RSS

Tinjauan Aqidah Dalam Mengeraskan Basmalah

02 Mei

Diantara masalah fiqh yang dimasukkan dalam perkara aqidah : tidak mengeraskan basmalah (ketika membaca Al Fatihah) dalam shalat jahriyyah (Shubuh, Maghrib, dan Isya). Imam Sufyan Ats Tsauri berkata mengenai aqidah beliau :

وإخفاء البسملة أفضل من الجهر

“Adapun menyamarkan basmalah adalah lebih utama daripada mengeraskannya” (Al Lalika’iy dalam Ushul Sunnah 1/152)

Ibn Bathah rahimahullah berkata,

من السنة ألا تجهر ببسم الله الرحمن الرحيم

“Termasuk sunnah : tidak mengeraskan bismillahirrahmanirrahim” (Al Ibanah As Sughra, 288, Al Ibanah Al Kubra, 2/287)

Hal ini karena mengeraskan basmalah termasuk dalam masalah menyelisihi Syiah Rafidhah yang mereka menganjurkan untuk mengeraskan basmalah dalam kondisi yang seharusnya dibaca pelan(Majmu Fatawa 22/243). Sufyan Ats Tsauri adalah seorang imam bagi penduduk Kuffah, dan waktu itu telah mulai nampak di masyarakat mereka adanya faham Rafidhah, hingga Abdullah ibn Mubarak rahimahullah berkata,

لا تأخذواعنأهل الكوفة في الرفض شيئاً

“Jangan mengambil faham Rafidhah dari penduduk Kuffah sesuatu pun”

Maka yang nampak bagi Sufyan Ats Tsauri dari kalimat dari Ibnul Mubarak adalah tidak mengeraskan basmalah, karena Rafidhah selalu berdalil dengan hadits-hadits yang menganjurkan mengeraskan basmalah. Adapun masalah ini adalah masalah khilafiyah menurut Ahlussunnah, diantara mereka ada yang menganjurkan mengeraskan basmalah berdalil dengan hadits-hadits yang mengeraskan, dan sebagian menganjurkan memelankan basmalah dengan dalil-dalilnya (lihat Al Majmu, An Nawawi 3/298)

Adapun maksud dari para imam salaf dalam masalah ini adalah dalam rangka menjauhi ahli bid’ah dan memperingatkan ummat agar tidak menyepakati mereka. Maslahat untuk menyelisihi dan berbeda dengan mereka dalam tidak mengeraskan basmalah lebih kuat daripada maslahat untuk mengamalkan yang mustahab (dianjurkan) -yaitu mengeraskan basmalah- sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dengan amat rinci, beliau berkata :

الذي عليه أئمة الإسلام أن ما كان مشروعاً لم يترك لمجرد فعل أهل البدع ، لا الرافضة ولا غيرهم وأصول الأئمة كلهم توافق هذا فالجهر بالبسملة هو مذهب الرافضة، وبعض الناس تكلم في الشافعي بسببها، ونسبه إلى قول الرافضة والقدرية؛ لأن المعروف في العراق أن الجهر كان من شعار الرافضة، حتى إن سفيان الثوري وغيره من الأئمة يذكرون في عقائدهم ترك الجهر بالبسملة؛ لأنه كان عندهم من شعار الرافضة.. ومع هذا فالشافعي لما رأى أن هذا هو السنة كان ذلك مذهبه وإن وافق قول الرافضة.

“Para imam dalam Islam berpegang bahwa yang disyariatkan adalah tidak meninggalkan suatu amalan semata-mata karena itu juga dipraktekkan oleh ahli bid’ah, Rafidhah, dan selainnya. Prinsip para imam seluruhnya adalah sepakat dalam hal ini”

Beliau juga berkata,

“Adapun (selalu) mengeraskan basmalah adalah madzhab Rafidhah, dan sebagian orang mulai berbicara tentang pendapat Syafi’i dalam hal ini (yaitu menganjurkan mengeraskan basmalah), dan menisbatkannya pada pendapat Rafidhah dan Qadariyyah. Karena yang dikenal di Iraq bahwasanya mengeraskan basmalah adalah syiar kaum Rafidhah, hingga Sufyan Ats Tsauri dan ulama selainnya menyebutkan tentang hal ini dalam aqidah mereka, dan menyerukan untuk meninggalkan praktek mengeraskan basmalah karena itu merupakan syiar kaum Rafidhah. Adapun As Syafi’i memandang hal ini adalah sunnah, dan ini adalah madzhab beliau walaupun pendapat beliau sama dengan pendapat Rafidhah dalam hal ini.”

Beliau juga menjelaskan,

ثم قال: إنه إذا كان في فعل مستحب مفسدة راجحة لم يصر مستحباً، ومن هنا ذهب من ذهب من الفقهاء إلى ترك بعض المستحبات إذا صارت شعاراً لهم، فإنه لم يترك واجباً بذلك، لكن قال في إظهار ذلك مشابهة لهم، فلا يتميز السني من الرافضي، ومصلحة التمييز عنهم لأجل هجرانهم ومخالفتهم أعظم من مص لحة هذا المستحب، وهذا الذي ذهب إليه يحتاج إليه في بعض المواضع إذا كان في الاختلاط والاشتباه مفسدة راجحة على مصلحة فعل ذلك المستحب، لكن هذا أمر عارض لا يقتضي أن يجعل المشروع ليس بمشروع دائماً

“Adapun jika amalan yang dianjurkan tersebut memiliki mafsadat yang lebih kuat maka hukumnya menjadi tidak dianjurkan lagi. Diantara contohnya adalah pendapat sebagian fuqaha’ untuk meninggalkan sebagian perkara yang dianjurkan apabila perkara itu menjadi syiar bagi mereka (ahli bid’ah dan sebagainya), karena itu bukanlah termasuk meninggalkan suatu kewajiban, akan tetapi kata mereka apabila mengerjakan hal ini maka termasuk dalam menampakkan keserupaan dengan mereka, akhirnya Sunni menjadi tidak berbeda dengan Rafidhi. Maslahat untuk berbeda dengan mereka adalah dalam rangka hajr (pemboikotan) dan menyelisihi mereka, dan ini lebih besar dari maslahat mengerjakan suatu yang dianjurkan. Pendapat mereka ini diperlukan di sebagian tempat yang disana (ahlus sunnah dan ahli bidah) bercampur baur dan memiliki keserupaan, dan mafsadatnya lebih besar daripada maslahat untuk mengerjakan suatu yang dianjurkan. Akan tetapi perkara ini bukan berarti berkonsekuensi perkara yang disyariatkan berubah menjadi perkara yang tidak disyariatkan selamanya”

Wallahu a’lam.

Diterjemahkan dari : http://www.dorar.net/enc/aqadia/4288

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 2, 2015 in Tak Berkategori

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: