari harta haram tidak mungkin menghapus dosa korupsi, sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan di atas. Sehingga gagasan menyamakan dosa korupsi dengan dosa syirik, dirasa tidak perlu untuk dilakukan.

Wallahu a’lam.

Pandaan, 28 Oktober 2013

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 28, 2013 in Tak Berkategori

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: