RSS

Benarkah Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan?

30 Apr
Benarkah Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan?

Syaikh Shalih ibn Abdullah Al ‘Ushoimi hafizhahullah dalam transkrip daurah tahun 1424 H ketika menjelaskan kitab “Maqashidus Shaum” karya Al ‘Izz ibn Abdussalam As Syafi’i rahimahullah, menjelaskan tentang hadits :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِالشَّيَاطِينُ ».

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ketika Ramadhan datang maka dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dirantailah syetan-syetan(Hadits Riwayat Al-Bukhari nomor 1899, dan Muslim nomor 1079)

Bahwa yang dimaksud dengan dibelenggunya syaithan, terdapat beberapa pendapat :

1. Semua syaithan dibelenggu tanpa kecuali, ini makna yang dapat dipahami secara langsung dari hadits ini.

2. Hanya sebagian syaithan saja yang dibelenggu. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini :

a. Yang dibelenggu adalah syaithan yang mencuri berita langit. Diantara yang berpendapat seperti ini adalah Al Khullaimi dalam Al Minhaj fi Sya’b Al Iman

b. Yang dibelenggu adalah para syaithan yang paling durhaka saja. Diantara yang cenderung pada pendapat ini adalah Abu Bakr ibn Khuzaimah dalam kitab shahihnya.

Pendapat yang rajih, menurut Syaikh Shalih ibn Abdullah Al Ushaimi, adalah pendapat pertama, bahwa semua syaithan dibelenggu tanpa kecuali. Tidak membedakan apakah itu syaithan yang mencuri dengar berita langit, ataukah yang durhaka saja.

Namun perlu diketahui bahwa keseluruhan hadits menyebutkan bahwa yang dibelenggu adalah syaithan yang terpisah dari tubuh manusia. Adapun jin qarin, yang mengiringi manusia selama hidupnya, tidak termasuk dalam jenis syaithan yang dibelenggu karena ia tidak terpisah dari manusia dalam segala kondisi. Sebagaimana dalam hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فصل ما بين بني آدم و أعين الجن أن يقولوا : بسم اللّٰه

“Pemisah antara anak Adam dengan pandangan mata jin, adalah ketika mengucapkan : Bismillah”

Hadits ini meskipun statusnya dha’if (lemah) namun maknanya menunjukkan bahwa jin dan syaithan terpisah dari manusia, adapun jin qarin tidak terpisah selamanya dari tubuh manusia.

Tambahan :
Dan diantara tugas jin qarin adalah menyesatkan manusia. Syaikh Muhammad ibn Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan :

القرين هو شيطان مسلَّط على الإنسان بإذن الله عز وجل ، يأمره بالفحشاء وينهاه عن المعروف ، كما قال عز وجل : ( الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَآءِ وَاللهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ) ، ولكن إذا منّ الله سبحانه وتعالى على العبد بقلب سليم صادق متجه إلى الله عز وجل مريد للآخرة ، مؤثر لها على الدنيا : فإن الله تعالى يعينه على هذا القرين حتى يعجز عن إغوائه

Jin qarin adalah syaithan yang dihinakan bagi manusia atas izin Allah Ta’ala, ia menyuruh pada perbuatan keji dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf. Akan tetapi apabila Allah menganugerahkan hambaNya dengan qalbun salim, hati yang selamat, jujur, menghadap Allah Ta’ala dan senantiasa fokus pada akhirat, mengutamakannya daripada dunia, maka Allah akan menolongnya dari jin qarin itu, sampai jin itu lemah dan tidak sanggup lagi untuk menggodanya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin 17/427)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2015 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: