RSS

Benarkah Pendapat Hadits Ahad Bukan Dalil Dalam Aqidah?

10 Mei
Benarkah Pendapat Hadits Ahad Bukan Dalil Dalam Aqidah?

Tulisan ini hanya akan menyorot klaim bahwa pendapat hadits ahad bukan dalil dalam aqidah, adalah pendapat jumhur. Klaim ini diantaranya dapat dibaca disini.

Sebelumnya perlu kami jelaskan diantara kekeliruan fatal sebagian oknum grassroot (bahkan tokoh) yang berpendapat demikian, adalah :

1. Mengira hadits ahad adalah sama dengan hadits gharib. Padahal definisi ahad, sebagaimana dijelaskan Dr. Mahmud Thahhan dalam Taisir Al Musthalah Al Hadits, adalah semua hadits yang perawinya tidak mencapai bilangan mutawatir. Oleh karenanya hadits ahad mencakup hadits masyhur (3 perawi per thabaqat atau lebih), aziz (2 perawi per thabaqat), dan gharib (1 perawi).

2. Oleh karena kekeliruan tersebut, dikiranya hadits ahad jumlahnya hanya beberapa saja. Padahal sebaliknya, jumlah hadits mutawatir sangatlah sedikit. Mayoritas sunnah adalah khabar ahad.

Kembali ke topik seputar klaim jumhurnya pendapat bahwa hadits ahad bukan dalil dalam aqidah, perlu kami bawakan beberapa nukilan para ulama dalam masalah ini.

وقال الإمام ابن عبد البر ـ وهو يتكلم عن خبر الواحد وموقف العلماء منه: وكلهم يدين بخبر الواحد العدل في الاعتقادات ويعادي ويوالي عليها ويجعلها شرعاً وديناً في معتقده، على ذلك جميع أهل السنة. انتهى من  كتابه ـ التمهيد.

Al Imam Ibn Abdil Barr berkata mengenai khabar ahad dan sikap para ulama terhadapnya, “Seluruh ulama berpegang dengan khabar ahad yang ‘adl dalam masalah aqidah, mereka menetapkan loyalitas dan permusuhan dengan khabar ahad, meyakininya sebagai sumber dalam syariat dan agama, dan seluruh ahlus sunnah bersepakat dalam hal ini –selesai kutipan dari kitab At Tamhid.

قال ابن تيمية معلقاً على هذا الإجماع الذي نقله ابن عبد البر: قلت: هذا الإجماع الذي ذكره في خبر الواحد العدل في الاعتقادات يؤيد قول من يقول: إنه يوجب العلم، وإلا فما لا يفيد علماً ولا عملاً كيف يجعل شرعاً وديناً يوالي عليه ويعادي؟. انتهى.

Ibnu Taimiyah berkata mengomentari klaim ijma’ dari Ibn Abdil Barr, “Ijma’ ini yang telah disebutkan dalam hal khabar ahad al-‘adl adalah argument dalam masalah aqidah, bahwa mereka berkata, ‘Hadits ini menghasilkan ilmu’, adalah benar. Karena apabila hadits ahad tidak berfaidah ilmu dan amal, bagaimana syariat dan agama, permusuhan dan loyalitas, bisa terbentuk (tanpa hadits ahad –pen) ?” –selesai.

Lebih lanjut, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menjelaskan bagaimana peta pendapat para ulama dalam hal tersebut, sebagai berikut.

وأما المتواتر فالصواب الذي عليه الجمهور: أن المتواتر ليس له عدد محصور ، بل إذا حصل العلم عن إخبار المُخبِرين كان الخبر متواترا ، وكذلك الذي عليه الجمهور أن العلم يختلف باختلاف حال المخبِرين به ، فرب عدد قليل أفاد خبرُهم العلم بما يوجب صدقهم ، وأضعافهم لا يفيد خبرهم العلم ؛ ولهذا كان الصحيح أن خبر الواحد قد يفيد العلم إذا احتفت به قرائن تفيد العلم ؛ وعلى هذا فكثير من متون الصحيحين متواتر اللفظ عند أهل العلم بالحديث وإن لم يعرف غيرهم أنه متواتر ؛ ولهذا كان أكثر متون الصحيحين مما يعلَمُ علماء الحديث علما قطعيا أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله ، تارة لتواتره عندهم ، وتارة لتلقي الأمة له بالقبول ، وخبر الواحد المتلقَّى بالقبول يوجب العلم عند جمهور العلماء من أصحاب أبي حنيفة ومالك والشافعي وأحمد ، وهو قول أكثر أصحاب الأشعري كالإسفراييني وابن فورك ؛ فإنه وإن كان في نفسه لا يفيد إلا الظن ؛ لكن لمَّا اقترن به إجماع أهل العلم بالحديث على تلقيه بالتصديق ، كان بمنزلة إجماع أهل العلم بالفقه على حكمٍ مستندين في ذلك إلى ظاهر أو قياس أو خبر واحد ، فإن ذلك الحكم يصير قطعيا عند الجمهور ، وإن كان بدون الإجماع ليس بقطعي ؛ لأن الإجماع معصوم ، فأهل العلم بالأحكام الشرعية لا يُجمعون على تحليل حرام ولا تحريم حلال ، كذلك أهل العلم بالحديث ، لا يُجمعون على التصديق بكذب ولا التكذيب بصدق ، وتارة يكون علم أحدهم لقرائن تحتف بالأخبار ، توجب لهم العلم ، ومَن عَلِمَ ما عَلِمُوه حَصَلَ له مِن العلم ما حصل لهم

“Adapun tentang mutawatir yang benar adalah pendapat jumhur : bahwasanya mutawatir tidak ada bilangan tertentu dalam jumlah perawinya. Bahkan apabila suatu khabar menghasilkan ilmu dari perawinya, maka itu disebut khabar mutawatir. Demikian pula dengan pendapat jumhur bahwa ilmu itu bermacam-macam tergantung kondisi yang memberi khabar. Maka betapa banyak hadits yang jumlah perawinya sedikit namun berfaidah ilmu dan wajib untuk membenarkannya. Namun hadits yang lebih dha’if dari itu tidak berfaidah ilmu. Hal itu dikarenakan pendapat yang shahih adalah bahwasanya khabar ahad bisa berfaidah ilmu apabila ada qarinah (indikasi) yang berfaidah ilmu. Oleh karena itu ada banyak matan-matan hadits dari Shahihain yang mutawatir lafzhi menurut ulama pakar hadits padahal ulama lainnya tidak mengetahui bahwa itu mutawatir. Hal ini dikarenakan para ulama hadits sebagai dalil qath’i (jelas) bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam memang mengatakannya, kadang karena derajatnya mutawatir di sisi mereka, kadang karena ummat bersepakat menerimanya. Maka khabar ahad yang ummat bersepakat menerimanya maka itu wajib berfaidah ilmu menurut jumhur ulama dari madzhab Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’i, dan Ahmad, dan pendapat mayoritas ulama Asy’ariyah seperti Al Isfiraini ibn Furik. Sehingga hadits ahad meskipun sendirinya tidak berfaidah selain hanya zhann, namun bisa berfaidah ilmu karena memiliki indikasi berupa ijma’ ulama bahwa mereka menerima dan membenarkan isinya. Hal itu sesuai tingkatan ijma’ ahli ilmu dengan fiqh (pemahaman) mereka dalam menghukumi periwayatan itu dengan makna zhahirnya, dengan qiyas, atau sebagai khabar ahad. Sehingga khabar ahad bisa menjadi qath’i dengan ijma’ jumhur ulama, dan apabila tiada ijma’ maka statusnya tidak bisa terangkat menjadi qath’i. Karena ijma’ adalah ma’shum, sehingga para ulama seluruhnya tidak mungkin mereka berijma’ (bersepakat) untuk menghalalkan yang haram, atau mengharamkan yang halal. Begitu pula dengan ijma’ ahli hadits, tidak mungkin mereka bersepakat untuk membenarkan khabar yang dusta, tidak pula mendustakan khabar yang benar. Terkadang salah seorang dari mereka mengetahui indikasi suatu khabar yang menjadikannya berfaidah ilmu, maka barangsiapa yang mengetahui tentang hal tersebut maka jadilah khabar itu menghasilkan ilmu bagi mereka.” –selesai dari Majmu’ Fatawa 40/18-41

Semoga bermanfaat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2015 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: