RSS

Satu Huruf Yang Membatalkan Shalat

18 Apr

Dalam Asy Syarhul Mumti’ bab Sujud Sahwi, Syaikh Muhammad ibn Shalih al Utsaimin rahimahullahu ta’ala menjelaskan tentang perkataan penulis matan Zadul Mustaqni’, Al Imam Abu An Naja Al Hijawi rahimahullahu ta’ala, seputar hukum meniup dalam shalat, apakah ia membatalkan shalat ataukah tidak. Beliau menjelaskan :

Perkataan penulis “..dan jika meniup”, yaitu jika tiupan tersebut mencapai dua huruf, batal shalatnya. Karena ia telah dianggap sebagai kalam (yaitu kalam yang sempurna yang memiliki makna –pent). Contoh : bersuara “أف”, atau “Uf” maka yang demikian ini membatalkan shalat, karena telah mencapai dua huruf. Terkadang suatu kalam yang sempurna terdiri atas satu huruf saja, terutama jika ia memiliki huruf illat. Contohnya fi’il amr tsulatsi yang tergolong mitsal dan naqish (akan dijelaskan istilah ini, insya Allah –pent).

Fi’il mitsal yaitu fiil yang mu’tal awwal, (fa’ fiilnya terdiri atas huruf illat, yaitu huruf ا، و، ي). Fiil naqish yaitu fiil yang mu’tal akhir (lam fiilnya terdiri atas huruf illat). Maka bentuk fiil amr dari fiil (yang mitsal sekaligus naqish) hanya terdiri atas satu huruf saja, dan (karena ia fiil amr) kata tersebut termasuk kalam yang sempurna. Contoh seorang berkata kepada sahabatnya : عِ(Ind : awas! –pent) dari fiil madhi وعى maka ini termasuk kalam yang sempurna. Atau kata فِ(Ind : penuhi! –pent) dari fiil madhi وفًّى  ini juga kalam yang sempurna. Kedua kalam tersebut hanya terdiri atas satu huruf saja namun sudah sebagai kalam yang sempurna. Sebagaimana ada juga kata yang terdiri atas tiga huruf, namun belum termasuk kalam. Ada juga yang terdiri atas dua huruf dan ia termasuk kalam, ada yang satu huruf dan ia bukan kalam, tergantung dari kalimatnya.

Adapun mengenai an nafkhu, tiupan, jika ia hanya sia-sia dan tidak ada maksudnya, maka batal shalatnya (telah berlalu penjelasannya adalah karena tiupan pasti terdiri atas dua huruf –pent). Adapun jika ada perlunya, maka tidak membatalkan shalat. Walaupun ia terdiri atas dua huruf, karena tiupan bukan termasuk kalam. Contoh : seseorang meniup ke arah binatang melata di tangannya, dalam rangka untuk mengusirnya. Karena jika ia memukulnya dengan tangan, binatang itu akan menggigit, sehingga lebih mudah bagi ia untuk mengusir dengan tiupan. Yang demikian ini tidak termasuk kesia-siaan yang dapat membatalkan shalat.

(selesai nukilan dari Asy Syarhul Mumti’ ala Zaadil Mustaqni’, jilid 3 hal 367 penerbit Dar Ibn Al Jauziy)

Tambahan penjelasan :

1. Perkataan yang membatalkan shalat yaitu yang tidak perlu, tidak ada maslahat yang berkaitan dengan shalat itu sendiri, dan dilakukan dengan sengaja. Adapun jika ada maslahatnya untuk shalat, meskipun sengaja, maka tidak mengapa. Sebagaimana dijelaskan dalam Syarhul  Mumti’ pada hal. 365 mengenai perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Dzul Yadain.

2. Dapat diambil faidah bahwa jumlah huruf tidak menentukan suatu perkataan membatalkan shalat atau tidak. Satu huruf bisa membatalkan shalat, jika ia berupa kalimat yang memiliki makna, dilakukan dengan sengaja, dan tanpa ada maslahatnya. Sedangkan dua huruf, jika itu ada maslahatnya, seperti tiupan untuk mengusir serangga yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat, maka tidak membatalkan shalat.

3. Termasuk dua huruf yang tidak membatalkan shalat, berdehem (تنحنح), apabila ada perlunya, misal untuk mengingatkan imam yang ruku’ atau sujud terlalu lama dan diluar kewajaran, berdehem seperti ini meskipun lebih dari dua huruf, tidak membatalkan shalat. Termasuk juga menangis hingga sesenggukan, apabila memang natural, menangis karena takut kepada Allah, atau ketika mendengar ayat yang dibaca oleh imam, tidak membatalkan shalat. Lihat Syarhul Mumti’ hal. 368-369.

4. Kalam yang disebut dalam tulisan di atas, ialah kalam dalam definisi pakar nahwu, yaitu lafdhun al murakkab al mufid bil wadh’i, lafadz (yaitu bisa diucapkan), yang memiliki susunan, faidah, dan diucapkan dengan sengaja. Termasuk definisi ini, ialah fiil amr, karena ia tersusun atas fiil amr itu sendiri dan dhamir mukhathab takdirnya “anta”. Lihat Qawaidul Asasiyah hal. 12

Wallahu a’lamu bisshawab.

 

 

Malang, ba’da shalat Jumat, 17 Jumadal Akhir 1435 H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2014 in Islam

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: