RSS

Arsip Tag: wudhu

Beberapa Faidah Tentang Wudhu

يا أيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برءوسكم وأرجلكم إلى الكعبين  [المائدة : 6]

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak mengerjakan shalat, basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian hingga siku, sapulah kepala-kepala kalian dan kaki-kaki kalian hingga kedua mata kaki” (QS Al Maidah : 6)

Wudhu dan Iman

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjelaskan dalam Mulakhas Al Fiqhi berkenaan ayat ini.

ﻭﺗﺄﻣﻞ اﻓﺘﺘﺎﺡ ﺁﻳﺔ اﻟﻮﺿﻮء ﺑﻬﺬا اﻟﻨﺪاء اﻟﻜﺮﻳﻢ: {ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ اﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮا} ؛ ﻓﻘﺪ ﻭﺟﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ اﻟﺨﻄﺎﺏ ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﻳﺘﺼﻒ ﺑﺎﻹﻳﻤﺎﻥ؛ ﻷﻧﻪ ﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﻳﺼﻐﻰ ﻷﻭاﻣﺮ اﻟﻠﻪ، ﻭﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ، ﻭﻟﻬﺬا ﻗﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: “ﻭﻻ ﻳﺤﺎﻓﻆ ﻋﻠﻰ اﻟﻮﺿﻮء ﺇﻻ ﻣﺆﻣﻦ”

Renungkanlah pembuka dalam ayat wudhu, yaitu dengan panggilan mulia, “Wahai orang-orang yang beriman”, maka Allah subhanahu wa ta’ala telah mengkhususkan perintah (wudhu) dengan sifat iman, karena hanya orang berimanlah yang mengerjakan perintah Allah, dan mengambil manfaat darinya. Karenanya Nabi shallallaahu ‘alaihu wa sallam bersabda, “Tidaklah bisa menjaga wudhu melainkan orang yang beriman” (Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani, -pen)

(Mulakhas Al Fiqhi, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, hal 44, Maktabah Syamilah Android)

Ibnu Rajab berkata dalam Jamiul ‘Ulum wal Hikam,

الوضوء من خصال الإيمان الخفية التي لا يحافظ عليها إلا مؤمن، كما في هذا الحديث

“Wudhu merupakan tanda kualitas iman yang tersembunyi, yang tidak dapat menjaganya melainkan hanya orang beriman saja. Sebagaimana dalam hadits tersebut”

Al Mubarakfuri dalam Mura’atul Mafatih berkata,

“إلا مؤمن” أي كامل في إيمانه، فإن الظاهر عنوان الباطن، فطهارة الظاهر دليل على طهارة الباطن

“Kecuali orang beriman”, maksudnya yaitu kesempurnaan iman, dan amalan fisik merupakan pertanda amalan batin. Maka sucinya fisik merupakan tanda sucinya batin.

(Lihat artikel Islamweb http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=135002)

Thaharah Batin dengan Tauhid dan Taubat

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam Mulakhas Al Fiqhiyyah menjelaskan :

ﺛﻢ ﺑﻌﺪ اﻟﻔﺮاﻍ ﻣﻦ اﻟﻮﺿﻮء ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻔﺔ اﻟﺘﻲ ﺫﻛﺮﻧﺎ، ﻳﺮﻓﻊ ﺑﺼﺮﻩ ﺇﻟﻰ اﻟﺴﻤﺎء، ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻣﺎ ﻭﺭﺩ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ اﻷﺩﻋﻴﺔ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﺤﺎﻟﺔ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ: “ﺃﺷﻬﺪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ، ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪا ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، اﻟﻠﻬﻢ اﺟﻌﻠﻨﻲ ﻣﻦ اﻟﺘﻮاﺑﻴﻦ، ﻭاﺟﻌﻠﻨﻲ ﻣﻦ اﻟﻤﺘﻄﻬﺮﻳﻦ، ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ اﻟﻠﻬﻢ ﻭﺑﺤﻤﺪﻙ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺃﻧﺖ، ﻭاﺳﺘﻐﻔﺮﻙ ﻭﺃﺗﻮﺏ ﺇﻟﻴﻚ”. ﻭاﻟﻤﻨﺎﺳﺒﺔ ﻓﻲ اﻹﺗﻴﺎﻥ ﺑﻬﺬا اﻟﺬﻛﺮ ﻭاﻟﺪﻋﺎء ﺑﻌﺪ اﻟﻮﺿﻮء: ﺃﻧﻪ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻥ اﻟﻮﺿﻮء ﻃﻬﺎﺭﺓ ﻟﻠﻈﺎﻫﺮ؛ ﻧﺎﺳﺐ ﺫﻛﺮ ﻃﻬﺎﺭﺓ اﻟﺒﺎﻃﻦ؛ ﺑﺎﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ﻭاﻟﺘﻮﺑﺔ، ﻭﻫﻤﺎ ﺃﻋﻈﻢ اﻟﻤﻄﻬﺮاﺕ، ﻓﺈﺫا اﺟﺘﻤﻊ ﻟﻪ اﻟﻄﻬﻮﺭاﻥ؛ ﻃﻬﻮﺭ اﻟﻈﺎﻫﺮ ﺑﺎﻟﻮﺿﻮء، ﻭﻃﻬﻮﺭ اﻟﺒﺎﻃﻦ ﺑﺎﻟﺘﻮﺣﻴﺪ والتوبة

Kemudian setelah selesai dari wudhu dengan tatacara sebagaimana yang telah kami sebutkan, dilanjutkan dengan mengangkat pandangan ke atas langit dan berdoa sebagaimana disebutkan dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam tentang doa dalam kondisi ini (setelah wudhu), yaitu :
Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh, allahummaj’alni minat tawwabina, waj’alni minal muthathahhiriina, subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illaa anta, wastaghfiruka wa atubu ilaik

Adapun kesesuaian antara dzikir dan doa ini dengan kondisi setelah wudhu, adalah bahwa wudhu merupakan thaharahnya lahir, sesuai dengan thaharah bathin dengan tauhid dan taubat. Keduanya merupakan thaharah yang paling agung. Maka ketika berkumpul dua jenis thaharah ini, thaharah lahir dengan wudhu, dan thaharah bathin dengan tauhid dan taubat

-selesai nukilan dari Al Mulakhas Al Fiqhiyyah, hal 49, Maktabah Syamilah Android-

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita diantara orang-orang yang senantiasa bersuci.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 17, 2013 in Tak Berkategori

 

Tag: , ,

Tuntunan Praktis Wudhu dan Tayammum

Pembaca yang budiman, diantara syarat sahnya shalat seorang hamba ialah sucinya ia dari najis dan hadats, baik kecil maupun besar. Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu beliau mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak diterima shalat melainkan dalam kondisi suci” (HR Muslim). Oleh karena itulah Allah Ta’ala mensyariatkan thaharah (bersuci) kepada hamba-hambaNya. Pada kesempatan kali ini, akan kami ketengahkan pembahasan ringkas tentang wudhu dan tayammum, insya Allah.

Keutamaan Menyempurnakan Wudhu

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu kemudian ia menyempurnakan wudhunya, kemudian berdoa, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, allahummaj’alni minattawwaabiina waj’alni minal mutathahhiriina’
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 6, 2013 in Islam

 

Tag: , , , ,

Terompah Bilal dan Persahabatan Ala Nabi

hands-come-togtherUstadz Aris Munandar, SS, M.Ag, merupakan ustadz yang telah ma’ruf di kalangan ikhwah salafiyyin. Keseharian beliau mengajar di Pondok Pesantren Taruna Al-Qur’an, dan membina sejumlah majelis ilmu di berbagai masjid di sekitar Kampus UGM. Spesialisasi beliau yang cukup kentara adalah dalam bidang fiqh, terbukti dari sejumlah majelis yang beliau adakan, seperti Kajian Kitab Bulughul Maram, Al-Wajiz fil Fiqh, Taisirul Allam Syarh Umdatul Ahkam, Al-Ilmam fii Ushuulil Ahkam, dan beberapa kajian lain seputar tema fiqh maupun ilmu ushul fiqh.

Diantara keistimewaan beliau dalam mengajar, adalah kemampuan beliau untuk mengetengahkan faidah-faidah hadits yang baru, asing dan belum pernah ditemui oleh peserta kajian. Sore hari kemarin, bertepatan dengan 30 Oktober 2009, selepas Ujian Manajemen konstruksi, saya berkesempatan untuk menghadiri kajian Al-Wajiz Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 30, 2009 in Islam

 

Tag: , , , , ,