RSS

Dampak Destruktif Korupsi : Sebuah Studi Hadits

01 Apr

Allah telah menetapkan bahagian rizki untuk seluruh makhluqNya, dan bersamaan dengan itu memerintahkan juga untuk mencari rizki dari jalan yang halal lagi baik. Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu tunduk bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk : 15)

Namun di sisi lain, umat ini telah dijangkiti sebuah penyakit yang menggerogoti amanah, yaitu korupsi. Akibatnya, sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh Shalih ibn Humaid imam Masjidil Haram, “Orang yang jujur pun akhirnya tak bisa memperoleh haknya kecuali dengan memberikan hartanya atau memberikan suatu manfaat kepada yang berwenang, dan orang yang zhalim tidak hilang kezhalimannya sampai ia menolak uang sogokannya”[1]

Korupsi merupakan tindak kejahatan yang secara universal ditentang oleh semua umat beragama, bahkan yang tidak beragama sekalipun. Menurut M. Amien Rais, ditinjau dari alasan atau motivasinya, korupsi dapat dibagi menjadi dua jenis, need dan greed based.[2] Yang pertama yaitu seseorang melakukan korupsi atas dasar kebutuhan, survival, memenuhi kebutuhan hidup. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, faktor need based ini sangat menentukan. Yang kedua, korupsi karena dorongan keserakahan yang tidak mengenal batas atau limit. Inilah yang disebut sebagai white collar crime, korupsi yang dilakukan oleh pejabat, pemimpin, dan pemegang kekuasaan yang bila kita lihat dari kekayaan yang mereka miliki, tidak habis pikiran kita menjangkau untuk apa mereka melakukan korupsi, selain karena faktor keserakahan semata. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ أَنَّ ِلإِبْنِ آدَامَ وَادِياً مِنْ ذَهَبٍ لأَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَادِياَنِ وَلَنْ يَمْلأَ فاَهُ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تاَبَ

“Jika anak Adam memiliki satu lembah emas dia akan mencari agar menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutup mulutnya melainkan tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 1049)

Padahal, jika mereka paham bahwa seluruh harta yang dikumpulkan di dunia dengan susah payah, akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع؛ عن عمره فيما أفناه، وعن شبابه فيما أبلاه، وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه، وما عمل فيما علم

“Tidaklah kedua kaki seorang hamba beranjak pada hari kiamat kelak sampai ia ditanya tentang empat hal : umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan apa yang telah diamalkan dari ilmunya” (HR Tirmidzi, shahih)

Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami korupsi sebagai tindakan yang destruktif (merusak), zhalim terhadap diri sendiri dan berdampak secara luas terhadap masyarakat. Islam telah mengatur hal ini lewat sebuah hadits yang amat singkat namun sarat akan makna dan faidah (jawami’ul kalim) berikut ini.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْخُدْرِيّ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Dari shahabat Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh melakukan perbuatan dharar maupun dhirar”

Hadits hasan, diriwayatkan dari Ibnu Majah [2341], Ad Daruquthni [4/228] serta selainnya dengan sanad yang bersambung, Malik [2/746] dalam Al Muwatha’ dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara mursal tanpa menyebutkan Abu Said, dan terdapat jalur lain yang saling menguatkan satu sama lain.

Makna Ad Dharar dan Ad Dhirar

Para ulama mendefinisikan ad dharar dan ad dhirar dalam berbagai definisi sebagai berikut.

1. Kesengsaraan dan kekurangan

Secara bahasa ad dhurru ialah lawan dari an naf’u, kemanfaatan, yaitu kondisi yang buruk dan menimbulkan kesengsaraan. Allah Ta’ala berfirman :

قَالُوا يَٰأَيُّهَا ٱلْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا ٱلضُّرّ

“Mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata (kepada Yusuf ‘alaihissalam) : “Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa ad dhurr (yaitu kesengsaraan)” (QS. Yusuf : 88)

Sedangkan ad dharar, ialah an nuqshaan, kekurangan, misalnya kekurangan dalam harta dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan, korupsi termasuk dalam kedua definisi baik dharar maupun dhirar, karena dampaknya yang menimbulkan penderitaan bagi masyarakat luas, baik akibat pengambilan anggaran yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat, maupun faktor lainnya seperti berkurangnya kualitas pembangunan akibat korupsi yang dilakukan oleh pelaksana.

2. Kerugian baik yang menguntungkan atau tidak

Sebagian ulama mengatakan, “Dharar ialah apa yang membahayakan korbannya, sementara engkau memperoleh keuntungan darinya. Adapun dhirar, apa yang membahayakan korbannya, namun engkau tidak mendapat manfaat darinya.”[3] Oleh karena itu korupsi dari tinjauan ini masuk dalam kategori dharar karena pihak yang melakukan korupsi pasti mendapat keuntungan dan hasil dari yang ia korupsi, baik berupa harta maupun manfaat lainnya. Wallahu a’lam.

3. Kerugian yang disengaja atau tidak

Syaikh Muhammad ibn Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

والفرق بين الضرر والضرار : أن الضرر يحصل بدون قصد، والمضارة بقصد، ولهذا جاءت بصيغة المفاعلة. مثال ذلك: رجل له جار وعنده شجرة يسقيها كل يوم، وإذا بالماء يدخل على جاره ويفسد عليه، لكنه لم يعلم، فهذا نسمية ضررا. مثال آخر: رجل بينه وبين جاره سوء تفاهم، فقال: لأفعلن به ما يضره، فركب موتورا له صوت كصوت الدركتر عند جدار جاره وقصده الإضرار بجاره، فهذا نقول مضار. المضار لا يرفع ضرره إذا تبين له بل هو قاصده، وأما الضرر فإنه إذا تبين لمن وقع منه الضرر رفعه

“Perbedaan antara ad dharar dan ad dhirar adalah : dharar terjadi tanpa sengaja, sedangkan dhirar/mudharat terjadi dengan sengaja, oleh karena itu wazannya mufaa’alah. Contoh : seorang memiliki tetangga yang memelihara pohon, disirami tiap hari. Terkadang airnya masuk ke tetangga dan merugikannya tanpa ia ketahui. Ini kita sebut ad dharar.

Contoh berikutnya : seorang memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan tetangganya. Ia berkata, “Sungguh akan aku ganggu dia”. Ia pun menyalakan motornya yang suaranya seperti traktor, di sebelah tembok tetangganya dengan maksud mengganggunya. Ini dhirar/mudharat.

Bahaya atau gangguan dari mudharat tidak hilang setelah dijelaskan duduk perkaranya, bahkan dilakukannya dengan sengaja. Adapun dharar setelah dijelaskan, hilanglah gangguannya.” –selesai nukilan dari Syarh Arba’in An Nawawiyah-

Dari sisi ini, korupsi memiliki dampak tidak langsung dan dampak langsung, dampak yang disengaja maupun dampak turunan yang pada awalnya bisa jadi tidak terlintas dalam benak koruptor. Sebagai contoh apabila kontraktor melakukan korupsi pada proyek perbaikan jalan, dengan cara mengurangi ketebalan jalan dan menurunkan spesifikasi aspal dari sisi kualitas. Secara langsung, kerugian yang diterima oleh pemilik proyek/pemerintah adalah tidak mendapatkan jalan yang sesuai dengan anggaran yang telah dibayarkan, akibat dari adanya pencurian anggaran oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Hal ini berakibat langsung berupa kerugian finansial bagi pemilik proyek. Namun dampak tidak langsung yang diakibatkan dari korupsi ini amatlah besar, pengguna jalan akan merasakan gangguan berupa jalan yang berlubang, terkelupas, kasar, akibat spesifikasi yang dengan sengaja diturunkan oleh si kontraktor. Oleh karena itu, dampak jangka panjang dari korupsi sangat merusak dan termasuk kategori dosa jariyah yang akan ditanggung oleh si koruptor. Bagaimana tidak? Setiap ada seseorang yang melewati jalan tersebut dan merasa terzhalimi dengan kualitas jalan yang tidak semestinya, dosanya akan mengalir kepada kontraktor tersebut. Wal’iyadzubillah.

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

“Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan” (QS. Al Ankabut : 13)

4. Merugikan diri sendiri dan orang lain.

Pendapat lain mengatakan bahwa ad dharar ialah apa yang membahayakan diri sendiri, dan ad dhirar ialah apa yang berbahaya bagi orang lain. Abdurrahman As Suhaim menganalogikannya dengan perokok. Dari sisi medis, ia membahayakan dirinya sendiri sebagai perokok aktif, dan ia juga membahayakan orang lain yang menjadi perokok pasif akibat menghirup asap rokoknya.[4] Adapun beberapa dampak korupsi bagi diri si pelaku itu sendiri, akan dijelaskan lebih lanjut dalam bahasan berikut ini.

Dampak Korupsi bagi Pelakunya

1. Korupsi (risywah) termasuk dosa besar yang menyebabkan pelakunya terancam neraka

2. Pelaku korupsi mendapatkan laknat dan terhalang dari rahmat Allah Ta’ala, sama saja baik itu pihak pemberi maupun penerima. Kedua poin diatas merupakan faidah dari hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

لعن الله الرَّاشي والمُرْتَشِي

Allah melaknat ar raasyi dan al murtasyi” (HR Ahmad dan Tirmidzi, Tirimidzi berkata : hadits hasan shahih)

Ar raasyi ialah pihak pemberi risywah atau sogokan, dan al murtasyi ialah pihak penerima risywah. Keduanya sama-sama dilaknat oleh Allah Ta’ala.

3. Korupsi termasuk cabang kekufuran.

At Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwasanya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

الرّشوة في الحكم كفر، وهي بين النّاس سحت

“Risywah dalam hukum adalah kekufuran, apabila ia terjadi antara sesama manusia maka itu disebut sukht” (Shahih At Targhib, 2213)

As sukht secara bahasa ialah penghasilan yang didapat dengan cara yang haram, keji, memalukan. Disebut sukht karena ia menghilangkan keberkahan dalam sesuatu.

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kekufuran ialah apabila seorang penguasa, hakim, atau pejabat lainnya menerima suap dalam rangka memperlancar apa yang menjadi hak-hak manusia, atau untuk menyerobot hak orang lain maka ia telah menghalalkan apa yang Allah haramkan, atau juga mengharamkan apa yang telah Allah halalkan. Ini termasuk ke dalam perbuatan kekufuran. Allah Ta’ala berfirman

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan yang Allah turunkan maka ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al Maaidah : 44)[5]

Semoga Allah Ta’ala melindungi diri, keluarga, masyarakat, pemimpin, pemangku kebijakan, menteri, presiden kita dari kejahatan korupsi, dan senantiasa memberikan taufik untuk menjauhinya. Aaamiin yaa mujibas saa’iliin.
Referensi :
[1] http://www.alukah.net/sharia/0/39666/
[2] Selamatkan Indonesia, M. Amien Rais, hal. 179
[3] http://uqu.edu.sa/page/ar/10738
[4] http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/fatwa/238.htm
[5] http://www.alukah.net/sharia/0/39666/#_ftnref18

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 1, 2015 in Tak Berkategori

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: